Sugiono Ajak Pemuda Jadi Penggerak Perubahan untuk Indonesia Maju
CIANJUR.CO - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Sugiono mengajak generasi muda Indonesia mengambil peran sebagai penggerak perubahan. Ia mendorong pemuda agar aktif berkarya dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa, sebab generasi muda memiliki peran strategis dalam menentukan masa depan Indonesia di tengah tantangan dan persaingan global.
Ajakan itu disampaikan Sugiono saat membuka Indonesia Youth Summit 2026 di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (29/10/2026). Kegiatan tersebut digelar dalam rangka Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98. Berdasarkan laporan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, acara itu dihadiri pejabat pemerintah, jajaran gubernur, serta generasi muda dari berbagai daerah.
Para pejabat yang hadir antara lain Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga Taufik Hidayat, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono, dan Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Letjen TNI (Purn.) Lodewijk Friederich Paulus. Kehadiran peserta muda dari berbagai daerah melengkapi kegiatan yang menjadi ruang bagi Sugiono untuk menyampaikan pesan tentang peran generasi muda.
Dalam sambutannya, Sugiono mengajak para peserta menentukan posisi yang ingin mereka ambil dalam kehidupan. Ia membagi manusia ke dalam tiga kelompok: mereka yang menciptakan perubahan (those who make things happen), mereka yang menyaksikan perubahan (those who see things happen), dan mereka yang bahkan tidak memahami apa yang sedang terjadi (those who ask what happened).
Sugiono kemudian menanyakan kelompok mana yang ingin dipilih oleh para peserta. Mayoritas menjawab ingin menjadi bagian dari kelompok pertama, yakni orang-orang yang membuat perubahan terjadi. Ia berharap pilihan tersebut mencerminkan optimisme generasi muda untuk mengambil peran dan memberikan sumbangan nyata bagi kemajuan bangsa, bukan hanya menyaksikan perubahan yang berlangsung.
Baca juga: Sugiono Minta Patroli Darat Diperkuat untuk Tangani Karhutla
“Artinya ada harapan optimisme ke depan negara ini akan menjadi negara besar. Negara maju karena anak-anak muda adalah those who make things happen,” ujar Sugiono. Ia mengaitkan jawaban peserta itu dengan keyakinan bahwa pemuda dapat menjadi pelaku yang mendorong Indonesia menuju kemajuan.
Semangat menciptakan perubahan, menurut Sugiono, telah terlihat dalam sejarah Sumpah Pemuda pada 1928. Jauh sebelum Indonesia merdeka, pemuda dari berbagai suku dan latar belakang menyatukan tekad untuk mengakui satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, yakni Indonesia. Ikrar tersebut, dalam pandangannya, memperlihatkan keberanian generasi muda kala itu untuk memperjuangkan cita-cita besar.
Perjuangan tersebut berlangsung ketika Indonesia masih berada di bawah penjajahan. Tidak ada kebebasan, sementara akses pendidikan hanya dapat diperoleh oleh golongan kecil. Namun, keterbatasan itu tidak menghentikan impian para pemuda untuk menjadi bagian dari negara yang merdeka. Sugiono mengatakan mereka menghadapi tantangan demi harapan melihat bangsanya bebas.
“Mereka bermimpi untuk jadi bagian dari sebuah negara yang bahkan merdeka saja belum,” ungkap Sugiono. Ia mengingatkan bahwa para pemuda pada masa itu memperjuangkan cita-cita tersebut saat kemerdekaan belum terwujud dan kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas.
Dari sejarah itu, Sugiono menekankan keberagaman sebagai anugerah sekaligus kekuatan bangsa yang harus dipelihara. Perbedaan suku dan latar belakang tidak seharusnya menjadi alasan untuk terpisah. Sebaliknya, keberagaman dapat menjadi modal untuk membangun Indonesia bersama, selama tidak dibesar-besarkan dan tetap ditempatkan dalam kesatuan.
Baca juga: Indonesia Paparkan Praktik KUR untuk Perluas Pembiayaan UMKM
“Perbedaan bagi bangsa Indonesia adalah anugerah. Perbedaan bagi bangsa Indonesia adalah modal, perbedaan bagi bangsa Indonesia adalah kekuatan,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa perbedaan perlu dijaga sebagai bagian dari kekuatan bersama, bukan dijadikan pemisah di antara masyarakat.
Sugiono juga menjelaskan bahwa generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang semakin besar. Mereka berhadapan dengan persaingan dari generasi muda negara lain, perkembangan teknologi informasi, serta globalisasi. Karena itu, pemuda perlu terus meningkatkan kemampuan sekaligus memperkuat solidaritas. Kedua hal tersebut diperlukan ketika mereka berusaha berkontribusi di tengah persaingan yang kian ketat.
Pesan itu sejalan dengan tema resmi Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026, yaitu “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”. Sugiono menekankan patriotisme, kegigihan, dan empati sebagai karakter yang penting bagi pemuda dalam memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa.
Ia mencontohkan perjalanan legenda bulu tangkis Taufik Hidayat, yang saat ini menjabat sebagai Wamenpora. Menurut Sugiono, kegigihan dan kecintaan Taufik terhadap Indonesia tercermin melalui prestasinya. Dedikasi tersebut menjadi teladan tentang bagaimana kerja keras serta semangat patriotisme dapat mengharumkan nama bangsa.
Selain patriotisme dan kegigihan, Sugiono menyoroti empati. Pemuda perlu mampu memahami kondisi dan perasaan orang lain, terutama di tengah persaingan yang berlangsung tidak hanya antarindividu, tetapi juga antarbangsa. Sikap empati, menurutnya, dibutuhkan untuk memperkuat persatuan, sementara peningkatan kemampuan tetap diperlukan untuk menghadapi tantangan yang semakin besar.
Baca juga: Kredit Program Capai Rp294,6 Triliun hingga Oktober 2026
Menutup sambutannya, Sugiono meminta generasi muda memperluas wawasan, memanfaatkan kesempatan, dan meningkatkan kapasitas diri agar dapat memberikan kontribusi terbaik bagi Indonesia. Ia mendorong mereka untuk aktif melihat, mendengar, dan membaca, serta membuka wawasan seluas-luasnya. Kesempatan untuk berbuat lebih baik, menurut pesannya, perlu dicari dan dimanfaatkan.
“Perbanyaklah melihat, banyaklah mendengar, banyaklah membaca. Buka wawasan seluas-luasnya. Ambil setiap kesempatan, rebut setiap kesempatan, cari setiap kesempatan untuk bisa berbuat lebih baik dan lebih baik lagi,” pesannya.
Sugiono juga mengingatkan bahwa kemerdekaan dan persatuan bukan sesuatu yang hadir dengan sendirinya. Keduanya merupakan hasil perjuangan panjang para pendahulu dan harus dijaga oleh generasi saat ini. Ia mengingatkan agar Sumpah Pemuda tidak hanya dipandang sebagai bagian dari lembaran sejarah, sebab perjuangan itu menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa menuju kemerdekaan dan kedudukan sejajar dengan bangsa lain.
“Tanpa perjuangan itu semua kita tidak mungkin duduk di sini, kita tidak mungkin jadi bangsa yang merdeka, dan tidak mungkin jadi bangsa yang berdiri sama tinggi duduk sama rendah dengan bangsa-bangsa lain di dunia,” pungkas Sugiono.