Kemenkes Perluas Imunisasi HPV dan Perkuat Edukasi Masyarakat
CIANJUR.CO - Kementerian Kesehatan RI memperkuat pencegahan kanker yang berkaitan dengan infeksi Human Papillomavirus (HPV) melalui imunisasi, skrining, dan edukasi kepada masyarakat. Upaya tersebut dibahas dalam webinar daring bersama media dan influencer bertema “Mencegah Kesakitan dan Kematian Akibat HPV dengan Imunisasi”, yang berlangsung Kamis (29/10).
Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan RI, HPV merupakan ancaman kesehatan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Setiap tahun, sekitar 22.000 perempuan di Indonesia meninggal akibat kanker leher rahim atau serviks yang disebabkan infeksi HPV. Sementara itu, data global pada 2022 mencatat sekitar 95.000 laki-laki terkena kanker akibat HPV dan sekitar 44.000 di antaranya meninggal dunia.
Besarnya angka tersebut menjadi latar belakang penguatan pencegahan berbasis bukti. Kemenkes menjalankan imunisasi untuk menekan infeksi serta risiko kesakitan dan kematian, sekaligus mendorong skrining. Imunisasi HPV gratis disediakan bagi anak perempuan dan laki-laki usia 10–11 tahun, atau yang berada di kelas 5 SD.
Pelaksanaan program untuk anak perempuan sudah berlangsung secara nasional sejak 2023. Perluasan kepada anak laki-laki mulai dilakukan pada 2026, tetapi pada tahap ini mencakup tiga provinsi, yakni DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Bali. Dengan demikian, sasaran imunisasi yang disebut Kemenkes mencakup kedua kelompok anak, sementara perluasan program bagi anak laki-laki baru dimulai di wilayah tersebut.
Baca juga: Wamendag Roro Optimistis Talenta Musik Indonesia Tembus Pasar Global
Pencegahan tidak hanya dilakukan melalui imunisasi anak. Strategi Kemenkes juga mencakup skrining kanker leher rahim bagi perempuan dewasa usia 30 tahun. Pemeriksaan tersebut terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG), sehingga upaya pencegahan yang disampaikan dalam laporan mencakup imunisasi maupun skrining.
Data cakupan memperlihatkan capaian program di masing-masing kelompok. Pada 2026, imunisasi HPV untuk anak perempuan kelas 5 SD mencapai 83,5 persen. Untuk anak laki-laki kelas 5 SD di tiga provinsi perluasan, cakupannya mencapai 88 persen. Sebagai pembanding, pada 2025 cakupan imunisasi HPV dosis tunggal bagi anak perempuan kelas 5 SD tercatat sebesar 90,8 persen.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyebut upaya meningkatkan cakupan masih menghadapi lebih dari satu tantangan. Selain akses, maraknya hoaks dan disinformasi dapat memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi.
Dalam webinar tersebut, Aji mengajak media, jurnalis, dan influencer turut mengedukasi publik. “Imunisasi merupakan salah satu isu kesehatan yang rentan terhadap hoaks atau disinformasi,” katanya. Ia meminta para pengelola informasi mengangkat fakta berbasis bukti dan meluruskan informasi yang keliru, terutama mengenai imunisasi HPV, bukan hanya memberitakan program.
Baca juga: Kemenkes Naikkan Status 66 RSUD, Perkuat Akses Layanan KJSU
Soal keamanan vaksin, Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), Prof. dr. Hinky Hindra Irawan Satari, menegaskan vaksin HPV aman dan efektif. Menurut dia, vaksin telah melalui uji klinis sebelum digunakan dalam program imunisasi nasional. Penjelasan mengenai keamanan dan efektivitas tersebut, menurut laporan, perlu disampaikan secara tepat sebagai bagian dari edukasi masyarakat.
Hinky juga menjelaskan bahwa reaksi sesudah imunisasi dapat berbeda pada setiap orang. Keluhan yang dapat muncul meliputi bengkak, kemerahan, atau nyeri di lokasi suntikan, serta pusing, lemas, demam, mual, dan muntah. Ia menyebut reaksi tersebut umumnya ringan dan dapat sembuh.
Direktur Imunisasi Kemenkes, dr. Indri Yogyaswari, MARS, menjelaskan alasan imunisasi diberikan sejak usia anak, meskipun kanker akibat HPV umumnya baru muncul ketika seseorang dewasa. Menurut Indri, usia pemberian berkaitan dengan besarnya perlindungan yang dapat diperoleh.
“Kalau diberikan pada anak usia 9 sampai 14 tahun dengan hanya satu dosis, itu bisa memberikan perlindungan hampir 90 persen, angka presisinya di 88 persen perlindungannya,” ujar Indri. Ia membandingkannya dengan pemberian pada usia lebih dari 20 tahun: dua dosis disebut memberikan perlindungan sekitar 60 persen. Indri menekankan bahwa perlindungan semakin tinggi jika imunisasi diberikan lebih awal.
Baca juga: Wamenkes Dante Tekankan Kompetensi Tenaga Medis di Era Digital
Selain mengajak media menyampaikan informasi berbasis bukti, Kemenkes juga mendukung penyediaan bahan edukasi yang dapat diakses publik. Ketua Kelompok Kerja Risk Communication and Community Engagement (RCCE), Rizky Ika Syafitri, mengatakan Pokja RCCE mengembangkan situs imunisasi-hpv.rcce.id.
Situs tersebut memuat informasi tentang virus HPV, kanker serviks, kanker orofaring, dan imunisasi HPV. Rizky menjelaskan bahwa situs itu ditujukan agar masyarakat lebih mudah mengakses informasi, sekaligus dapat menjadi rujukan media dan influencer saat menyiapkan konten edukasi. Materi yang tersedia meliputi lembar tanya jawab (FAQ), konten media sosial, video edukasi, hasil penelitian, serta berbagai kebijakan terkait imunisasi HPV.
Melalui imunisasi, skrining, dan edukasi, Kemenkes menyatakan terus memperkuat pencegahan HPV agar masyarakat memperoleh informasi yang benar dan perlindungan sejak dini. Kementerian juga mengajak media dan influencer membantu meluruskan informasi keliru, sejalan dengan tantangan hoaks dan disinformasi yang disampaikan dalam webinar.