GMO Internet Selidiki Dugaan Kebocoran Data Pelanggan Onamae
CIANJUR.CO - GMO Internet, perusahaan internet asal Jepang, tengah menyelidiki dugaan kebocoran data setelah sistem layanan Onamae Desktop Cloud diakses tanpa izin. Perusahaan mengatakan informasi yang diduga berkaitan dengan pelanggan dan bisnisnya telah dipublikasikan oleh pihak yang dicurigai sebagai pelaku. Namun, keaslian materi tersebut masih diperiksa dan skala lengkap insiden belum diketahui.
Onamae merupakan layanan desktop berbasis cloud yang menyediakan desktop virtual bagi para trader keuangan. Dugaan akses tanpa izin pada layanan tersebut kini diikuti laporan mengenai operasi yang tidak sah pada sejumlah akun trading pelanggan. GMO Internet meminta para pelanggan mengganti kata sandi sebagai langkah pengamanan di tengah penyelidikan.
Berdasarkan laporan TechCrunch AI, perusahaan memperkirakan hingga 27.000 server mungkin terdampak pelanggaran keamanan itu. Angka tersebut masih berupa kemungkinan yang disampaikan GMO Internet, bukan jumlah server yang telah dipastikan mengalami dampak. Perusahaan juga belum mengonfirmasi bahwa informasi yang beredar benar-benar merupakan data pelanggan atau data bisnisnya.
Baca juga: General Compute Raih Pendanaan Seri A US$100 Juta
GMO Internet menyampaikan melalui blog perusahaan bahwa mereka meyakini penyerang telah menerbitkan informasi yang diduga terkait dengan pelanggan maupun kegiatan bisnis. Meski demikian, pemeriksaan masih berlangsung. Seorang juru bicara GMO Internet tidak menanggapi permintaan komentar dari TechCrunch AI, sehingga belum ada keterangan tambahan dari perusahaan melalui permintaan tersebut.
Kronologi penanganan insiden
Rangkaian penanganan dimulai pada 21 Oktober. Pada hari itu, GMO Internet menutup layanan Onamae Desktop Cloud setelah mengetahui adanya akses tanpa izin ke sistemnya. Perusahaan juga menerima surel dari peretas yang meminta sekitar 8 miliar yen, atau setara kira-kira 50 juta dolar AS.
Sehari kemudian, 22 Oktober, perusahaan melaporkan insiden tersebut kepada kepolisian Jepang dan menyampaikan pembaruan publik lainnya. Langkah itu berlangsung ketika dugaan akses ilegal masih diselidiki. Pada 24 Oktober, GMO Internet mengatakan akan memberikan kompensasi kepada pelanggan serta menyediakan layanan alternatif, sembari meminta bantuan dari lembaga pemerintah.
Baca juga: Opera Perkenalkan WebAI untuk Menjalankan Model AI Langsung di Browser
Pada 25 hingga 26 Oktober, perusahaan mulai mengumpulkan perangkat milik pelanggan. Perangkat tersebut akan diperiksa untuk mendeteksi malware dan membantu GMO Internet memahami dampak insiden dengan lebih baik. Selanjutnya, pada 27 Oktober, perusahaan menyampaikan bahwa pihak yang dicurigai sebagai penyerang telah mengunggah informasi yang tampak berkaitan dengan perusahaan dan pelanggannya. GMO Internet menegaskan bahwa pemeriksaan untuk memastikan keaslian informasi itu masih berjalan.
Kaitan dengan alat pengujian keamanan masih belum dipastikan
Insiden Onamae terjadi sekitar sepekan setelah unit keamanan siber GMO Internet secara terpisah melaporkan temuan bukti penggunaan Artex. Alat pengujian penetrasi berbasis kecerdasan buatan itu disebut digunakan dalam peretasan yang menargetkan sejumlah perusahaan di Jepang. Namun, perusahaan belum menyatakan secara terbuka adanya hubungan antara Artex dan pembobolan layanan Onamae.
Menurut laporan CrowdStrike yang dikutip awal bulan ini, Artex juga digunakan untuk meretas lembaga keuangan di Korea Selatan pada September. Serangan-serangan tersebut sebagian besar mengandalkan kelemahan kontrol keamanan, termasuk tidak adanya autentikasi multifaktor. Informasi itu berkaitan dengan pola serangan yang dilaporkan, tetapi tidak menetapkan penyebab akses tanpa izin terhadap Onamae.
Baca juga: Nvidia Investasi US$14 Juta di Simplismart, Startup AI India
Pengembang Artex yang berasal dari China kemudian menghentikan pembaruan publik dan menjadikan alat keamanan berbasis AI tersebut bersifat tertutup setelah dikaitkan dengan serangan siber terhadap bank, menurut Reuters. Meski ada laporan penggunaan alat itu dalam serangan di Jepang dan Korea Selatan, hubungan langsungnya dengan insiden GMO Internet belum diumumkan.
Di tengah perhatian terhadap kerentanan siber, seorang juru bicara Badan Layanan Keuangan Jepang (FSA) mengatakan kepada TechCrunch AI bahwa regulator telah mengeluarkan panduan pada Mei. Panduan itu meminta lembaga keuangan bersiap menghadapi peningkatan kerentanan keamanan siber. FSA mendorong penguatan perlindungan dasar, termasuk pengelolaan kerentanan, pertahanan berlapis, dan kesiapan menghadapi insiden. Regulator juga mendorong perusahaan menggunakan AI serta perangkat keamanan lainnya.