UPDATE

Pemerintah Perkuat Data Industri untuk Petakan Sumber Pertumbuhan Ekonomi

27/10/2026 10:35

CIANJUR.CO - Pemerintah menjajaki penyempurnaan pencatatan statistik industri agar sumber pertumbuhan ekonomi dapat dikenali dengan lebih baik dan kebijakan yang disusun lebih tepat sasaran. Pembahasan ini berlangsung menjelang rilis statistik pertumbuhan ekonomi triwulan III 2026 yang dijadwalkan pada awal November mendatang.

Berdasarkan laporan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo membicarakan langkah tersebut dalam pertemuan dengan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) dan Menteri Perindustrian di Jakarta, Senin (26/10). Pertemuan itu berfokus pada penjajakan kerja bersama untuk memperbaiki pencatatan statistik, sehingga data yang digunakan dalam melihat perkembangan ekonomi dapat diselaraskan.

Penguatan data menjadi bagian dari upaya pemerintah menggali sumber pertumbuhan ke depan, termasuk dari industri dan sektor-sektor yang mendukungnya. Penyelarasan diperlukan untuk membangun satu data nasional. Data tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dalam membaca perkembangan ekonomi, mengidentifikasi potensi pertumbuhan, serta menentukan intervensi kebijakan yang diperlukan.

Baca juga: Wamendag Dorong FashionLink JFW 2027 Buka Akses Pasar Global

Dradjad menyebut beberapa sumber pertumbuhan industri yang dapat didorong, antara lain makanan dan minuman atau mamin serta sektor agro. Potensi itu, menurut dia, dapat berada di kawasan industri maupun kawasan berikat. Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangan pers setelah rapat bersama Menteri Perindustrian. Pembahasan sumber pertumbuhan itu menjadi salah satu bagian dari upaya mencari ruang pengembangan kegiatan industri.

Dalam melihat potensi ekonomi, pemerintah juga menaruh perhatian pada peran daerah. Dradjad menekankan bahwa pertumbuhan dapat didorong melalui investasi dan penguatan kegiatan ekonomi yang sesuai dengan karakteristik masing-masing daerah. Dengan demikian, pencatatan statistik tidak hanya berkaitan dengan gambaran umum perkembangan industri, tetapi juga dapat membantu mengenali potensi yang tumbuh di wilayah dengan kondisi berbeda.

Data, menurut Dradjad, perlu dihubungkan dengan kebijakan agar dapat membantu menemukan persoalan dan menentukan intervensi yang sesuai. Ia juga menyoroti fungsi data dalam membentuk narasi, persepsi, dan kepercayaan terhadap kondisi perekonomian. Aspek yang perlu dilihat antara lain perkembangan daya beli masyarakat dan peluang industrialisasi. Karena itu, penyelarasan pencatatan menjadi penting sebagai landasan untuk menilai kondisi dan merumuskan respons, bukan sekadar menghimpun angka statistik.

Baca juga: TPT Nasional 2026 Turun ke 4,65%, Mendekati Level 1994

Dari sisi kegiatan usaha, Dradjad menyampaikan bahwa aktivitas sektor industri beserta sektor pendukungnya menunjukkan peningkatan. Perkembangan tersebut menjadi salah satu indikasi untuk mengidentifikasi peluang ekspansi industri ke depan. Ia juga melihat momentum peningkatan permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru sebagai peluang bagi industri untuk mendorong aktivitasnya.

Salah satu upaya yang disebut dapat ditempuh ialah meningkatkan utilisasi industri, sehingga kapasitas yang tersedia bisa dimanfaatkan lebih optimal. Dradjad mengaitkan pendekatan ini dengan intensifikasi di sektor pertanian. Ia menjelaskan bahwa intensifikasi pertanian, perbaikan air, serta pupuk dan upaya lainnya telah meningkatkan pertumbuhan sektor pertanian secara cukup signifikan. Menurutnya, pendekatan intensifikasi juga dapat diterapkan di industri melalui peningkatan utilisasi.

“Di industri, ini juga intensifikasi industri melalui itu tadi, peningkatan utilisasi. Insyaallah ini akan bisa kita dorong,” kata Dradjad. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa optimalisasi kapasitas dipandang sebagai salah satu cara untuk merespons peluang permintaan dan mendorong pertumbuhan kegiatan industri.

Baca juga: Kemenkes Gelar Cek Kesehatan Gratis bagi Wartawan Senior

Sejumlah pejabat turut hadir dalam pertemuan itu, di antaranya Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji dan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti. Hadir pula Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Eko S. A. Cahyanto, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kemenko Perekonomian Ferry Irawan, serta Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M. Habibullah.

Peserta lainnya ialah Asisten Deputi Pengembangan Industri Agro, Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kemenko Perekonomian Eripson Mangasi Hamonangan Sinaga, bersama pejabat terkait lainnya dari Kementerian Perindustrian dan BPS. Pertemuan lintas lembaga tersebut membahas penyempurnaan pencatatan statistik industri dalam kaitannya dengan pemetaan sumber pertumbuhan dan penyusunan kebijakan ekonomi.