UPDATE

Administrator University of Kentucky Dapat Pengecualian Kerja dari Penggunaan AI

30/10/2026 08:23

CIANJUR.CO - Seorang administrator University of Kentucky, David Durman, memperoleh akomodasi kerja yang membolehkannya tidak menggunakan kecerdasan buatan (AI). Durman, yang menganut Humanisme nontheistik, meyakini penggunaan teknologi tersebut tidak sejalan dengan keyakinannya. Kasus ini menunjukkan bahwa permohonan akomodasi terkait AI di tempat kerja dapat diajukan atas dasar keyakinan yang tidak berpusat pada agama atau kepercayaan kepada Tuhan.

Berdasarkan laporan TechCrunch AI, Durman mencari perlindungan setelah melihat AI semakin populer dalam kehidupan sehari-hari. Ia kemudian menghubungi American Humanist Association (AHA), organisasi nirlaba yang memajukan Humanisme sekuler, untuk memahami kemungkinan memperoleh perlindungan hukum agar tidak diwajibkan menggunakan AI dalam pekerjaan.

Humanisme, sebagaimana dijelaskan Durman kepada TechCrunch, merupakan kumpulan keyakinan mengenai pengalaman manusia dan cara manusia berinteraksi dengan dunia. Paham ini menempatkan kesejahteraan serta perkembangan manusia, baik secara individu maupun bersama-sama, sebagai hal utama. Durman mengatakan Humanisme mendorong seseorang untuk berupaya meningkatkan kesejahteraan dan perkembangan dirinya sekaligus orang-orang di sekitarnya.

Alasan Durman menolak penggunaan AI berkaitan dengan pandangannya tentang tanggung jawab moral dan peran pikiran manusia. Menurut dia, manusia menjadi pelaku moral bagi diri sendiri dan orang lain melalui penggunaan pikiran secara aktif. Ia khawatir, jika kemampuan itu berkurang karena pemakaian AI, kemampuan seseorang untuk bertindak secara moral juga dapat terdampak negatif.

Baca juga: Andy Jassy Sebut AWS Bisa Jadi Bisnis US$1 Triliun

Kekhawatiran tersebut juga ia uraikan dalam pernyataan yang diterbitkan AHA pada pekan sebelumnya. Durman menulis bahwa AI mengganggu kemampuan orang untuk mencari nafkah. Ia turut menyoroti biaya lingkungan yang menurutnya dapat membawa dampak buruk bagi manusia dan planet, serta penggantian dan pengambilan kreativitas manusia yang dinilainya mengancam seni dan sastra—unsur budaya yang membantu masyarakat berkembang.

Humanisme bukan paham yang menentang agama. Namun, paham ini cenderung menarik orang yang meragukan keberadaan Tuhan atau kekuatan supernatural lain, tetapi tetap mencari pijakan ilmiah dan moral untuk menjalani kehidupan. Karena itu, alasan Durman mengajukan pengecualian berangkat dari keyakinan tentang kesejahteraan manusia dan tanggung jawab moral, bukan dari kepercayaan kepada Tuhan.

Alexandria Huiskens, pengacara staf AHA, mengatakan kepada TechCrunch bahwa kepedulian terhadap AI dan martabat manusia dapat ditemukan dalam berbagai agama maupun tradisi. Ia menyebut ajaran Katolik, Universalisme, dan Humanisme sebagai contoh. Menurut Huiskens, AHA ingin para Humanis dan orang nontheistik mengetahui bahwa mereka juga termasuk dalam kelompok yang dapat memperoleh perlindungan hukum di tempat kerja.

Baca juga: Reddit Beralih ke Pengalaman Login saat Trafik Pencarian Menurun

Durman merupakan Humanis pertama yang mendapatkan akomodasi kerja untuk tidak menggunakan AI, sekaligus salah satu orang pertama yang secara terbuka membicarakan upaya memperoleh perlindungan semacam itu. Ia tergerak mencari akomodasi setelah membaca bahwa Erin Maus, seorang penganut Unitarian Universalist dan insinyur perangkat lunak, berhasil mendapatkan perlindungan serupa.

Durman menegaskan bahwa permohonannya berangkat dari keyakinan pribadi, bukan keinginan mengatur cara orang lain berpikir atau merasakan sesuatu. Ia berharap pengalamannya mendorong orang dengan kekhawatiran serupa untuk mencari penyelesaian yang sesuai. Menurutnya, langkah yang ditempuh tidak harus berupa pengecualian agama; orang dapat mengupayakan penanganan atas kekhawatiran mereka melalui cara yang dianggap paling tepat.

Juru bicara University of Kentucky, Jay Blanton, mengatakan kepada TechCrunch bahwa permohonan akomodasi keagamaan ditinjau satu per satu. Dalam penilaian itu, universitas mempertimbangkan tanggung jawab pekerjaan karyawan serta keadaan yang melatarbelakangi permohonan. Untuk kasus Durman, kampus memutuskan akomodasi dapat diberikan tanpa menghalangi karyawan tersebut menjalankan fungsi-fungsi utama jabatannya.

Baca juga: Rivian Perluas Kerja Sama dengan Volkswagen lewat Asisten AI

Blanton juga menyatakan akomodasi dapat ditinjau kembali seiring perubahan teknologi dan tanggung jawab pekerjaan, guna memastikan pengaturan tersebut tetap wajar dan dapat dijalankan. Dengan demikian, keputusan terhadap Durman terkait dengan penilaian atas pekerjaannya dan keadaan permohonannya, bukan jaminan bahwa setiap permohonan serupa akan mendapat hasil yang sama.

Situasi Maus dinilai sangat tidak biasa karena penggunaan AI dalam pekerjaan rekayasa perangkat lunak telah membuat kegiatan menulis kode tanpa bantuan AI menjadi jarang. Berbeda dari Maus, Durman bekerja dalam peran administratif yang mendukung para peneliti mengajukan hibah, dan ia belum diwajibkan memakai AI untuk menjalankan tugasnya.

Meski belum ada kewajiban tersebut, sejumlah rekan kerja dan pimpinan Durman, seperti yang terjadi pada pekerja di berbagai bidang, telah menyarankan karyawan mencoba perangkat AI. Ia mengajukan pengecualian sekarang untuk berjaga-jaga jika saran penggunaan alat itu kelak berubah menjadi mandat. Durman berharap orang lain yang memiliki perasaan serupa terdorong untuk mencari suatu penyelesaian.