Google Ambil Alih Proyek Pusat Data Crusoe di Wyoming
CIANJUR.CO - Crusoe, pengembang pusat data berusia delapan tahun yang berbasis di Denver dan baru-baru ini bernilai US$30,9 miliar, telah menjual proyek pusat data yang belum selesai di tenggara Wyoming kepada Google. Perusahaan mengonfirmasi penjualan tersebut pada Jumat. Google kini mengambil alih pengembangan fasilitas yang sebelumnya dirintis Crusoe.
Peralihan itu terjadi setelah Google, yang sebelumnya pernah diupayakan Crusoe sebagai calon pelanggan proyek tersebut, tidak jadi menjadi pelanggan di bawah pengelolaan Crusoe. Menurut laporan TechCrunch AI, Google dilaporkan menyampaikan kekhawatiran mengenai biaya proyek dan jadwal pembangunannya. Nilai yang dibayarkan Google untuk proyek yang belum rampung itu tidak diungkapkan.
Meski harga pembelian tidak diumumkan, Google menyatakan rencana investasi sebesar US$17 miliar untuk mengembangkan kampus pusat data di Wyoming. Proyek itu pertama kali diumumkan Crusoe pada tahun lalu bersama Tallgrass, perusahaan infrastruktur yang didukung Blackstone. Rencana awalnya adalah meningkatkan kapasitas daya fasilitas tersebut secara bertahap hingga mencapai 10 gigawatt.
Baca juga: Meta Buka Fitur Video Chat dengan Avatar AI Muse untuk Pengguna AS
Penjualan lokasi kepada Google pertama kali dilaporkan Bloomberg pada Juni. Namun, kemunduran proyek Wyoming itu tidak menghentikan Crusoe untuk mencari pendanaan. Pada September, perusahaan tersebut menghimpun dana sebesar US$3,9 miliar. Informasi itu menunjukkan bahwa transaksi di Wyoming berlangsung di tengah kegiatan penggalangan modal Crusoe, bukan mengakhiri seluruh rencana pengembangan perusahaan.
Peralihan pengelolaan proyek ini juga tidak memutus hubungan bisnis Crusoe dengan Google. Crusoe masih mengembangkan pusat data lain untuk Google di dekat Amarillo, Texas. Dengan demikian, Google mengambil alih proyek Wyoming yang terkendala, tetapi kerja sama pengembangan dengan Crusoe tetap berjalan di lokasi berbeda.
Kasus Wyoming menggambarkan tantangan yang dihadapi pengembang pusat data independen ketika menggarap proyek berskala besar. TechCrunch AI menyoroti kesulitan memenuhi jadwal dan anggaran, antara lain karena pengembang perlu mengamankan peralatan serta pasokan listrik. Penolakan yang meningkat dari masyarakat setempat juga dapat menambah kerumitan dalam proses pembangunan. Dalam proyek Wyoming, laporan menyebut perhatian Google tertuju pada ongkos dan tenggat konstruksi saat Crusoe masih mengelola pengembangannya.
Baca juga: Airbnb Siapkan Agen Perjalanan AI untuk Diluncurkan pada Paruh Pertama 2027
Crusoe memperoleh pendapatan melalui beberapa cara yang berkaitan dengan komputasi. Perusahaan menyewakan ruang pusat data kepada pelanggan yang membawa GPU sendiri, menyewakan GPU milik Crusoe, dan menjual daya komputasi untuk menjalankan model kecerdasan buatan. Penggunaan daya komputasi untuk menjalankan model AI itu dikenal sebagai inference.
Sejumlah proyek terbesar Crusoe melayani perusahaan-perusahaan besar di bidang AI. Kampusnya di Abilene, Texas, dibangun dalam beberapa tahap untuk Oracle dan OpenAI. Di sebelahnya, Crusoe juga sedang membangun kampus terpisah berkapasitas 900 megawatt untuk Microsoft. Gedung pertama di kampus Microsoft itu diperkirakan mulai beroperasi pada pertengahan 2027.
Baca juga: Belanja PAC AI Jutaan Dolar Hasilkan Kemenangan dan Kekalahan
Meta juga tercatat sebagai pelanggan Crusoe. Selain itu, Bloomberg melaporkan bahwa Jane Street, perusahaan perdagangan, menandatangani kesepakatan cloud lima tahun senilai US$13 miliar dengan Crusoe. Berbagai proyek dan pelanggan tersebut memperlihatkan cakupan bisnis Crusoe di luar fasilitas Wyoming, yang kini dikembangkan Google.
Crusoe didirikan oleh Chase Lochmiller, yang kini menjabat CEO, bersama Cully Cavness. Pada awalnya, mereka membangun perusahaan sebagai bisnis penambangan mata uang kripto yang menggunakan gas alam yang seharusnya dibakar. Pada September, bersamaan dengan pengumuman pendanaan US$3,9 miliar, Crusoe menambahkan tiga anggota dewan, termasuk JB Straubel, pendiri Redwood Materials dan anggota dewan Tesla. Straubel telah berinvestasi di Crusoe pada 2021. Perusahaan Crusoe kemudian menjadi pelanggan pertama bisnis penyimpanan energi milik Straubel.