Wamendag Dorong FashionLink JFW 2027 Buka Akses Pasar Global
CIANJUR.CO - Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri mendorong FashionLink dalam Jakarta Fashion Week (JFW) 2027 menjadi penghubung antara pelaku fesyen lokal dan pasar yang lebih luas, termasuk pasar global. Menurutnya, penguatan daya saing produk fesyen Indonesia perlu ditopang integrasi dari hulu ke hilir, inovasi berkelanjutan, serta kolaborasi antarpemangku kepentingan.
Pesan tersebut disampaikan Wamendag Roro saat membuka FashionLink JFW 2027 di Jakarta, Senin (26/10). Berdasarkan laporan Kementerian Perdagangan RI yang diterbitkan pada 27 Oktober 2026, ia menilai ajang fesyen dapat menjadi ruang untuk merayakan karya lokal sekaligus mendorong produk Indonesia agar lebih tangguh bersaing di luar negeri.
Roro menyebut setiap busana Indonesia memiliki cerita dan dihasilkan melalui proses panjang. Kreativitas yang dimiliki para pelaku fesyen, menurutnya, perlu mendapat ruang untuk bertemu dengan konsumen dan pembeli. Ia berharap karya berkarakter yang ditampilkan dalam JFW dapat meningkatkan daya saing produk lokal dan memperkuat peluangnya menembus pasar global.
Dalam kesempatan itu, ia mengapresiasi pengembangan platform ritel JFW, termasuk FashionLink dan Dewi’s Luxe Market. Kedua platform tersebut dipandang strategis karena mempertemukan desainer, pelaku usaha, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) secara langsung dengan konsumen atau pembeli. Pertemuan itu diharapkan membuka akses pasar yang lebih luas bagi para pelaku usaha.
Baca juga: TPT Nasional 2026 Turun ke 4,65%, Mendekati Level 1994
Wamendag juga menyambut inisiatif menghadirkan ruang transaksi di dalam gelaran JFW serta dukungan BTN sebagai mitra perbankan. Ia menekankan bahwa dalam perdagangan, nilai sebuah ajang tidak hanya terletak pada penampilan karya. Kepastian pasar dan peluang ekspor yang lebih luas juga perlu hadir agar karya yang diperkenalkan dapat berlanjut ke transaksi.
Kementerian Perdagangan, kata Roro, berkomitmen mendorong daya saing produk nasional melalui pengembangan produk, promosi perdagangan, dan perluasan akses pasar. Ia menyoroti besarnya potensi pasar fesyen dunia: nilai pasar pakaian jadi global diproyeksikan mencapai sekitar USD 1,80 triliun pada 2026.
Di dalam negeri, sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) mencatatkan kinerja positif. Pada Januari–Agustus 2026, ekspor TPT Indonesia mencapai USD 8,15 miliar, dengan surplus perdagangan sebesar USD 2,18 miliar. Pakaian jadi menjadi penyumbang terbesar ekspor TPT, yakni USD 5,90 miliar atau sekitar 72,4 persen dari total. Nilai ekspor pakaian jadi itu tumbuh 2,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca juga: Kemenkes Gelar Cek Kesehatan Gratis bagi Wartawan Senior
Roro menilai capaian tersebut menunjukkan peluang diversifikasi pasar ekspor bagi produk pakaian jadi nasional. Untuk memanfaatkan peluang itu, ia menggarisbawahi perlunya meningkatkan penggunaan bahan baku dalam negeri, mengembangkan desain dan inovasi, memenuhi standar internasional, serta memperkuat kerja sama lintas sektor. Kolaborasi yang dimaksud mencakup industri, desainer, dan UMKM. Dengan langkah tersebut, produk fesyen Indonesia diharapkan bukan hanya dikenal, melainkan juga semakin diminati dan dipercaya konsumen dunia.
Perluasan jejaring internasional JFW turut mendapat apresiasi. Roro mencontohkan kerja sama dengan DORS Singapura yang telah memasuki tahun kedua. Menurutnya, kemitraan itu memperlihatkan bahwa pertukaran kreativitas dapat berkembang menjadi hubungan dagang yang saling menguntungkan. Ia berharap hubungan tersebut berlanjut melampaui pameran atau peragaan busana dan berkembang menjadi kerja sama bisnis jangka panjang yang memberi kesempatan nyata bagi desainer serta pelaku usaha nasional.
Chairman of Jakarta Fashion Week Svida Alisjahbana menjelaskan, salah satu wujud sinergi yang telah berjalan adalah terbentuknya Jakarta Fashion Force. Inisiatif tersebut membantu desainer meningkatkan kapasitas hingga dapat mengikuti pameran di luar negeri. Svida mengatakan, melalui pameran itu para desainer memperoleh pembeli, dan sebagian besar di antaranya mendapatkan pesanan berulang.
Baca juga: Sugiono Tekankan Pelayanan Jemaah dalam Pembenahan Tata Kelola Haji
Dukungan di JFW 2027 juga datang dari BTN. Corporate Secretary BTN Ramon Armando mengatakan keterlibatan bank tersebut bukan semata sarana memperkuat merek, tetapi juga bentuk dukungan terhadap pertumbuhan industri kreatif nasional melalui kolaborasi dengan desainer dan pelaku UMKM. BTN ingin memperkuat posisinya sebagai bank yang modern dan adaptif sekaligus mendorong UMKM berkembang serta memiliki daya saing.
Dari sisi pelaku usaha, Founder & Creative Director VAIA Affania Fariza menyebut JFW penting bagi desainer dan pemilik jenama fesyen. Bagi VAIA, panggung JFW 2027 bukan hanya tempat menampilkan karya, tetapi juga platform untuk menunjukkan daya saing industri kreatif Indonesia di tingkat global. Affania berharap ajang tersebut dapat membuka akses ekspor yang lebih luas dan menghubungkan pelaku usaha lokal dengan pembeli internasional secara lebih tepat.