UPDATE

Indonesia-Turki Jajaki PTA untuk Perkuat Perdagangan dan Investasi

02/11/2026 19:43

CIANJUR.CO - Indonesia dan Turki menjajaki penguatan kerja sama perdagangan melalui Preferential Trade Agreement (PTA). Penjajakan tersebut ditujukan untuk memperluas akses pasar sekaligus mempererat hubungan ekonomi kedua negara. Peluang perdagangan produk yang saling melengkapi, penguatan rantai pasok industri, investasi, dan kemitraan dunia usaha menjadi bagian dari pembahasan.

Berdasarkan laporan Kementerian Perdagangan RI, pembicaraan itu berlangsung dalam pertemuan bilateral Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri dengan Menteri Perdagangan Turki Ömer Bolat di Istanbul, Turki, Minggu (1/11). Pertemuan digelar di sela-sela kegiatan B57+ Business Leaders’ Summit 2026. Informasi tersebut disampaikan dari Istanbul pada 2 November 2026.

Pertemuan itu menjadi momentum untuk mendorong hubungan ekonomi Indonesia-Turki ke arah kerja sama yang lebih konkret. Kementerian Perdagangan RI menyebut upaya tersebut sejalan dengan hubungan baik Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan. Hubungan di tingkat pemimpin negara dinilai dapat dimanfaatkan untuk membuka ruang kerja sama, khususnya di bidang perdagangan dan investasi.

Dalam pertemuan tersebut, Wamendag Roro didampingi Konsul Jenderal RI di Istanbul Darianto Harsono, Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Luar Negeri KADIN Indonesia Bernardino Vega, serta Direktur Perundingan Bilateral Basaria Tiara L. Gaol. Kehadiran perwakilan pemerintah dan KADIN mendampingi pembahasan yang mencakup peluang kerja sama antarpelaku usaha, selain agenda perdagangan bilateral.

Baca juga: Kemenko PMK Dorong Forum PRB Perkuat Surveilans Zoonosis

Roro menyampaikan bahwa Indonesia terbuka menjajaki berbagai peluang yang memberi manfaat bagi kedua negara. Ia juga berharap nilai perdagangan bilateral Indonesia dan Turki terus meningkat hingga mencapai USD 10 miliar. Menurutnya, pertemuan di Istanbul diharapkan menjadi langkah awal untuk menindaklanjuti peluang perdagangan dan investasi, termasuk penjajakan PTA serta peningkatan komunikasi di antara pelaku usaha.

Penjajakan PTA, jelas Roro, dapat menjadi salah satu cara untuk mempererat hubungan perdagangan. Pendekatan yang ditempuh secara bertahap memungkinkan kedua negara mengidentifikasi kepentingan bersama dan peluang yang dapat dikembangkan. Proses tersebut, menurutnya, tetap perlu memperhatikan kesiapan serta kepentingan masing-masing pihak. Dengan demikian, pembicaraan mengenai PTA ditempatkan sebagai bagian dari upaya mencari ruang kerja sama yang sesuai bagi Indonesia maupun Turki.

Ömer Bolat menyambut baik upaya untuk memperkuat hubungan ekonomi kedua negara. Menteri Perdagangan Turki itu menekankan pentingnya kerja sama perdagangan yang turut memperhatikan keberlanjutan industri dalam negeri dan penciptaan lapangan kerja. Dalam kaitan tersebut, perdagangan produk yang saling komplementer dinilai dapat membuka peluang bagi hubungan ekonomi yang lebih seimbang.

Menanggapi pembahasan itu, Roro menyoroti potensi Indonesia sebagai pemasok bahan baku dan barang antara bagi industri Turki. Pasokan tersebut dapat menunjang proses produksi dan pengembangan produk bernilai tambah di Turki, termasuk produk yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor. Dengan menghubungkan kebutuhan pasokan dan kegiatan industri, perdagangan diharapkan tidak berhenti pada transaksi antarnegara.

Baca juga: Kemendag Ajak Mahasiswa IPB Kembangkan Produk Lokal untuk Ekspor

“Indonesia memiliki potensi untuk menjadi mitra pemasok bahan baku dan barang antara bagi industri Turki,” ujar Roro. Ia melihat peluang memperkuat keterhubungan rantai pasok kedua negara sehingga kerja sama perdagangan juga dapat mendukung kegiatan produksi dan penciptaan nilai tambah. Pernyataan tersebut menegaskan salah satu bentuk hubungan komplementer yang dibahas dalam pertemuan: pasokan dari Indonesia dapat digunakan untuk mendukung industri Turki.

Di luar perdagangan barang, kedua pihak turut menjajaki peningkatan investasi secara resiprokal. Peluang yang dibicarakan mencakup investasi Turki di Indonesia maupun investasi Indonesia di Turki. Kerja sama timbal balik tersebut diharapkan mendorong kemitraan industri dan kolaborasi di sektor-sektor potensial, sekaligus memperluas kesempatan usaha dan penciptaan lapangan kerja di kedua negara.

Peran dunia usaha juga menjadi perhatian dalam pembahasan. Roro menilai pelaku usaha perlu dilibatkan untuk mengoptimalkan peluang perdagangan dan investasi. KADIN Indonesia, yang hadir dalam pertemuan, mendorong penguatan komunikasi dengan mitra usaha Turki agar peluang bisnis dapat diidentifikasi dan dikembangkan menjadi kemitraan yang konkret.

Baca juga: Kemenkes Soroti Kekosongan Tenaga Kesehatan di 38 Persen Puskesmas

Salah satu gagasan yang disampaikan dalam pertemuan ialah pembentukan High Level Business Council. Wadah tersebut diusulkan untuk memperkuat keterlibatan pelaku usaha dalam mengembangkan kerja sama ekonomi Indonesia dan Turki. Gagasan ini melengkapi pembahasan peningkatan komunikasi antarpelaku usaha, yang diharapkan dapat membantu mempertemukan peluang bisnis dengan kebutuhan pasar.

“Pemerintah perlu berjalan bersama dunia usaha dalam mengembangkan hubungan ekonomi bilateral,” kata Roro. Ia menambahkan, komunikasi intensif antarpelaku usaha dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan pasar, mempertemukan peluang bisnis, serta mendorong kerja sama yang memberikan manfaat nyata bagi kedua negara. Dengan demikian, keterlibatan pemerintah dan dunia usaha dipandang sebagai bagian dari upaya menindaklanjuti peluang yang dibahas.

Roro juga menyampaikan kesiapan Indonesia memperkuat kerja sama dengan Turki dalam perdagangan dan kemitraan ekonomi antarnegara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Indonesia memandang hubungan dengan Turki berpotensi turut mendukung penguatan kerja sama ekonomi di antara anggota OKI. Hal ini menjadi bagian dari cakupan hubungan bilateral yang dibahas, di samping penjajakan PTA, rantai pasok, investasi, dan kemitraan usaha.