• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat & Ketentuan
  • Kontak Kami
Blog Informasi Terkini Cianjur.Co
  • CIANJUR.CO
  • HOME
  • Berita
  • Travel
  • Kuliner
  • Sosok
  • Ekonomi
  • Budaya
  • Sejarah
  • Info Gempa
    • Gempa Realtime Indonesia
    • Gempa Indonesia 4M+
    • Gempa Dunia Realtime
No Result
View All Result
  • CIANJUR.CO
  • HOME
  • Berita
  • Travel
  • Kuliner
  • Sosok
  • Ekonomi
  • Budaya
  • Sejarah
  • Info Gempa
    • Gempa Realtime Indonesia
    • Gempa Indonesia 4M+
    • Gempa Dunia Realtime
No Result
View All Result
Blog Informasi Terkini Cianjur.Co
No Result
View All Result
Home Berita

Pasar Antik Cikapundung Menarik Gen Z, Pedagang Beradaptasi

by
October 4, 2026
in Berita
0
Pasar Antik Cikapundung Menarik Gen Z, Pedagang Beradaptasi

Pasar Antik Cikapundung (Foto: Nedzar Rabbany)

0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

CIANJUR.CO – Lantai tiga Cikapundung Electronic Center (CEC) menghadirkan suasana berbeda dari pusat barang elektronik modern yang berada di lantai bawah. Di Pasar Antik Cikapundung, aroma kayu tua dan sayup musik lawas dari piringan hitam membuat lorong kios terasa tenang, sementara hiruk-pikuk Kota Bandung seolah meredup. Kesan seperti berada di kapsul waktu itu kini berpadu dengan kehadiran pengunjung dari generasi yang lebih muda.

Pada Rabu (30/9/2026), kios-kios di pasar tersebut dipenuhi barang lintas zaman, antara lain kamera analog, kaset pita, lampu retro, dan mesin tik era kolonial. Benda-benda itu tersusun rapat di sudut kios, membentuk lorong dengan tampilan yang menarik bagi pengunjung yang mencari barang koleksi maupun inspirasi estetika. Berdasarkan laporan detikJabar, perubahan pengunjung mendorong pedagang menyesuaikan cara menawarkan barang antik agar lebih dekat dengan selera masa kini.

Pasar yang semula identik dengan kolektor paruh baya pencari nilai sejarah kini juga didatangi anak muda, fotografer, dan desainer interior. Pergeseran itu mengubah wajah kegiatan di lorong-lorongnya. Bagi sebagian pengunjung baru, daya tarik barang bukan semata cerita sejarahnya, tetapi juga tampilan dan fungsi yang bisa dibawa ke dalam gaya atau ruang mereka. Pedagang pun mulai menghadirkan pilihan yang dapat menjangkau minat dan kemampuan belanja yang beragam.

Pengunjung muda berburu piringan hitam

Alfa Rizki Kurmansyah (20), pemuda asal Purwokerto, datang ke Cikapundung saat menghabiskan waktu liburan di Bandung. Ia sengaja mencari piringan hitam. Sebelum menuju Cikapundung, Alfa telah berkeliling ke sejumlah tempat, termasuk Astana Anyar, tetapi belum menemukan barang yang diinginkan.

“Sebenarnya saya udah keliling ke banyak tempat sih, termasuk ke Astana Anyar juga udah. Nah, tapi barang yang saya cari tuh enggak ada,” kata Alfa. Ia kemudian mencoba datang ke Cikapundung dengan harapan bisa menemukan piringan hitam tersebut.

Baca juga: Pedal Puff Girls, Komunitas Gowes Perempuan Bandung yang Mengayuh Bersama

Alfa mengaku nyaman berada di pasar itu. Sebagai penikmat musik, ia menikmati suasana Cikapundung yang tenang dan merasa para penjual cukup interaktif saat diajak berbincang. Pengalaman tersebut melengkapi tujuan awalnya untuk berburu piringan hitam: kunjungan tidak hanya berpusat pada barang yang dicari, tetapi juga pada suasana dan percakapan di pasar.

Jojo, Ketua Komunitas Pedagang Barang Antik Cikapundung yang telah berjualan selama 13 tahun, melihat perubahan kelompok pengunjung itu secara langsung. Ia menyebut kondisi ekonomi pascapandemi membuat penjualan di sektor riil menurun tajam. Di tengah keadaan tersebut, pergeseran segmen pembeli menjadi perubahan yang membantu pedagang menghadapi situasi pasar.

“Dulu yang datang nyari barang-barang antik itu mungkin usia 40 tahun ke atas, 50, 60. Sekarang tuh justru yang datang Gen Z, milenial. Hampir 70 persen,” tutur Jojo. Menurut pengamatannya, pengunjung muda kini mengambil porsi besar di antara orang-orang yang datang ke Pasar Antik Cikapundung.

Dagangan dan kegiatan ikut berkembang

Perubahan pengunjung membuat Jojo mengubah sebagian pilihan dagangannya. Ia yang sebelumnya berfokus menjual barang antik bernilai tinggi kini juga menyediakan barang dengan harga lebih terjangkau. Pilihannya mencakup kaset dan aksesori seharga Rp15.000, serta kaos. Penyesuaian tersebut memperluas jenis barang yang ditawarkan tanpa menghilangkan keberadaan koleksi antik di pasar.

Adaptasi itu berlangsung dengan cara berbeda di antara para pedagang. Sebagian pedagang lama tetap mempertahankan identitas barang etnik, sementara pedagang baru membawa pilihan yang lebih dekat dengan tren thrifting atau pakaian bekas dan barang hobi. Dengan demikian, pengunjung dapat menjumpai ragam dagangan dari barang antik hingga barang preloved, seiring pasar menerima pembeli dengan minat yang tidak sama.

Baca juga: Berjalan Kaki Melibatkan Otak dan Mendukung Fungsi Kognitif

Komunitas pedagang juga mengadakan First Weekend Sale secara rutin pada akhir pekan pertama setiap bulan. Mereka mengundang pedagang dari luar untuk ikut berjualan di Cikapundung. Kegiatan itu dimaksudkan untuk membuka pertukaran pasar dan memberi ruang bagi sesama pelaku UMKM untuk saling mempromosikan usaha. Upaya komunitas tersebut menjadi salah satu cara menjaga kegiatan jual beli tetap berjalan bersama perubahan minat pengunjung.

Ratna, pemilik kios Cuss Goods, mewakili pedagang muda yang membawa pola usaha berbeda. Pada awal 2026, setelah merasa jenuh bekerja freelance dengan jadwal rapat yang padat, ia secara spontan menyewa kios yang kebetulan kosong di Cikapundung. Keputusan membuka toko fisik itu ia ambil dengan mempertimbangkan tabungan yang masih dimiliki.

“Mumpung tabungan masih ada. Ini harus diputerin nih daripada tabungan cuma dipakai buat kehidupan sehari-hari,” ucap Ratna. Kiosnya menawarkan barang preloved melalui sistem konsinyasi. Saat ini, ada 20 orang yang menitipkan barang di Cuss Goods, sehingga usaha tersebut melibatkan para pemilik barang yang mempercayakan produk mereka untuk dijual.

Ratna menggunakan spreadsheet untuk membuat pembukuan konsinyasi lebih transparan. Dengan sistem itu, pemilik barang dapat memantau penjualan secara real-time. Bersama pedagang muda lainnya, ia juga merapikan area kios menjadi tempat yang nyaman untuk berkumpul anak muda. Suasana di area tersebut dilengkapi live music pada sore hari, menambah kegiatan yang bisa dinikmati pengunjung selain melihat-lihat dagangan.

Baca juga: Banjir Thailand Picu Ancaman Ular dan Buaya di Permukiman

Jumlah pedagang dan kebutuhan dukungan

Di balik perubahan tersebut, keberlangsungan fasilitas menjadi perhatian. Sutarto Hadi Pranoto, pengelola Gedung CEC Cikapundung, menyebut saat ini ada sekitar 600 pedagang yang berjualan dari lantai rubanah hingga lantai tiga. Jumlah itu lebih sedikit dibandingkan masa jayanya, ketika total pedagang di gedung tersebut mencapai 900 orang.

Sutarto juga menceritakan sejarah penggunaan area pasar. Sebelum menjabat sebagai Wali Kota, Ridwan Kamil atau Kang Emil meminjam area kosong itu untuk mengakomodasi pedagang antik dari Cihapit dan Astana Anyar. Para pedagang tersebut memperoleh fasilitas gratis selama satu tahun. Sutarto menyambut baik tren Gen Z yang datang, termasuk untuk mencari barang thrifting, tetapi ia berharap ada dukungan lebih nyata bagi Cikapundung.

“Harapannya pemerintah ikut partisipasi. Memfasilitasi ikut mempromosikan. Wisata-wisata bisa diarahkan ke sini,” ujar Sutarto. Jojo menyampaikan hal senada mengenai perlunya dukungan. Menurutnya, sejauh ini pemerintah baru memasukkan nama Cikapundung ke dalam portal pariwisata daring, tanpa pembinaan organisasi secara langsung.

Pasar ini juga menjadi tempat mahasiswa dari berbagai universitas, termasuk ITB, Unpad, dan Monash University Australia, melakukan penelitian. Topik yang diteliti meliputi penentuan harga barang antik dan konsep daur ulang atau Go Green. Kegiatan tersebut berlangsung di tengah perubahan pengunjung, penyesuaian dagangan, serta upaya pedagang dan komunitas menjaga aktivitas Cikapundung.

Tags: BandungBarang antikCikapundung Electronic CenterPasar Antik CikapundungThrifting
Previous Post

Pedal Puff Girls, Komunitas Gowes Perempuan Bandung yang Mengayuh Bersama

Next Post

Villa Isola Bandung: Dari Rumah Berretty hingga Gedung Rektorat UPI

Next Post
Villa Isola Bandung: Dari Rumah Berretty hingga Gedung Rektorat UPI

Villa Isola Bandung: Dari Rumah Berretty hingga Gedung Rektorat UPI

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CIANJUR TERKINI

Villa Isola Bandung: Dari Rumah Berretty hingga Gedung Rektorat UPI

Villa Isola Bandung: Dari Rumah Berretty hingga Gedung Rektorat UPI

October 4, 2026
Pasar Antik Cikapundung Menarik Gen Z, Pedagang Beradaptasi

Pasar Antik Cikapundung Menarik Gen Z, Pedagang Beradaptasi

October 4, 2026
Pedal Puff Girls, Komunitas Gowes Perempuan Bandung yang Mengayuh Bersama

Pedal Puff Girls, Komunitas Gowes Perempuan Bandung yang Mengayuh Bersama

October 4, 2026
Berjalan Kaki Melibatkan Otak dan Mendukung Fungsi Kognitif

Berjalan Kaki Melibatkan Otak dan Mendukung Fungsi Kognitif

October 4, 2026

CIANJUR.CO adalah website City Directory Kota Cianjur yang merangkum informasi dari berbagai destinasi wisata, penginapan, kuliner, hiburan, area publik, hingga ke gedung pendidikan dan perkantoran. Selain itu juga mengangkat berita ringan yang ada di kota Cianjur.

KONTAK KAMI

Jl. Raya Puncak, Cugenang, Cianjur. Jawa Barat – Indonesia.
0899-862-5050
info@cianjur.co
www.cianjur.co

NAVIGASI

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat & Ketentuan
  • Kontak Kami
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat & Ketentuan
  • Kontak Kami

© 2024 Cianjur.Co

No Result
View All Result
  • CIANJUR.CO
  • HOME
  • Berita
  • Travel
  • Kuliner
  • Sosok
  • Ekonomi
  • Budaya
  • Sejarah
  • Info Gempa
    • Gempa Realtime Indonesia
    • Gempa Indonesia 4M+
    • Gempa Dunia Realtime

© 2024 Cianjur.Co

Web Developer Cianjur Web Developer Cianjur