UPDATE

Indonesia-AS Perkuat Kemitraan Ekonomi, Airlangga Dorong Investasi Bernilai Tambah

27/10/2026 21:09

CIANJUR.CO - Indonesia dan Amerika Serikat berupaya memperkuat kemitraan ekonomi melalui peningkatan perdagangan, perluasan investasi, serta pengembangan sektor strategis. Pemerintah Indonesia mendorong agar prioritas pertumbuhan ekonomi diterjemahkan menjadi peluang usaha konkret yang memberi nilai tambah dan memperkuat hubungan industri kedua negara.

Dalam pertemuan bertema Indonesia-US Economic Partnership: Turning Growth Priorities into Concrete Business Opportunities di Jakarta, Selasa (27/10), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bertemu Ambassador Brian D. McFeeters, President and CEO of the US-ASEAN Business Council (US-ABC). Berdasarkan laporan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, forum tersebut juga menjadi tempat bagi delegasi US-ABC menyampaikan perkembangan kegiatan usaha dan tantangan yang dialami perusahaan Amerika Serikat di Indonesia.

Airlangga menyebut nilai perdagangan bilateral Indonesia-AS pada Januari hingga Agustus 2026 mencapai USD32,34 miliar. Angka itu tumbuh 11,82 persen secara tahunan atau hampir 12 persen. Amerika Serikat juga tercatat sebagai tujuan ekspor terbesar kedua bagi Indonesia.

“Indonesia menyambut baik dengan perdagangan bilateral yang dari Januari hingga Agustus meningkat menjadi USD32,34 miliar, sehingga tumbuh hampir 12 persen,” ujar Airlangga dalam pertemuan tersebut. Ia juga menyampaikan apresiasi atas investasi Amerika Serikat yang meningkat dan menempatkan negara itu sebagai salah satu investor terbesar di Indonesia.

Investasi AS pada triwulan I hingga triwulan III 2026 tercatat sebesar USD3,4 miliar. Nilai tersebut meningkat dibandingkan sekitar USD3 miliar pada 2025 dan menjadikan Amerika Serikat investor asing terbesar keempat di Indonesia. Dalam pernyataannya, Airlangga menyebut capaian investasi itu sebagai perkembangan positif dalam hubungan ekonomi kedua negara.

Baca juga: Wamendag Roro Ungkap Tiga Bekal UMKM Hadapi Era Digital

Delegasi US-ABC yang hadir mewakili sejumlah bidang usaha, antara lain teknologi digital, manufaktur, kesehatan, produk konsumen, dan kedirgantaraan. Masukan mereka mengenai perkembangan operasional serta hambatan perusahaan menjadi bagian pembahasan dengan pemerintah. Dengan mendengar tantangan dari perusahaan yang telah beroperasi di Indonesia, pemerintah membuka ruang agar persoalan tersebut dapat ditindaklanjuti bersama kementerian dan lembaga terkait.

Airlangga menjelaskan bahwa pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 8 persen pada 2029 melalui delapan strategi utama. Agenda tersebut mencakup swasembada pangan, industrialisasi berorientasi ekspor, pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif, ekonomi hijau dan biru, pembangunan perkotaan, transformasi digital, investasi, serta belanja pemerintah yang produktif.

Pelaksanaan strategi pertumbuhan itu, menurut Airlangga, ditopang deregulasi dan kebijakan fiskal serta moneter yang sehat. Sejumlah agenda tersebut sekaligus membuka peluang investasi pada sektor manufaktur, teknologi digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta energi. Pemerintah menginginkan kemitraan yang tidak hanya menghadirkan modal, tetapi juga membawa teknologi dan keahlian.

Penguatan keterkaitan dengan industri domestik menjadi salah satu perhatian dalam mendorong investasi. Pemerintah mendorong peningkatan kapasitas industri manufaktur dan pengembangan rantai pasok nasional, sehingga kerja sama dengan perusahaan Amerika Serikat dapat terkait dengan kegiatan industri di dalam negeri. Arah itu sejalan dengan dorongan investasi bernilai tambah yang disampaikan dalam pertemuan.

Baca juga: Pemerintah Jaga Daya Beli dan Stabilitas Ekonomi di Tengah Dinamika Global

Salah satu bidang yang dibahas ialah semikonduktor. Airlangga menyampaikan bahwa pasar semikonduktor diperkirakan tumbuh dari USD5,08 miliar pada 2025 menjadi USD7,07 miliar pada 2030. Perkiraan tersebut menjadi salah satu peluang untuk memperkuat kerja sama industri dan teknologi, termasuk melalui kemitraan yang dapat mendukung peningkatan kemampuan industri domestik.

Untuk menjaga kelancaran kegiatan usaha dan meningkatkan daya tarik investasi, Airlangga menekankan perlunya debottlenecking, yakni penyelesaian berbagai hambatan yang dihadapi pelaku usaha. Pemerintah Indonesia, kata dia, terbuka menerima penyampaian kendala dari perusahaan-perusahaan AS yang menjalankan kegiatan di Indonesia. Persoalan yang disampaikan dapat dikoordinasikan dengan kementerian dan lembaga terkait untuk ditindaklanjuti.

Pembahasan juga mencakup isu perdagangan yang masih menjadi perhatian kedua negara, termasuk Section 301 dan excess capacity. Pemerintah Indonesia berharap proses pembahasan atas isu-isu tersebut dapat memberikan kejelasan. Kejelasan itu diharapkan mendukung keberlanjutan perdagangan sekaligus penguatan rantai pasok Indonesia dan Amerika Serikat.

Airlangga menyebut kesepakatan yang dibahas diharapkan menghasilkan nilai sekitar USD33 miliar. Ia berharap nilai tersebut dapat mendukung berbagai sektor, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat rantai pasok antara kedua negara. Menurutnya, perusahaan dari berbagai industri yang sebagian besar telah berdiri di Indonesia dapat menyampaikan permintaan maupun tantangan yang mereka hadapi.

Baca juga: Pemerintah Percepat Reformasi Pasar Modal, Free Float Minimum 15 Persen

“Kami terbuka bagi seluruh industri yang sebagian besar memang sudah berdiri di Indonesia. Jadi, jika Anda memiliki permintaan lain atau menghadapi tantangan tertentu, mari kita coba cari solusinya bersama,” kata Airlangga. Ia menyampaikan harapan agar pembahasan dan koordinasi dapat membantu mencari jalan keluar bagi kebutuhan pelaku usaha.

Turut hadir dalam pertemuan itu Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso; Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kemenko Perekonomian Ferry Irawan; Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kemenko Perekonomian Edi Prio Pambudi; serta Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian Ali Murtopo Simbolon.

Hadir pula Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kemenko Perekonomian Elen Setiadi, CEO of Citibank Indonesia sekaligus Chair of the US-ASEAN Business Council Indonesia Committee Batara Sianturi, pimpinan US-ABC, serta perwakilan perusahaan. Pertemuan tersebut membahas peluang kerja sama, masukan dunia usaha, dan isu perdagangan dalam kerangka penguatan kemitraan ekonomi Indonesia-AS.