UPDATE

Kemendag Ajak Mahasiswa IPB Kembangkan Produk Lokal untuk Ekspor

31/10/2026 18:41

CIANJUR.CO - Kementerian Perdagangan mengajak mahasiswa IPB University, Bogor, Jawa Barat, untuk mulai membangun usaha dan mengembangkan produk lokal agar berpeluang menembus pasar global. Ajakan itu disampaikan sebagai bagian dari Program Campuspreneur, yang diarahkan untuk membangun ekosistem kewirausahaan di perguruan tinggi sekaligus memperkuat kontribusi generasi muda terhadap pengembangan ekspor nasional.

Berdasarkan laporan Kementerian Perdagangan RI, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag, Johni Martha, menyampaikan dorongan tersebut di Jakarta, Sabtu (31/10). Ia menjadi narasumber Kuliah Umum dan Lokakarya Pengembangan Ekspor Produk Agribisnis yang berlangsung di Auditorium Kemendag pada 31 Oktober 2026. Kegiatan itu diikuti lebih dari 185 mahasiswa dan dosen Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University.

Johni menjelaskan, Campuspreneur mendorong mahasiswa memulai pengembangan ide dan potensi bisnis sejak masih menempuh pendidikan. Dukungan Kemendag, menurut dia, mencakup beberapa tahapan penting: peningkatan kualitas produk, pengemasan, dan pembentukan merek, serta upaya menghubungkan produk dengan calon pembeli dan pasar ekspor. Dengan demikian, perhatian program tidak hanya tertuju pada gagasan usaha, tetapi juga pada kesiapan produk untuk dipasarkan.

“Melalui Campuspreneur, Kemendag ingin mendorong mahasiswa untuk mengembangkan ide dan potensi bisnis sejak di bangku kuliah,” ujar Johni. Ia menyebut pendampingan dapat berlangsung dari peningkatan mutu hingga pengemasan dan branding, termasuk membantu mempertemukan produk dengan calon buyer. Dorongan tersebut menempatkan persiapan usaha sejak masa kuliah sebagai bagian dari upaya memperluas produk lokal ke pasar internasional.

Campuspreneur dan akses pasar

Johni juga mengaitkan komitmen program dengan hasil yang dicatat dalam Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41. Pameran itu berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten. Sebanyak 25 usaha kecil dan menengah dari 20 perguruan tinggi peserta Campuspreneur mencatatkan potensi transaksi sebesar USD 24,57 juta. Dari nilai tersebut, USD 21,46 juta telah ditindaklanjuti melalui letter of intent (LoI).

Baca juga: Kemenkes Soroti Kekosongan Tenaga Kesehatan di 38 Persen Puskesmas

Angka itu menunjukkan potensi transaksi yang dihimpun peserta program dalam pameran, sementara tindak lanjut melalui LoI merupakan bagian yang sudah tercatat setelahnya. Kemendag menjadikan keterlibatan usaha dari perguruan tinggi tersebut sebagai cerminan dukungan terhadap mahasiswa dan pelaku usaha muda dalam memperkenalkan produk. Keterangan mengenai transaksi itu disampaikan Johni dalam menjelaskan keterkaitan Campuspreneur dengan upaya pengembangan ekspor.

Campuspreneur berada dalam program prioritas Kemendag bertajuk Dari Lokal untuk Global. Program tersebut menghubungkan penguatan usaha di dalam negeri dengan perluasan akses ke pasar internasional. Pendekatan serupa juga dijalankan melalui Usaha Mikro Kecil Menengah Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor), Desa BISA Ekspor, dan Kemitraan UMKM.

Melalui berbagai program itu, pelaku usaha didorong meningkatkan kesiapan produk dan daya saing, sekaligus memanfaatkan jejaring perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri. Kemendag juga memperluas akses pasar dengan berbagai perjanjian perdagangan internasional. Hingga saat ini, Indonesia memiliki 25 perjanjian yang telah berlaku atau entry into force, dua perjanjian dalam proses ratifikasi, serta 13 perjanjian yang masih dalam tahap perundingan.

Johni mengingatkan bahwa peluang yang terbuka melalui perjanjian perdagangan perlu diikuti kesiapan pelaku usaha. Persiapan itu meliputi pemenuhan standar, penjagaan kualitas, dan pemahaman terhadap ketentuan di negara tujuan. Mahasiswa yang mulai merintis usaha, katanya, perlu mengenali peluang pasar global sejak awal dan menyiapkan produknya supaya mampu bersaing.

Baca juga: Kemenkes Dorong Akses Kesehatan Luas dan Kompetensi Nakes

“Peluang tersebut perlu diikuti kesiapan pelaku usaha dalam memenuhi standar, menjaga kualitas, dan memahami ketentuan pasar tujuan,” kata Johni. Ia menekankan pentingnya kesiapan tersebut bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan usaha, sehingga pengenalan terhadap pasar tujuan dan persyaratannya menjadi bagian dari proses membangun produk untuk ekspor.

Wawasan agribisnis dan pengalaman mahasiswa

Ketua Program Studi Doktor Sains Agribisnis, Bayu Krisnamurthi, mengapresiasi Kemendag dan para narasumber yang memberi mahasiswa kesempatan untuk mengenal perdagangan secara langsung. Ia menilai kunjungan ke Kemendag menjadi pengayaan wawasan di luar perkuliahan. Bayu menyampaikan terima kasih atas pengalaman dan pengetahuan yang dibagikan kepada mahasiswa, serta menyebut kehadiran langsung di lingkungan Kemendag sebagai kesempatan untuk mengenal lebih dekat dunia perdagangan.

Kuliah umum tersebut juga menghadirkan pemangku kebijakan Kemendag dan praktisi ekspor di sektor agribisnis. Direktur Bina Pasar Miftah Farid memaparkan peluang pengembangan agribisnis Indonesia untuk pasar ekspor, terutama melalui peningkatan nilai tambah. Menurut Miftah, transformasi produk perlu didukung peningkatan produktivitas, pengolahan, dan penguatan daya saing.

Miftah mencontohkan kopi dan kakao sebagai komoditas yang berpeluang dikembangkan. Ia menyebut kebutuhan pasar terhadap kedua komoditas tersebut masih lebih besar dibandingkan pasokan. Penjelasan itu menempatkan peningkatan nilai tambah sebagai salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan potensi komoditas agribisnis untuk pasar ekspor.

Baca juga: Kemendag Gandeng Bank Mandiri dan Tokopedia Perkuat Mutu UMKM Sulsel

Pendiri PT Nusa Tropical Indonesia, Pekik Warnendya, menyampaikan bahwa keberhasilan ekspor tidak hanya ditentukan kualitas dan daya saing produk. Kebijakan serta diplomasi perdagangan yang membuka akses ke pasar internasional juga mendukung kegiatan ekspor. Ia turut menekankan perlunya kemampuan riset pasar dan pemanfaatan teknologi digital bagi calon eksportir, khususnya generasi muda.

Pekik mengatakan mahasiswa dapat menggunakan media sosial Perwakilan Perdagangan Indonesia di luar negeri untuk mengakses market intelligence, market brief, dan market inquiry. Informasi tersebut, menurutnya, dapat membantu generasi muda, terutama Gen Z, mengenali peluang pasar dan mengembangkan usaha hingga menjadi eksportir.

Adibyo Astawan, peserta dari Program Studi Manajemen IPB University, mengatakan kegiatan itu memberinya wawasan praktis untuk mempersiapkan diri memasuki pasar. Materi yang ia peroleh mencakup riset produk, analisis pasar, dan pemenuhan persyaratan di negara tujuan. Saat ini Adibyo tengah merintis usaha sebagai perantara pemasaran sejumlah produk manufaktur Indonesia yang telah memiliki sertifikasi. Ia menilai paparan materi dan pengalaman praktisi memberi gambaran tentang langkah yang perlu disiapkan untuk mengembangkan usahanya.

Najwa Rinjamain Fauziah, mahasiswa Program Studi Agribisnis, juga mengapresiasi penyelenggaraan kuliah umum di Kemendag. Ia menilai kegiatan tersebut memberi perspektif mengenai perdagangan dari sisi pemerintah maupun pelaku usaha. Najwa mengikuti kegiatan itu untuk memenuhi tugas mata kuliah Bisnis Internasional, sekaligus ingin mengetahui secara langsung peran dan cara kerja Kemendag dalam mengelola perdagangan serta menyikapi berbagai kebijakan.