UPDATE

Ekonom Apollo: AI Belum Memberi Hasil Finansial bagi Perusahaan Nonteknologi

25/10/2026 23:59

CIANJUR.CO - Besarnya investasi dan perhatian terhadap kecerdasan buatan belum berujung pada hasil finansial yang terlihat bagi perusahaan-perusahaan besar di luar sektor teknologi. Penilaian itu disampaikan Torsten Slok, kepala ekonom Apollo Global Management, melalui sebuah catatan yang membahas kinerja perusahaan di Amerika.

Berdasarkan laporan TechCrunch AI, Slok memusatkan analisis pada kelompok yang disebutnya S&P 493. Istilah tersebut merujuk pada S&P 500 setelah Alphabet, Amazon, Apple, Meta, Microsoft, Nvidia, dan Tesla dikeluarkan dari kelompok perhitungan. Dengan pengecualian itu, Slok menelaah perusahaan lain dalam indeks tersebut, bukan tujuh perusahaan yang ia pisahkan.

Pada S&P 493, dua indikator yang diperhatikan Slok adalah margin laba dan pendapatan per pekerja. Keduanya tampak datar, menurut catatan tersebut. Ia juga tidak menemukan bukti bahwa AI telah meningkatkan produktivitas perusahaan-perusahaan itu. Dengan kata lain, berdasarkan ukuran yang dibahas, penerapan teknologi ini belum tampak beriringan dengan perubahan pada hasil keuangan maupun produktivitas kelompok tersebut.

Baca juga: Deretan Wearable AI: dari Bee hingga Cincin Stream

“Despite massive investments and widespread hype around artificial intelligence, the technology has delivered zero financial payoff to corporate America outside of tech,” kata Slok. Ia menilai hasil finansial AI bagi perusahaan di luar sektor teknologi masih nihil, meskipun investasi besar telah dilakukan dan perhatian terhadap teknologi tersebut meluas.

Slok turut mempertimbangkan kemungkinan bahwa perusahaan nonteknologi hanya tertinggal dari perusahaan teknologi besar dalam pemanfaatan AI. Namun, ia menyampaikan keraguan bahwa persoalannya dapat dijelaskan semata-mata sebagai keterlambatan. Menurutnya, perusahaan-perusahaan di Amerika akan sulit mengubah kecerdasan yang semakin murah menjadi pertumbuhan pendapatan dan margin laba yang lebih tinggi.

Baca juga: Deretan Proyek AI yang Berhenti, Berubah Arah, atau Tak Sesuai Harapan

Dalam menjelaskan tantangan tersebut, Slok membedakan kemampuan AI mengolah informasi dari pertimbangan yang dibutuhkan dalam bisnis. “AI may be a great calculator, but in business, intelligence is mostly judgment,” tulisnya. Pernyataan itu menyoroti bahwa kemampuan menghitung atau memproses informasi, menurut Slok, tidak dengan sendirinya menjawab kebutuhan perusahaan untuk mengambil keputusan yang melibatkan penilaian.

Ia juga menyebut sejumlah unsur yang menurutnya tidak dipahami AI: akuntabilitas, kepercayaan, budaya, aturan tidak tertulis, pertimbangan etis, dan keadilan. Slok mengaitkan unsur-unsur tersebut dengan risiko reputasi. Dalam pandangannya, risiko itu pada akhirnya turut memengaruhi pertumbuhan pendapatan dan margin laba, sehingga kemampuan teknologi saja belum tentu cukup untuk menghasilkan keuntungan bisnis.

Baca juga: Block Rilis Dessa, Model Suara AI yang Berjalan Lokal dan Terdengar Manusiawi

Penilaian tersebut muncul di tengah temuan sejumlah studi terbaru yang juga menyatakan AI belum menghasilkan peningkatan produktivitas signifikan. Materi yang diberitakan tidak merinci studi-studi itu. Adapun catatan Slok secara khusus menunjukkan bahwa margin laba dan pendapatan per pekerja pada S&P 493 masih datar, tanpa bukti bahwa AI telah mendorong produktivitas perusahaan di luar sektor teknologi.