CIANJUR.CO – Sabtu pagi menjadi waktu bagi anggota Pedal Puff Girls untuk sejenak menjauh dari rutinitas. Mereka membawa sepeda dan menyusuri jalanan Kota Bandung bersama-sama. Di dalam rombongan itu, jenis sepeda yang dipakai tidak menjadi syarat: sepeda lipat, city bike, maupun jenis lain dapat ikut mengayuh. Usianya pun beragam, mulai dari pelajar hingga ibu rumah tangga.
Seperti diberitakan detikJabar, kegiatan ini bukan semata-mata soal jarak atau kecepatan. Para pesepeda berbagi obrolan, tertawa, dan berkenalan dengan orang yang sebelumnya belum mereka kenal. Jika ada anggota tertinggal, rombongan tidak begitu saja melanjutkan perjalanan. Kebiasaan saling menunggu dan mendampingi itu menjadi bagian penting dari pengalaman gowes mereka.
Pedal Puff Girls perlahan tumbuh sebagai tempat perempuan di Bandung untuk menemukan teman sekaligus menikmati kota dari atas sepeda. Founder Pedal Puff Girl, Hana Shella, menceritakan bahwa komunitas tersebut awalnya tidak dirancang sebagai kelompok besar. Pada 2024, ia dan tiga temannya hanya rutin bersepeda berempat mengelilingi Bandung.
Mereka kemudian membuat konten dari kegiatan itu. Perempuan lain yang melihat unggahan tersebut mulai mengirim pesan dan bertanya apakah bisa ikut. Dari kegiatan sederhana untuk menyalurkan kesenangan, muncul ajakan membentuk komunitas yang terbuka bagi perempuan yang ingin bersepeda bersama.
“Awalnya itu bukan komunitas ya, kak, kita cuma gowes berempat keliling-keliling kota,” kata Hana saat berbincang dengan detikJabar, Sabtu (3/10/2026). Ia menuturkan bahwa setelah ada saran untuk membentuk komunitas perempuan, nama Pedal Puff Girl kemudian digunakan. Menurut Hana, perempuan di kota mulai senang bersepeda, sehingga kegiatan berempat itu berkembang menjadi ajakan yang lebih luas.
Baca juga: Berjalan Kaki Melibatkan Otak dan Mendukung Fungsi Kognitif
Ajakan untuk tidak bersepeda sendirian
Perhatian terhadap konten mereka memperlihatkan bahwa keinginan untuk memiliki teman mengayuh dirasakan oleh banyak perempuan. Pesan yang masuk beragam: ada yang menanyakan jadwal gowes berikutnya, sementara yang lain langsung meminta untuk bergabung. Alasan yang disampaikan sederhana, mereka ingin bersepeda tetapi merasa malu atau takut melakukannya seorang diri.
Hana mengingat pesan dari salah satu perempuan yang ingin ikut karena tidak berani gowes sendiri. Menanggapi hal itu, ia dan teman-temannya mengajak para peminat untuk bersepeda bersama setiap pekan. Ajakan tersebut menjadi jalan bagi anggota baru untuk mencoba, tanpa harus lebih dulu memiliki pengalaman bersepeda dalam rombongan.
Pedal Puff Girls tidak membatasi jenis sepeda maupun usia. Perempuan yang ingin mencoba cukup datang membawa sepeda dan mengikuti agenda bersama. Keterbukaan itu membuat anggota memiliki latar belakang dan kemampuan yang beragam: ada yang sudah terbiasa menempuh jarak jauh, ada pula yang baru mulai mengayuh.
Jumlah anggota yang terhimpun di grup WhatsApp kini mencapai 200-an orang atau hampir 300 orang. Angka tersebut tidak berarti seluruh anggota selalu hadir dalam kegiatan mingguan. Dalam satu agenda, biasanya hanya puluhan perempuan yang datang dan bersepeda bersama.
Baca juga: Banjir Thailand Picu Ancaman Ular dan Buaya di Permukiman
Rentang usia anggota juga menunjukkan bahwa kegiatan ini diikuti lintas generasi. Hana menyebut anggota termuda masih duduk di kelas 6 SD, sedangkan yang tertua adalah ibu-ibu berusia sekitar 35 tahun yang masih aktif bersepeda. Perbedaan usia dan pengalaman tidak dijadikan alasan untuk menjadikan kecepatan sebagai tolok ukur utama.
Perhatian lebih diberikan kepada anggota yang baru bergabung. Hana mengatakan teman-teman lain akan memastikan mereka tidak tertinggal, terutama bila ada kendala pada sepeda di tengah perjalanan. Ia menyebut kemungkinan rantai lepas atau ban bocor sebagai hal yang dikhawatirkan terjadi ketika anggota bersepeda bersama.
“Jadi kita selalu memprioritaskan, benar-benar mendampingi teman-teman yang baru,” ujar Hana. Sikap tersebut sejalan dengan kebiasaan rombongan untuk menunggu anggota yang tertinggal. Bagi komunitas ini, perjalanan bersama perlu memperhatikan kondisi pesepeda lain, bukan hanya siapa yang bisa melaju paling cepat.
Gowes pagi dan kondisi jalan
Agenda rutin Pedal Puff Girls biasanya dimulai sekitar pukul 07.00 WIB. Rombongan umumnya selesai mengayuh sekitar pukul 08.00 WIB atau 09.00 WIB, lalu kegiatan kerap berlanjut dengan berkumpul dan berbincang santai. Rute yang dipilih tidak selalu sama. Selain kegiatan rutin, mereka sesekali mengadakan kolaborasi dengan coffee shop maupun brand.
Baca juga: Wanita 100 Tahun di Brooklyn Ceritakan Kebiasaan yang Menemaninya Panjang Umur
Hana menyebut aktivitas komunitas lebih banyak berlangsung pada pagi hingga siang hari. Salah satu pertimbangannya berkaitan dengan keadaan jalur sepeda di Bandung. Berdasarkan pengalaman anggota saat mengayuh, sejumlah jalur sepeda masih digunakan sebagai tempat parkir kendaraan. Akibatnya, ruang yang semestinya bisa dipakai pesepeda menjadi terbatas.
Penerangan jalan juga menjadi perhatian ketika mereka mempertimbangkan waktu bersepeda. Pedal Puff Girls jarang mengadakan gowes pada sore menjelang malam karena sejumlah ruas dinilai masih kurang terang. Hana mengaku khawatir jika membawa rombongan melewati jalan yang penerangannya minim.
“Kalau malam penerangannya kurang. Jadi aku sendiri takut, apalagi kalau bawa teman-teman rombongan,” kata Hana. Ia menyampaikan bahwa penerangan di jalan-jalan Bandung menjadi salah satu pertimbangan komunitas untuk tidak sering bersepeda pada malam hari.
Meski ada keterbatasan ruang dan kekhawatiran soal penerangan, anggota Pedal Puff Girls tetap menikmati Bandung dengan bersepeda. Setiap akhir pekan, mereka kembali mengayuh dan bertemu dengan perempuan yang memiliki cerita serta latar belakang berbeda. Bagi Hana, selama masih ada perempuan yang ingin bersepeda tetapi enggan melakukannya sendirian, komunitas itu akan terus menjadi tempat untuk mengayuh bersama.





