UPDATE

General Compute Raih Pendanaan Seri A US$100 Juta

27/10/2026 20:07

CIANJUR.CO - General Compute menggalang US$100 juta dalam pendanaan Seri A dengan mengandalkan strategi yang berbeda dari banyak penyedia komputasi awan untuk kecerdasan buatan (AI). Perusahaan itu membangun cloud menggunakan chip khusus inferensi dari pemasok di luar ekosistem Nvidia, sementara perusahaan lain banyak mengejar GPU.

Menurut laporan TechCrunch AI, pendanaan tersebut dipimpin Blackbird Ventures dan Abstract Ventures. Jalan menuju putaran dana ini terbuka setelah General Compute memperoleh kesepakatan dengan pelanggan besar senilai US$100 juta dalam pendapatan berulang tahunan. Setelah bernilai US$60 juta usai putaran pendanaan awal pada Mei, perusahaan itu kini memiliki valuasi pascapendanaan sebesar US$800 juta.

Pengumuman tersebut datang ketika bisnis neocloud sedang menghadapi sorotan dan kekhawatiran pasar. CoreWeave, perusahaan neocloud terbuka yang menyewakan daya komputasi untuk AI, mencatat harga saham di titik terendah dalam 12 bulan. Elon Musk juga menyatakan memiliki utang US$40 miliar untuk membeli kapasitas komputasi dan memperkirakan “200+ neoclouds are going to see guppy-level death and consolidation.”

Finn Puklowski, salah satu pendiri sekaligus CEO General Compute, tidak gentar oleh situasi itu. Ia justru optimistis terhadap peluang CoreWeave. Puklowski menilai Musk mungkin sedang berbicara untuk kepentingannya sendiri, yakni menekan harga GPU yang ingin dibeli. Ia juga menyebut kekhawatiran bahwa persaingan chip akan menyebabkan keruntuhan pasar sebagai sesuatu yang “massively overstated.”

Baca juga: Opera Perkenalkan WebAI untuk Menjalankan Model AI Langsung di Browser

Alasan Puklowski tetap melihat permintaan adalah adanya pihak yang terus mencari tambahan kapasitas. Ia mengatakan setiap pekan ada orang yang menghubunginya untuk meminta komputasi dengan TPU, GPU, atau chip apa pun yang tersedia. Selain itu, menurutnya, dokumen S-1 Anthropic yang optimistis turut “settling fears for today.” Kedua hal tersebut menjadi bagian dari pandangannya di tengah kekhawatiran mengenai masa depan penyedia komputasi AI.

General Compute memusatkan usahanya pada chip yang dibuat untuk inferensi, yakni tahap penggunaan model AI. Perusahaan sebelumnya membuat kesepakatan senilai US$400 juta untuk membeli chip baru dari SambaNova. TechCrunch AI menyebut transaksi itu sebagai pembiayaan utang pertama untuk chip inferensi. General Compute kemudian menambahkan Positron dan Cerebras ke dalam daftar pemasok chipnya.

Pilihan perangkat tersebut berjalan beriringan dengan cara perusahaan membangun infrastrukturnya. Alih-alih membuat pusat data besar dari awal, General Compute memakai sumber daya listrik yang lebih kecil, menyewa ruang di pusat data milik perusahaan lain, dan mengubah lokasi bekas penambangan bitcoin menjadi tempat untuk menjalankan model AI. Dengan pendekatan itu, perusahaan memanfaatkan lokasi dan fasilitas yang tersedia, bukan hanya mengandalkan pembangunan pusat data baru.

Strategi tersebut juga menentukan batas pertumbuhan yang diakui dalam laporan. General Compute tidak akan segera melesat ke jajaran teratas neocloud atau bersaing dengan hyperscaler. Namun, perusahaan tidak menghadapi kendala yang sama seperti penyedia yang harus membangun pusat data dari nol. Puklowski menyampaikan bahwa ketika General Compute memiliki chip, perusahaan akan mempunyai tempat untuk memasangnya.

Baca juga: Nvidia Investasi US$14 Juta di Simplismart, Startup AI India

Untuk 2027, Puklowski memperkirakan General Compute akan mengerahkan kapasitas komputasi sebesar 75 megawatt. Ia juga menduga perusahaan akan memiliki akses terhadap daya sebesar 200 megawatt. Jumlah itu, menurutnya, “more than we can probably fund and get hardware for.” Dengan demikian, perkiraan akses daya tersebut lebih besar daripada kapasitas yang mungkin dapat dibiayai dan dilengkapi perangkat keras oleh perusahaan.

Pendanaan tetap menjadi pekerjaan yang harus ditangani Puklowski setelah putaran Seri A. Ia mengatakan kepada TechCrunch bahwa “capital is going to be a full-time job for me, both on debt and equity.” Pernyataan itu merujuk pada kebutuhan mencari modal melalui utang maupun ekuitas. Sementara itu, kesepakatan pembelian chip SambaNova senilai US$400 juta sebelumnya juga disebut sebagai pembiayaan utang untuk perangkat inferensi.

Di sisi pelanggan, General Compute bekerja dengan perusahaan cloud yang berfokus menawarkan inferensi berkecepatan tinggi kepada pengembang. Perusahaan menyediakan bare metal, yaitu server mentah tanpa perangkat lunak yang dilapiskan di atasnya. Pelanggan menggunakan infrastruktur tersebut untuk membawa layanan mereka ke pasar. Dengan begitu, General Compute memasok infrastruktur bagi penyedia cloud inferensi, bukan perangkat lunak yang menjadi lapisan layanan mereka.

Baca juga: OpenAI Hadirkan dots, Asisten AI yang Bekerja di Latar Belakang

James Palmer, prinsipal Blackbird yang ikut memimpin putaran pendanaan, mengatakan keyakinan firmanya terhadap General Compute antara lain berkaitan dengan investasi mereka di Baseten, perusahaan cloud inferensi. Palmer menjelaskan bahwa Blackbird telah mengikuti perjalanan Baseten selama 10 bulan terakhir. Dalam periode itu, mereka mengamati pertumbuhan pesat serta permintaan terhadap inferensi open weight dan perusahaan yang memiliki kecerdasan mereka sendiri.

Pengalaman tersebut memberi Blackbird kedekatan dengan perkembangan yang menjadi latar bagi minatnya terhadap General Compute. Palmer juga mengatakan Cerebras, Positron, dan SambaNova membutuhkan mitra distribusi yang mampu membawa mereka ke skala lebih besar serta menavigasi kerumitan dunia fisik. Peran General Compute, dengan infrastruktur yang disediakan bagi perusahaan cloud, berada pada jalur distribusi yang dinilai penting oleh Palmer.

Para eksekutif dari ketiga pemasok chip itu juga menyampaikan pandangan positif mengenai General Compute kepada TechCrunch, dengan menyoroti perhatian perusahaan pada kelayakan ekonomi komputasi cloud AI. Rodrigo Liang, CEO sekaligus salah satu pendiri SambaNova, mengatakan bahwa “Everyone in this market is selling speed.” Ia kemudian menekankan pertanyaan yang menurutnya lebih penting: “The real question is whether you can make money doing it.”