Grok Rilis Tujuh Menit Pertama Versi AI The Odyssey
CIANJUR.CO - Grok menerbitkan tujuh menit pertama dari proyek adaptasi berbasis kecerdasan buatan yang diangkat dari The Odyssey. Tayangan itu kini diperkenalkan sebagai “Episode 1 of our Odyssey series”, bukan sebagai film panjang yang sebelumnya diumumkan Elon Musk. Rilis ini muncul tiga bulan setelah Musk menyatakan Grok akan membuat versi film penuh yang “historically accurate” dari karya tersebut.
Berdasarkan laporan TechCrunch AI, episode itu dibuat melalui kolaborasi dengan Wonder Studios dan sutradara Dev Walker. Dalam unggahan yang menyertai tayangan, Grok mengajak penonton melihat Episode 1 yang dibuat dengan Grok Imagine. Unggahan tersebut juga meminta tanggapan di kolom komentar mengenai kemungkinan pembahasan lebih terperinci tentang proses pembuatannya.
Rilis tujuh menit ini menjadi perkembangan terbaru dari pernyataan Musk tentang adaptasi tersebut. Namun, materi yang tersedia baru berupa satu episode singkat, sehingga belum menunjukkan film panjang seperti yang pernah ia janjikan. TechCrunch AI menilai hasil visualnya tidak seburuk yang diperkirakan dan tampak lebih mengesankan dibanding sejumlah video lain yang baru-baru ini diunggah Musk.
Baca juga: Ekonom Apollo: AI Belum Memberi Hasil Finansial bagi Perusahaan Nonteknologi
Penilaian itu bukan berarti tayangan Grok dinilai memiliki kekuatan artistik. Penulis TechCrunch AI menyebut ada beberapa momen ketika tokoh-tokohnya dapat tampak seperti aktor sungguhan yang berlayar di laut nyata, terutama bila penonton tidak mengetahui bahwa video itu dihasilkan menggunakan AI. Meski demikian, laporan tersebut menegaskan bahwa penulisnya tidak dapat memastikan ketepatan historis adegan maupun penggambaran dalam film itu.
TechCrunch AI juga menyoroti pilihan visual dan suara. Menurut penulisnya, karakter-karakter dalam versi Grok terlihat menggunakan warna kulit yang disetujui Musk. Naratornya berbicara dengan aksen Inggris yang dianggap akrab bagi penonton gim fantasi atau film epik Hollywood generik dalam 25 tahun terakhir. Pengamatan tersebut disampaikan sebagai kesan terhadap cuplikan, bukan sebagai verifikasi mengenai akurasi sejarah yang dijanjikan.
Perbandingan dengan adaptasi Christopher Nolan menjadi latar penting dalam laporan itu. Sebelumnya, Musk melontarkan kritik terhadap versi The Odyssey garapan Nolan karena sang sutradara memilih aktor nonkulit putih dan transgender. TechCrunch AI menggambarkan Nolan sebagai sosok yang berseberangan dengan Musk dalam pandangan terhadap teknologi. Musk, yang juga memimpin SpaceX dan Tesla, kerap mengangkat gagasan pusat data di luar angkasa dan mengunggah konten yang dihasilkan AI. Nolan, sebaliknya, pernah menyebut dirinya “a techno-skeptic” serta mengatakan sebelum AI ia belum pernah melihat teknologi yang “so completely rejected by the public.”
Baca juga: Deretan Wearable AI: dari Bee hingga Cincin Stream
Kedua proyek itu juga berbeda dalam pendekatan produksi. Film Nolan memang menggunakan banyak efek visual, tetapi laporan TechCrunch AI menyebutnya terutama sebagai pencapaian pembuatan film praktis. Proses pengambilan gambarnya berlangsung di enam negara dan melibatkan ribuan pemain serta kru. Film tersebut dirilis pada Juli, kemudian meraih keberhasilan box office yang luar biasa. Penjualan tiketnya membuat pemutaran Imax terjual habis selama berbulan-bulan dan film itu disebut sebagai kandidat terdepan untuk Academy Awards berikutnya.
Adapun persoalan utama dalam cuplikan Grok, menurut ulasan TechCrunch AI, bukan semata-mata tampilan visualnya. Tayangan itu dinilai tidak memiliki rasa artistik, inspirasi, ataupun kepentingan manusia. Latar cerita disampaikan melalui narasi suara yang terasa panjang sebelum beralih ke deretan wajah berjanggut. Tokoh-tokohnya menyampaikan dialog kaku dengan cara berteriak, sehingga penulis menilai dialog Nolan terdengar seperti karya Shakespeare jika dibandingkan.
Baca juga: Deretan Proyek AI yang Berhenti, Berubah Arah, atau Tak Sesuai Harapan
Sejumlah gambar individual, tulis TechCrunch AI, mungkin cukup meyakinkan sebagai tiruan realitas. Akan tetapi, keseluruhan tayangan terasa tanpa kehidupan dan tidak membangun momentum yang membuat penonton peduli terhadap tokoh maupun peristiwa di layar. Penulis membandingkan pengalaman menontonnya dengan film Nolan yang berdurasi hampir tiga jam: ia mengaku mampu memusatkan perhatian sepanjang film tersebut, sementara saat menyaksikan versi Grok ia sudah mengecek sisa waktu sebelum tayangan mencapai pertengahan.
Karena itu, laporan tersebut menyatakan sulit membayangkan penonton tertarik menyaksikan tujuh menit berikutnya, apalagi satu film penuh dengan pendekatan serupa. Penilaian ini merujuk pada Episode 1 yang telah dirilis, sementara kemungkinan pengembangan seri dan tanggapan penonton masih dibuka melalui ajakan Grok di unggahan mereka.