Siapa yang Mengendalikan Anthropic Setelah IPO? Ini Struktur Tata Kelolanya
CIANJUR.CO - Anthropic dibentuk pada 2021 dengan tujuan memastikan manusia dapat mengendalikan kecerdasan buatan dan memperoleh manfaatnya dalam jangka panjang. Namun, ketika perusahaan laboratorium AI tersebut mendekati penawaran umum perdana atau IPO, calon pemegang saham di pasar publik justru berpotensi memiliki pengaruh terbatas atas keputusan penting perusahaan.
Berdasarkan laporan TechCrunch AI, struktur tata kelola Anthropic dirancang dengan beberapa lapis kendali. Pemegang saham biasa tidak hanya berbagi pengaruh dengan para pendiri, tetapi juga dengan sebuah perwalian independen yang memiliki kewenangan besar atas susunan dewan. Dalam keadaan tertentu, karyawan pun dapat ikut menentukan hasil keputusan terkait kursi dewan.
Struktur yang memungkinkan pendiri perusahaan teknologi mengendalikan perusahaan publik tanpa memiliki sebagian besar saham bukan hal baru di Silicon Valley. Namun, perhatian Anthropic terhadap keselamatan AI membentuk tata kelola yang lebih rumit. Dampaknya, pemegang saham biasa kemungkinan tidak leluasa menentukan keputusan utama, termasuk siapa yang duduk di dewan direksi.
Misi keselamatan AI menjadi bagian dari tata kelola
Lapisan pertama berasal dari status Anthropic sebagai public benefit company, yakni perusahaan berorientasi laba yang secara hukum dapat mempertimbangkan misi publik selain keuntungan. Misi yang diusung perusahaan adalah mendorong keselamatan AI. Status tersebut memberi ruang bagi dewan untuk mengambil keputusan terkait keselamatan AI tanpa harus sepenuhnya mendasarkan pilihan pada nilai bagi pemegang saham. Perlindungan itu juga dimaksudkan agar dewan tidak mudah digugat investor yang tidak puas dengan keputusan yang mengutamakan misi tersebut.
Baca juga: Disruptive Siapkan Dana US$10 Miliar untuk Investasi di 10 Perusahaan
Dewan Anthropic saat ini dipimpin oleh Presiden Anthropic Daniela Amodei. Anggotanya mencakup CEO Dario Amodei, yang merupakan saudara Daniela, salah satu pendiri Netflix Reed Hastings, serta Christopher Liddell, mantan CFO Microsoft dan General Motors. Dua anggota lainnya adalah CEO Novartis Vas Narasimhan dan Yasmin Razavi, mitra di Spark Capital. Saat ini terdapat satu kursi kosong di dewan.
Lapisan berikutnya adalah Long Term Benefit Trust (LTBT), panel independen yang dibentuk untuk menjaga agar perusahaan tetap berfokus pada misi memberi manfaat bagi umat manusia. LTBT memiliki kelas saham khusus yang memberinya wewenang memilih dan memberhentikan mayoritas anggota dewan. Para direktur yang dipilih melalui kewenangan tersebut disebut direktur Kelas T.
LTBT diketuai Neil Shah, pakar kesehatan global yang pernah menjabat sebagai direktur pelaksana GiveWell, organisasi nirlaba yang memeringkat badan amal. Anggota lainnya ialah Ben Bernanke, mantan ketua Federal Reserve; Richard Fontaine, pakar keamanan nasional; dan Christopher Stubbs, fisikawan Harvard. Satu kursi di LTBT masih kosong, dan anggota yang ada akan memilih orang yang mengisinya.
Hak khusus pendiri dan kemungkinan suara karyawan
Selain kewenangan LTBT, tujuh pendiri Anthropic secara bersama-sama memiliki kelas saham khusus. Saham tersebut memberi mayoritas pendiri 50,1 persen kekuatan suara pemegang saham, sehingga mereka dapat memilih tiga anggota dewan. Apabila para pendiri tidak mencapai suara mayoritas, barulah suara dari saham mereka dihitung secara proporsional bersama suara pemegang saham biasa.
Baca juga: OpenAI dan Anthropic Tantang Asumsi Lama soal Batas Komputasi
Susunan ini berarti pengaruh pemegang saham publik dapat berubah bergantung pada kesatuan sikap para pendiri. Selama mayoritas pendiri tetap sepakat, mereka memiliki jalur tersendiri untuk menentukan tiga kursi dewan. Jika tidak ada mayoritas di antara mereka, mekanisme pemungutan suara beralih ke perhitungan proporsional dengan pemilik saham biasa.
Dewan juga memiliki mekanisme untuk membatasi kewenangan LTBT. Jika perwalian itu mencalonkan salah satu dari empat direktur yang disebut “Specified”, atau memberhentikan direktur tersebut tanpa sebab—yakni tanpa tuduhan pelanggaran—komite nominasi dewan dapat menolak langkah tersebut. Perselisihan kemudian dapat dialihkan kepada karyawan perusahaan untuk diputuskan melalui pemungutan suara.
TechCrunch AI menilai dinamika struktur berlapis ini sulit dipastikan sebelum berbagai situasi benar-benar terjadi. Salah satu pembanding yang disebut dalam laporan itu adalah peristiwa yang dikenal sebagai “blip” di OpenAI. Saat itu, dewan sempat memecat CEO Sam Altman karena kekhawatiran bahwa ia tidak bersikap terbuka kepada mereka. Karyawan yang tetap mendukung Altman ikut memengaruhi perkembangan peristiwa tersebut; dewan akhirnya mundur, mengembalikan Altman, dan struktur tata kelola baru kemudian diterapkan.
Baca juga: Genie 4 Google DeepMind Hadir dengan Audio dan Dunia Interaktif
Pengalaman OpenAI itu menunjukkan bahwa dukungan karyawan dapat berpengaruh ketika terjadi pertentangan mengenai kepemimpinan. Di Anthropic, kedudukan karyawan dalam mekanisme pemungutan suara untuk kursi tertentu secara formal membuka ruang bagi pengaruh serupa. Jika karyawan lebih mendukung keputusan dewan daripada pilihan LTBT dalam perkara yang memenuhi ketentuan, mereka dapat mengesampingkan keputusan perwalian tersebut.
Retaknya kesatuan di antara para pendiri juga dapat membuat pemegang saham biasa memperoleh suara lebih besar daripada yang diperkirakan. Namun, kendali khusus para pendiri tidak dirancang berlangsung selamanya. Sepuluh tahun setelah IPO, mereka dapat memilih untuk mengakhiri kendali itu. Kendali tersebut juga berakhir otomatis apabila jumlah pendiri yang masih tersisa turun menjadi kurang dari tiga orang.
Setelah kendali pendiri berakhir, LTBT dapat terus berfungsi. Perwalian itu baru berakhir jika 85 persen pemegang saham biasa menyetujui pembubarannya, atau jika LTBT memutuskan mundur dengan persetujuan dewan. Pemegang saham biasa baru memperoleh kendali apabila kedua kelas pemegang saham khusus tersebut sudah tidak ada lagi. Dengan demikian, posisi investor publik dalam tata kelola Anthropic bergantung pada keberadaan kelas saham khusus, keputusan para pendiri, serta keberlanjutan LTBT.