Kemendag dan TFO Canada Luncurkan TRISEG untuk Dorong Ekspor Kerajinan UMKM
CIANJUR.CO - Kementerian Perdagangan RI bersama Trade Facilitation Office (TFO) Canada meluncurkan Program Trade through Regional Inclusive Sustainable Economic Growth (TRISEG) di Auditorium Kemendag, Jakarta, Selasa, 3 November 2026. Program ini diarahkan untuk mendorong ekspor produk kerajinan Indonesia ke Kanada dengan memperkuat kapasitas dan daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Berdasarkan laporan Kementerian Perdagangan RI, peluncuran tersebut menjadi awal dari rangkaian dukungan bagi pelaku usaha kerajinan yang ingin mengembangkan pasar di Kanada. TRISEG menawarkan peningkatan kapasitas, pendampingan usaha, serta peluang membangun kemitraan dengan buyer atau pembeli dari negara tersebut.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, mengatakan kerajinan lokal dan UMKM perlu memperoleh dukungan agar dapat terus berkembang dan lebih siap menghadapi persaingan global. Menurut dia, produk kerajinan Indonesia memiliki sejumlah keunggulan yang diapresiasi konsumen Kanada, seperti orisinalitas, keterampilan pengerjaan atau craftsmanship, nilai keberlanjutan, dan desain yang khas.
“Melalui TRISEG, kami berupaya mengoptimalkan keunggulan tersebut untuk memperluas akses pasar, membangun hubungan bisnis yang lebih kuat, dan pada akhirnya meningkatkan ekspor Indonesia ke Kanada,” ujar Puntodewi saat peluncuran. Penguatan ciri produk dan kesiapan pelaku usaha, dengan demikian, menjadi bagian dari upaya membuka akses pasar sekaligus menjalin hubungan dagang yang lebih kuat.
Baca juga: Sugiono Tinjau Penanganan Stunting dan MBG di Subang
Kanada dinilai sebagai pasar potensial karena permintaannya terhadap produk kerajinan dari berbagai negara cukup besar. Pada 2025, nilai impor produk kerajinan Kanada tercatat sekitar USD 1,2 miliar. Pada tahun yang sama, impor Kanada untuk produk kerajinan asal Indonesia mencapai sekitar USD 26,5 juta, atau setara 2,1 persen dari total impor produk kerajinan negara tersebut.
Angka tersebut menjadi salah satu gambaran peluang yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha Indonesia. Puntodewi menyatakan Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan ekspor kerajinan ke Kanada. Untuk membuka partisipasi, periode kurasi UMKM calon peserta TRISEG telah dimulai dan berlangsung hingga 15 Desember 2026. Pelaku usaha yang berminat dapat mendaftar melalui tautan kemend.ag/trisegproject.
Puntodewi juga mengajak kementerian, lembaga, asosiasi usaha, institusi pendukung, dan mitra terkait untuk ikut menyebarluaskan informasi serta peluang program. Ia berharap TRISEG dapat menjangkau lebih banyak UMKM kerajinan potensial dari berbagai daerah, termasuk usaha yang dipimpin perempuan dan kelompok usaha yang selama ini belum banyak terwakili.
Baca juga: Cakupan Obat Pencegahan TBC di DKI Jakarta Naik Lebih dari Lima Kali Lipat
TRISEG didanai Pemerintah Kanada melalui Global Affairs Canada. Program ini dijalankan melalui kolaborasi Kemendag RI dengan TFO Canada serta mitra kelembagaan di negara-negara peserta. Puntodewi berharap pelaksanaannya menghasilkan dampak pada lima aspek: penguatan kapasitas dan kesiapan ekspor pelaku usaha kerajinan; peningkatan mutu serta daya saing produk melalui inovasi dan desain; perluasan akses informasi dan peluang pasar Kanada; penguatan hubungan bisnis antara pelaku Indonesia dan buyer Kanada; serta pengembangan model ekspor yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan agar dapat diterapkan di sektor lain.
Menurut Puntodewi, hasil tersebut penting untuk meningkatkan nilai ekspor sekaligus memastikan semakin banyak UMKM Indonesia siap bersaing dan membangun kemitraan berkelanjutan di pasar internasional. Dengan demikian, sasaran program tidak hanya menyangkut akses pasar, tetapi juga kesiapan usaha dan mutu produk yang ditawarkan.
Direktur Pengembangan Ekspor Manufaktur Kemendag, Deden Muhammad F.S., menjelaskan TRISEG akan berlangsung selama lima tahun di Indonesia. Dalam pelaksanaannya, program akan melibatkan asosiasi usaha, eksportir, serta Indonesia Eximbank untuk memberikan pendampingan kepada 200 UMKM hingga Maret 2030.
Baca juga: Kemenko PMK Perkuat PHBS untuk Cegah Antraks dan Leptospirosis di DIY
Program Director TFO Canada, Zaki Munshi, memaparkan dukungan yang disiapkan mencakup pelatihan, pendampingan, riset pasar, fasilitasi koneksi bisnis antarpelaku usaha atau business-to-business (B2B), serta berbagi pengetahuan. Dukungan itu diharapkan membantu UMKM, usaha milik dan pimpinan perempuan, serta usaha dari kelompok kurang terwakili agar dapat merespons peluang nyata di pasar Kanada.
Munshi mengatakan akses terhadap informasi pasar, pelatihan ekspor, keahlian teknis, dan jaringan bisnis dapat membantu pelaku usaha menyesuaikan produk, memenuhi ekspektasi pembeli, serta memperluas ekspor. Ia mengaitkan langkah tersebut dengan penguatan usaha, peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan terbentuknya komunitas yang lebih tangguh.
Co-founder Lampu Runa, Noro Ardanto, turut hadir dengan memamerkan karyanya dalam seremoni peluncuran. Ia menilai kerja sama seperti TRISEG dibutuhkan industri kerajinan, dengan indikator keberhasilan yang terukur. Noro berharap program tersebut dapat mendorong penerapan prinsip keberlanjutan, terutama dalam penggunaan material untuk produk kerajinan. Ia juga menyatakan akan mempelajari TRISEG lebih lanjut agar dapat mengoptimalkan manfaat yang ditawarkan.