7 Kebiasaan Mengutarakan Perbedaan Pendapat Tanpa Membuat Suasana Canggung
CIANJUR.CO - Berbeda pendapat dengan teman tidak selalu berujung pada suasana kaku. Seseorang mungkin mengatakan bahwa ia tidak sependapat tentang keputusan anak temannya mengambil jeda setahun sebelum melanjutkan pendidikan, atau tentang penilaian terhadap tetangga baru. Temannya lalu menjelaskan sudut pandangnya. Tak lama kemudian, percakapan beralih ke topik lain tanpa meninggalkan perasaan ganjil.
Namun, ada pula perbedaan pendapat yang membuat suasana mendadak dingin. Percakapan menjadi lebih formal, lalu salah satu pihak menghabiskan hari berikutnya dengan bertanya-tanya apakah ia perlu mengirim pesan untuk mencairkan keadaan. Berdasarkan laporan Hack Spirit, pembeda kedua situasi itu bukan semata-mata ada atau tidaknya rasa tidak nyaman. Hal yang menentukan justru beberapa kebiasaan kecil sebelum, selama, dan sesudah seseorang menyampaikan keberatan.
Kebiasaan-kebiasaan ini tidak menjamin lawan bicara akan merespons dengan mudah. Perbedaan pendapat yang disampaikan secara penuh pertimbangan pun masih dapat terasa tidak nyaman. Namun, cara berbicara yang tepat dapat membantu seseorang menjelaskan maksudnya sekaligus memberi ruang bagi orang lain untuk menjawab.
Memastikan lebih dulu apa yang sebenarnya dipersoalkan
Kebiasaan pertama adalah menahan diri agar tidak langsung membalas sebelum orang lain selesai berbicara. Saat mendengar pendapat yang tidak disetujui, seseorang sering kali sudah menyusun sanggahan di dalam kepala. Akibatnya, ketika mendapat giliran bicara, ia justru menanggapi versi argumen yang sudah ia perkirakan, bukan hal yang benar-benar disampaikan.
Orang yang dapat berbeda pendapat tanpa memperkeruh suasana biasanya memperlambat momen tersebut dengan mengajukan pertanyaan singkat. Misalnya, “Jadi, yang terutama kamu khawatirkan adalah biayanya, bukan waktunya?” Pertanyaan itu menunjukkan bahwa pembicara berusaha memahami sekaligus memberi kesempatan kepada lawan bicara untuk meluruskan maksudnya.
Jawaban atas pertanyaan itu bahkan bisa mengubah arah percakapan. Orang yang ditanya mungkin menjelaskan bahwa masalah utamanya justru waktu, bukan biaya. Ada pula keadaan ketika kedua pihak menyadari bahwa perbedaan mereka tidak sebesar dugaan semula. Untuk sampai ke sana, seseorang perlu menunda menyampaikan pendapatnya sendiri, meskipun ia sudah yakin pihak lain keliru.
Mengkritik persoalan, bukan memberi label kepada orang
Kebiasaan kedua adalah mengarahkan keberatan kepada hal yang spesifik, bukan menjatuhkan penilaian terhadap pribadi. Bayangkan seorang saudara mengatakan sedang mempertimbangkan untuk meninggalkan pekerjaannya dan membuka usaha kecil. Ada perbedaan besar antara menanyakan berapa lama tabungannya dapat bertahan jika usaha itu lambat berkembang dan menyebut keputusannya sebagai tindakan yang gila untuk usianya.
Baca juga: 8 Tanda Kecil Kepercayaan Diri Tumbuh Tanpa Harus Lebih Banyak Bicara
Kedua respons itu mungkin berangkat dari kekhawatiran yang sama. Namun, pertanyaan tentang ketahanan tabungan memberi bahan untuk dipikirkan, sedangkan komentar yang menyerang keputusan sekaligus pribadi membuat orang tersebut harus membela dirinya. Perhatian pun bergeser dari rencana usaha ke penilaian yang ia terima.
Karena itu, pembicaraan dapat diarahkan pada bagian yang benar-benar dipersoalkan, seperti biaya sewa, angka-angka, waktu, atau bagian tertentu dari argumen yang belum meyakinkan. Sebaliknya, label seperti “naif” dan “konyol”, serta ucapan “kamu selalu begini”, cenderung tidak membantu. Penilaian semacam itu jarang menjadi bagian paling berguna dari percakapan, tetapi bisa menjadi hal yang paling diingat oleh orang yang mendengarnya.
Menyampaikan keberatan saat keputusan masih terbuka
Kebiasaan ketiga berkaitan dengan waktu. Sebagian kecanggungan muncul karena seseorang menunda keberatan. Ia mungkin menyetujui rencana dalam rapat, lalu baru mengungkapkan keraguan di tempat parkir. Dalam urusan lain, ia menyetujui pengaturan liburan, tetapi kemudian menunjukkan keengganan melalui balasan singkat selama berminggu-minggu.
Orang yang menangani perbedaan dengan baik biasanya menyampaikan pendapat saat keputusan masih dapat dibicarakan. Kalimat seperti, “Saya belum yakin dengan ini. Boleh saya jelaskan alasannya?” menyatakan keberatan secara langsung tanpa harus menjadikannya pertengkaran. Dengan begitu, pihak lain bisa menanggapi persoalan yang sebenarnya, alih-alih menebak-nebak dari perubahan sikap atau diam yang berkepanjangan.
Bicara lebih awal bukan berarti orang tersebut merasa tenang. Suaranya mungkin terdengar agak tegang, atau ia sudah berlatih mengucapkan kalimat itu dalam perjalanan. Meski demikian, ia tetap menyampaikannya karena keberatan yang dipendam dapat dirasakan oleh semua orang, tetapi tidak pernah benar-benar dibicarakan.
Menjelaskan bagian yang disetujui dan bagian yang berbeda
Kebiasaan keempat adalah menunjukkan dengan jelas batas antara hal yang disepakati dan bagian yang masih dipersoalkan. Contohnya, seseorang dapat mengatakan, “Kamu benar bahwa anak-anak membutuhkan lebih banyak aturan sepulang sekolah. Bagian yang berbeda bagi saya adalah larangan penggunaan ponsel.”
Susunan seperti itu membantu lawan bicara memahami bahwa seluruh pandangannya tidak sedang diserang. Perbedaan ditempatkan pada satu bagian tertentu sehingga percakapan dapat tetap berfokus pada hal yang memang perlu dibahas. Orang yang mendengar tidak perlu menebak apakah keberatan itu ditujukan kepada seluruh gagasannya atau hanya satu unsur.
Baca juga: Tujuh Hal yang Dipahami Pekerja Fisik dan Jarang Disadari Pekerja Kantoran
Namun, pengakuan atas kesamaan perlu disampaikan ketika memang ada hal yang benar-benar disetujui. Cara ini bukan pujian yang sengaja disisipkan sebelum kritik agar keberatan terasa lebih mudah diterima. Jika persetujuan itu hanya menjadi pembungkus, orang lain biasanya dapat mengenalinya. Bila tidak ada bagian yang disepakati, lebih baik melewati langkah tersebut daripada mengada-adakan persetujuan.
Menyesuaikan nada dan tidak menumpuk masalah lama
Kebiasaan kelima adalah menyesuaikan nada dengan besar kecilnya persoalan. Perbedaan tentang restoran yang akan dipilih tidak sama dengan perbedaan mengenai keputusan untuk pindah kota. Untuk persoalan kecil, seseorang dapat berkata ringan, “Bagaimana kalau mencoba tempat lain? Kita sudah ke sana terakhir kali.” Persoalan serius memerlukan lebih banyak perhatian, tetapi bukan suara yang lebih keras.
Orang yang mampu menjaga percakapan biasanya juga tidak membawa keluhan lama hanya untuk memperkuat argumennya. Jika kejadian terdahulu memang menjelaskan masalah yang berulang, hubungan itu disampaikan secara spesifik. Misalnya, ia dapat mengatakan bahwa ini adalah kali ketiga rencana diubah tanpa saling memeriksa terlebih dahulu. Dengan penjelasan seperti itu, orang lain memiliki persoalan konkret untuk dijawab, bukan tumpukan kesalahan yang tidak jelas batasnya.
Menjaga nada dan tetap pada masalah yang dibahas membantu percakapan tidak meluas menjadi penilaian terhadap hubungan secara keseluruhan. Perbedaan tentang satu keputusan tidak otomatis harus berubah menjadi daftar semua hal yang pernah membuat seseorang kecewa.
Mengakui ketika pendapat sendiri berubah
Kebiasaan keenam terlihat ketika salah satu pihak mendengar argumen yang belum dipertimbangkannya. Alih-alih mengabaikan masukan itu, ia dapat mengakuinya, misalnya dengan mengatakan, “Baik, itu masuk akal. Saya belum memikirkan perjalanan ke sana,” atau, “Kamu meyakinkan saya untuk bagian kedua. Saya masih berbeda pendapat soal bagian pertama.”
Pengakuan kecil semacam ini dapat mengubah suasana, terutama jika orang tersebut sebelumnya berbicara dengan yakin. Ketika satu pihak memperlihatkan bahwa pendapatnya dapat dipengaruhi, pihak lain biasanya lebih rileks. Percakapan pun terasa seperti upaya bersama untuk mencari jalan keluar, bukan dua orang yang sekadar mempertahankan posisi masing-masing.
Baca juga: Ketika Kematian Dijauhkan dari Rumah, Pengetahuan tentang Duka Ikut Memudar
Sikap itu berlaku dua arah. Ketika lawan bicara akhirnya menerima pendapatnya, seseorang tidak perlu merayakan kemenangan atau mengatakan bahwa ia sudah tahu sejak awal. Ia cukup menerima perubahan tersebut dan melanjutkan pembicaraan. Tidak menjadikan perubahan pikiran sebagai kemenangan membantu kedua pihak tetap berfokus pada persoalan yang sedang dibahas.
Menjaga hubungan setelah perbedaan selesai dibicarakan
Kebiasaan ketujuh berhubungan dengan apa yang dilakukan setelah percakapan berakhir, baik persoalan sudah teratasi maupun belum. Seseorang dapat kembali melakukan hal biasa, seperti menawarkan kopi lagi atau mengirim pesan keesokan harinya mengenai pertandingan, foto anjing, atau pertanyaan tentang rencana akhir pekan. Ia tidak membuka kembali perdebatan tanpa alasan, tetapi juga tidak menjauh untuk menunjukkan bahwa ia masih kesal.
Ada kalanya seseorang memang membutuhkan jeda. Dalam keadaan itu, ia dapat menyampaikan kebutuhan tersebut dengan terus terang: “Saya masih frustrasi, jadi saya akan berjalan-jalan. Kita bisa bicara nanti.” Penjelasan itu membuat pihak lain tahu apa yang sedang terjadi, sehingga tidak perlu menafsirkan diam tanpa keterangan.
Langkah sederhana untuk kembali berkomunikasi bisa membutuhkan usaha. Seseorang mungkin masih merasa terganggu dan ingin menambahkan satu argumen lagi, atau membalas dengan dingin agar kekesalannya terbaca. Mengirim pesan biasa tetap memberi tanda bahwa persahabatan bukanlah pokok yang dipertaruhkan dalam perbedaan tersebut.
Meski begitu, tidak semua perbedaan dapat ditutup dengan cara yang sama. Jika ada ucapan yang menyakitkan, mengirim pesan ceria tentang anjing tidak akan menyelesaikan persoalan; mungkin dibutuhkan percakapan sungguhan. Untuk perbedaan sehari-hari, sinyal sederhana bahwa hubungan masih terjaga dapat mencegah ketegangan berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Hack Spirit juga mengajak pembaca mengingat kembali perbedaan pendapat yang pernah membuat suasana menjadi kaku. Momen yang patut diperhatikan bisa berupa pertanyaan yang tidak jadi diajukan, keberatan yang terlambat disampaikan, atau ucapan yang berubah menjadi serangan pribadi. Untuk percakapan berikutnya, seseorang dapat memilih satu hal yang berada dalam kendalinya untuk dicoba. Pihak lain mungkin tetap tidak setuju, dan keduanya mungkin masih memerlukan waktu setelahnya.