Ngaseuk di Kopi Sarongge 2026, Merawat Tradisi Sunda dan Kelestarian Alam
CIANJUR.CO – Tradisi Ngaseuk di Kopi Sarongge kembali diangkat melalui kegiatan budaya dan pelestarian lingkungan yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 7 November 2026, pukul 08.00–15.00 WIB, di Kopi Sarongge, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkenalkan kembali tradisi masyarakat Sunda dalam menyambut musim tanam sekaligus mempererat hubungan antara kebudayaan, pertanian, dan kelestarian alam.
Ngaseuk merupakan tradisi pertanian masyarakat Sunda yang berkaitan dengan kegiatan menanam benih menggunakan alat sederhana untuk membuat lubang pada tanah. Tradisi tersebut memiliki nilai budaya yang mencerminkan rasa syukur, kebersamaan, serta penghormatan terhadap alam sebagai sumber kehidupan. Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak untuk memahami bahwa aktivitas pertanian bukan sekadar kegiatan ekonomi, melainkan juga bagian dari warisan budaya yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Baca juga: Geco Cap Meong Cianjur: Sajian Tauge Tauco di Solokpandan
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @toscasantoso, Tosca Santoso menyampaikan bahwa kegiatan Ngaseuk akan melibatkan Sanggar Seni Utami sebagai pelaksana ritual tradisi, serta sejumlah sanggar seni dari kawasan sekitar Sarongge yang turut memeriahkan acara.
"Menyambut musim hujan, saatnya menanam. Untuk restorasi hutan dan pendapatan petani," tulis Tosca Santoso melalui akun Instagram @toscasantoso.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa penyelenggaraan Ngaseuk tidak hanya berorientasi pada pelestarian tradisi, tetapi juga membawa pesan lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Momentum datangnya musim hujan dimanfaatkan untuk mendorong kegiatan penanaman berbagai jenis tanaman yang berpotensi memberikan manfaat ekologis maupun ekonomi.
Salah satu agenda penting dalam kegiatan Ngaseuk di Kopi Sarongge adalah pembagian 24.000 bibit tanaman yang terdiri atas kopi, cengkeh, pala, durian, alpukat, dan cokelat. Inisiatif tersebut diharapkan dapat mendorong penghijauan, memperkenalkan keberagaman tanaman produktif, serta meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan. Pembagian bibit juga menjadi simbol semangat menanam untuk masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Baca juga: Dapoer Pagi Cianjur, Kedai Sarapan dengan Menu Beragam
“Ada 24 ribu bibit kopi, cengkeh, pala, durian, alpukat, juga rasamala dan puspa yang akan dibagikan kepada petani. Menyambut musim hujan, saatnya menanam. Untuk restorasi hutan dan pendapatan petani.” tulis Tosca Santoso di postingan yang sama.
Selain mengangkat tradisi pertanian, acara ini menghadirkan beragam pertunjukan seni budaya yang melibatkan Sanggar Seni Utami, Sanggar Benteng Wulung, Sanggar Gajah Putih, serta kesenian Calung. Kehadiran para pelaku seni tersebut diharapkan mampu menghadirkan suasana pesta rakyat yang meriah sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengenal dan mengapresiasi kekayaan seni tradisional Sunda.
Kegiatan Ngaseuk diproduksi oleh Sanggar Seni Utami bersama Kopi Sarongge, dengan dukungan Tugu Insurance, Palace Hotel, Infocianjur, dan Simkuring Batik. Kolaborasi berbagai pihak ini menunjukkan adanya upaya bersama dalam mendukung pelestarian budaya lokal dan kepedulian terhadap lingkungan.
Melalui perpaduan ritual tradisi, pertunjukan kesenian, dan pembagian bibit tanaman, Ngaseuk di Kopi Sarongge 2026 diharapkan menjadi sarana edukasi budaya sekaligus memperkuat semangat gotong royong masyarakat. Acara ini juga menjadi kesempatan untuk mengenalkan nilai-nilai kearifan lokal Cianjur kepada masyarakat luas, terutama generasi muda, agar tradisi pertanian dan kesenian daerah tetap hidup di tengah perkembangan zaman.