UPDATE

Kemenkes Perkuat Sandbox Kesehatan untuk Dorong Inovasi Digital

27/10/2026 21:57

CIANJUR.CO - Kementerian Kesehatan RI mendorong pengembangan teknologi kesehatan yang aman, bermutu, dan inklusif melalui penguatan Sandbox Kesehatan. Fasilitas ini menjadi ruang uji coba terkendali bagi inovator untuk mengembangkan sekaligus menguji solusi sebelum penerapannya diperluas. Penguatan tersebut menjadi salah satu fokus Health Innovation Showcase 2026 yang berlangsung pada Selasa, 27 Oktober 2026.

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan RI, kegiatan itu menempatkan inovasi dalam kaitannya dengan kebutuhan pelayanan, bukan sekadar kemajuan teknologi. Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. Dante Saksono Harbuwono menyampaikan bahwa transformasi digital harus berujung pada peningkatan mutu, efisiensi, dan akses layanan kesehatan bagi masyarakat. Perubahan pencatatan dari cara manual ke sistem digital, menurutnya, bukan ukuran yang cukup untuk menilai keberhasilan transformasi.

“Transformasi digital bukan sekadar mengubah kertas menjadi layar,” ujar Dante. Ia menekankan bahwa hal yang lebih penting ialah dampak teknologi terhadap kualitas pelayanan yang dirasakan masyarakat. Dengan demikian, penggunaan teknologi perlu dinilai dari kontribusinya bagi layanan, sejalan dengan tujuan agar akses dan mutu kesehatan meningkat.

Salah satu infrastruktur transformasi yang disebutkan adalah SATUSEHAT. Platform tersebut telah terhubung dengan lebih dari 43 ribu fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia, termasuk hampir seluruh rumah sakit dan lebih dari 90 persen puskesmas. Cakupan koneksi itu menjadi bagian dari upaya menghubungkan pengelolaan informasi kesehatan lintas fasilitas.

Baca juga: Indonesia-AS Perkuat Kemitraan Ekonomi, Airlangga Dorong Investasi Bernilai Tambah

Melalui SATUSEHAT Rekam Medis Elektronik (RME), riwayat kesehatan pasien dapat dikelola secara berkesinambungan. Informasi tersebut juga dapat diakses lintas fasilitas, dengan tetap mengikuti ketentuan dan persetujuan pasien. Karena itu, integrasi dengan SATUSEHAT menjadi salah satu aspek yang relevan bagi solusi baru yang hendak dikembangkan dan diterapkan dalam pelayanan.

Sandbox Kesehatan sendiri tidak hanya menjadi tempat menguji teknologi. Kemenkes mengembangkannya sebagai wadah pembinaan sekaligus uji coba regulasi bagi inovator. Dalam lingkungan terkendali tersebut, mereka dapat menguji solusi dengan pendampingan pemerintah dan para ahli sebelum menuju penerapan lebih luas. Menurut Dante, proses itu perlu disertai perhatian pada kualitas, keamanan, serta perlindungan data pasien.

Catatan periode 2023–2025 menunjukkan sebanyak 60 inovasi kesehatan telah lolos verifikasi. Dari jumlah itu, 39 inovasi memperoleh tanda daftar resmi Inovasi Teknologi Kesehatan. Pendaftaran untuk periode berikutnya dijadwalkan dibuka pada akhir 2026. Dante menyatakan keberhasilan inovasi pada akhirnya ditentukan oleh manfaat nyata bagi masyarakat, sehingga pengujian dan pembinaan perlu mengarah pada solusi yang dapat digunakan dalam layanan.

Dalam Health Innovation Showcase 2026, 11 inovator terpilih mempresentasikan solusi teknologi kesehatan. Penilaian terhadap solusi tersebut mencakup kesiapan penerapan, penerimaan masyarakat, dan potensi integrasi dengan SATUSEHAT. Ketiga aspek itu menunjukkan bahwa presentasi tidak hanya menyoroti bentuk teknologi, tetapi juga pertimbangan mengenai penerimaan dan kemungkinan pemanfaatannya.

Baca juga: Wamendag Roro Ungkap Tiga Bekal UMKM Hadapi Era Digital

Salah satu tren yang menonjol dalam solusi yang dipresentasikan adalah pemanfaatan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI). Teknologi tersebut antara lain digunakan untuk mendukung pemeriksaan genetik dan mengubah percakapan klinis menjadi ringkasan rekam medis secara otomatis. Namun, Dante mengingatkan bahwa AI harus mendukung tenaga kesehatan, bukan mengambil alih pertimbangan klinis dokter.

“Kecerdasan artifisial harus menjadi mitra yang mendukung tenaga kesehatan, bukan menggantikan pertimbangan klinis,” kata Dante. Ia juga menilai kolaborasi lintas sektor diperlukan agar inovasi sesuai dengan kebutuhan layanan dan dapat diterapkan secara berkelanjutan. Sinergi, menurutnya, penting supaya pengembangan tidak berhenti pada tahap uji coba, melainkan dapat dimanfaatkan dalam pelayanan kesehatan.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyoroti kebutuhan akan ekosistem digital yang menunjang perkembangan inovasi. Unsur yang ia sebut meliputi tata kelola data, pendampingan bagi startup, dan akses investasi. Nezar juga mengapresiasi para inovator yang menghadirkan solusi digital untuk menjawab tantangan kesehatan nasional.

Baca juga: Pemerintah Jaga Daya Beli dan Stabilitas Ekonomi di Tengah Dinamika Global

Nezar menyebut 11 inovator terpilih sebagai langkah awal menuju kedaulatan teknologi kesehatan Indonesia yang inklusif dan berdaya saing. Ia menekankan bahwa inovasi membutuhkan ekosistem pendukung agar dapat berkembang dan memberikan manfaat lebih luas. Pernyataan itu sejalan dengan perhatian pada kerja sama antarpihak, selain pengembangan solusi oleh inovator.

Direktur Pijar Foundation Cynthia Krisanti mengatakan kolaborasi Pijar Foundation, Kemenkes, dan para pemangku kepentingan terus diperkuat. Kerja sama tersebut diarahkan untuk menjawab tantangan kesehatan nasional, termasuk tuberkulosis, diabetes, dan penuaan penduduk, dengan memanfaatkan teknologi melalui program Innovation Sandbox.

Cynthia menyatakan dukungan ekosistem yang berkelanjutan diharapkan dapat memperluas akses layanan kesehatan sekaligus meningkatkan deteksi dini bagi masyarakat di seluruh Indonesia. Harapan itu disampaikan dalam konteks pemanfaatan inovasi untuk menjawab tantangan kesehatan, sementara pengembangan Sandbox dan keterhubungan dengan SATUSEHAT menjadi bagian dari upaya memperkuat penerapan solusi teknologi.