Pusat Data AI Beralih ke Mesin Jet Bekas untuk Pasokan Listrik
CIANJUR.CO - Sejumlah pengembang pusat data kecerdasan buatan (AI) mulai menghasilkan listrik sendiri dengan memanfaatkan mesin jet bekas. Pilihan itu muncul ketika mereka harus menghadapi antrean bertahun-tahun untuk memperoleh sambungan jaringan listrik ataupun turbin baru. Mesin yang digunakan berasal dari pesawat yang telah dipensiunkan, lalu dibangun ulang agar dapat membakar gas alam.
Berdasarkan laporan TechCrunch AI, mesin jet hasil konversi bukan dipandang sebagai pembangkit listrik permanen. Penggunaannya menjadi tanda bahwa pasokan daya belum mampu mengikuti pembangunan pusat data AI. Bagi perusahaan yang tertahan dalam antrean, keunggulan utama unit tersebut adalah waktu pengoperasiannya yang relatif cepat, bukan efisiensi ataupun dampak lingkungannya.
Audun Martinsen, analis Rystad Energy, mengatakan kepada The New York Times bahwa perusahaan mengutamakan kecepatan memperoleh daya. “It’s all about getting power as fast as possible,” kata Martinsen. Ia menjelaskan bahwa dengan unit bermesin jet, sebuah pusat data dapat beroperasi dalam 24 bulan. Pernyataan itu menggambarkan alasan perusahaan mempertimbangkan sumber listrik sendiri ketika menunggu sambungan jaringan membutuhkan waktu jauh lebih lama.
Perbandingan waktu tersebut terlihat di Virginia Utara. Menurut Badan Energi Internasional (IEA), menghubungkan kapasitas 100 megawatt ke jaringan di wilayah itu membutuhkan sekitar tujuh tahun. Sementara itu, seorang eksekutif Mitsubishi Power, salah satu produsen peralatan pembangkit listrik terbesar di dunia, mengatakan kepada Bloomberg pekan sebelumnya bahwa sebagian besar kapasitas listrik diperkirakan baru tersedia pada 2031.
Baca juga: Anthropic Kembangkan FlashProve untuk Membuktikan Identitas Model AI
Rentang waktu untuk memperoleh sambungan dan tambahan kapasitas itu menjadi persoalan bagi pengembang yang ingin menjalankan pusat data lebih cepat. Unit hasil konversi menawarkan jalur yang berbeda: perusahaan menyediakan listrik sendiri, alih-alih menunggu daya dari jaringan. Namun, pilihan tersebut hadir dengan sejumlah kekurangan, sehingga mesin jet bekas tidak serta-merta menjadi pengganti permanen bagi pembangkit yang dirancang khusus.
Keterbatasan listrik memengaruhi proyek
Keterlambatan pasokan sudah berdampak pada urusan bisnis operator pusat data. Bulan lalu, Microsoft mundur sebagai pelanggan utama pusat data Nscale di Loughton, Inggris, setelah perusahaan utilitas setempat menyatakan tidak dapat menyediakan listrik yang cukup hingga awal sampai pertengahan dekade 2030-an. Peristiwa itu menunjukkan bahwa jadwal pasokan yang tertunda dapat berpengaruh terhadap hubungan antara proyek pusat data dan pelanggan utamanya.
xAI milik Elon Musk termasuk perusahaan yang telah menggunakan mesin jet yang dikonversi. Perusahaan tersebut memasang delapan turbin hasil konversi di Mississippi untuk membantu menyediakan daya bagi pusat data Colossus 2 di Memphis. The New York Times melaporkan pemasangan itu dengan mengutip izin negara bagian dan citra satelit. Unit tersebut berasal dari ProEnergy, yang membangun ulang mesin GE yang umum digunakan pada pesawat Boeing.
Baca juga: Google Bawa Dreambeans ke India, Dukung 13 Bahasa Lokal
OpenAI juga menggunakan turbin gas pada 2025 di lokasi Stargate pertamanya di Abilene, Texas. Kampus itu sedang dibangun Crusoe, perusahaan rintisan berbasis di Denver yang mengembangkan pusat data AI. Pada April, Crusoe memesan 13 unit hasil konversi dari ProEnergy. Pemesanan tersebut menjadi bagian dari langkah perusahaan untuk tetap menggunakan turbin dalam pembangunan fasilitasnya.
Crusoe sebelumnya sempat merencanakan pembelian turbin dari Boom Supersonic. Namun, pada September, perusahaan itu membatalkan kesepakatan senilai 1,25 miliar dolar AS untuk membeli 29 turbin gas alam. Boom Supersonic merupakan perusahaan rintisan yang mengembangkan pesawat penumpang supersonik dan juga mulai menjual versi mesin pesawatnya sebagai pembangkit listrik untuk pusat data. Seorang juru bicara Crusoe mengatakan kepada TechCrunch saat itu bahwa perusahaan tetap berencana menggunakan turbin.
Tekanan untuk menyediakan daya sendiri juga datang dari kebijakan pemerintah. Pemerintahan Trump saat ini mendorong pusat data agar menghasilkan listrik mereka sendiri. Dorongan tersebut berlangsung ketika sebagian pengembang menghadapi waktu tunggu panjang untuk pasokan dari jaringan dan turbin baru, sementara pembangunan pusat data AI terus mendorong kebutuhan daya.
Baca juga: Apple Pertimbangkan Peluang AI Pihak Ketiga untuk Tambah Pendapatan Layanan
Kecepatan disertai konsekuensi
Mesin jet bekas yang dikonversi memiliki konsekuensi dibandingkan turbin yang dirancang untuk pembangkit gas konvensional. Menurut The New York Times, mesin tersebut kurang efisien dan menghasilkan lebih banyak polusi. Jumlah unit yang dibutuhkan juga lebih banyak untuk menghasilkan daya yang sama. Karena itu, kecepatan pengoperasian yang menjadi daya tariknya perlu dilihat bersama kebutuhan unit serta kekurangan efisiensi dan lingkungannya.
Kondisi tersebut dapat menjadikan mesin jet bekas pilihan jangka pendek. Sejumlah ahli menilai perhatian terhadap efisiensi dan dampak lingkungan mungkin meningkat dalam satu atau dua tahun mendatang. Penilaian itu berkaitan dengan kompromi yang dihadapi pengembang: unit hasil konversi dapat membantu mempercepat pasokan listrik, tetapi memiliki kinerja dan dampak lingkungan yang kurang menguntungkan dibandingkan turbin untuk pembangkit gas konvensional.