CIANJUR.CO – Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah Thailand bukan hanya melumpuhkan aktivitas warga dan sektor pariwisata. Luapan air juga memicu ancaman bagi keselamatan publik karena satwa liar, termasuk ular dan buaya, dilaporkan meninggalkan habitatnya dan bergerak ke kawasan permukiman. Warga pun diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama di sekitar genangan serta saluran air.
Berdasarkan laporan detikJabar, satwa-satwa itu mulai berpindah untuk mencari tempat yang lebih kering atau terbawa arus deras menuju lingkungan penduduk. Pergerakan tersebut berkaitan dengan kenaikan permukaan air yang drastis dan membuat habitat alami mereka terdampak. Karena itu, peringatan otoritas setempat tidak hanya menyangkut bahaya banjir, tetapi juga kemungkinan kemunculan hewan liar di area yang terendam.
Salah satu kejadian dilaporkan di Distrik Sanam Chai Khet, Provinsi Chachoengsao. Pada Kamis (1/10), seekor buaya sepanjang dua meter ditemukan berkeliaran di dekat rumah warga. Keberadaannya dinilai mengancam nyawa, sehingga petugas mengambil tindakan dengan menembak mati reptil tersebut. Peristiwa itu menjadi contoh langsung risiko yang muncul ketika satwa keluar dari habitatnya dan berada dekat dengan permukiman.
Baca juga: Wanita 100 Tahun di Brooklyn Ceritakan Kebiasaan yang Menemaninya Panjang Umur
Anggota Dewan Provinsi Udon Thepwatee mengonfirmasi penanganan buaya itu melalui unggahan di media sosial. Operasi tersebut melibatkan personel dari Kantor Polisi Sanam Chai Khet. Dalam unggahan yang dikutip Bangkok Post, Udon menulis, “Buaya itu sudah ditembak mati. Terima kasih kepada petugas kepolisian Sanam Chai Khet.” Pernyataan itu mengonfirmasi hasil operasi serta keterlibatan petugas kepolisian setempat.
Sebelum kejadian tersebut, pemerintah Thailand telah mengimbau masyarakat menjauhi genangan air, tidak memancing, serta menghindari saluran irigasi. Imbauan itu disampaikan di tengah kenaikan air yang mendorong satwa meninggalkan habitat alami. Dengan demikian, area yang tergenang dan saluran irigasi menjadi lokasi yang diminta untuk dihindari warga, selain tempat-tempat yang berpotensi menjadi jalur perpindahan hewan.
Ular terlihat di Bangkok, satwa penangkaran ikut terdampak
Kondisi banjir juga terjadi di Bangkok. Curah hujan di ibu kota menembus 300 milimeter dalam dua hari terakhir dan mengakibatkan banjir parah. Dokumentasi yang beredar luas di media sosial memperlihatkan ular berenang di jalanan protokol maupun area publik. Kemunculan ular di ruang yang biasa digunakan masyarakat itu menambah kewaspadaan di tengah genangan, seiring laporan satwa liar yang berpindah akibat air.
Baca juga: Dua Nelayan Hilang akibat Kapal Terbalik di Pamoekan Ditemukan Meninggal
Banjir turut berdampak pada hewan yang berada di penangkaran. Di Siam Amazing Park, petugas berhasil menyelamatkan 10 rusa babi, sementara beberapa rusa lainnya dilaporkan mati. Pada saat yang sama, empat buaya sepanjang masing-masing dua meter dikabarkan lepas dari sebuah peternakan akibat luapan air. Kedua kejadian itu menunjukkan dampak banjir terhadap satwa di lokasi penangkaran maupun peternakan.
Operasi penyelamatan lain berlangsung di sebuah kuil di Provinsi Prachinburi pada Minggu (27/9). Kepala Distrik Si Maha Phot, Juthamas Buaphuean, mengerahkan tim gabungan dari Kementerian Perikanan dan relawan Yayasan Ruamkatanyu untuk mengevakuasi seekor buaya di Wat Pho Thong. Buaya bernama Nuea Thong itu berusia 27 tahun, memiliki panjang lebih dari empat meter, dan berbobot mencapai 400 kilogram.
Proses evakuasi Nuea Thong berlangsung dramatis karena petugas harus mengikat rahang dan kaki buaya sebelum mengangkatnya menggunakan truk derek. Pengamanan dilakukan setelah air di kandangnya mencapai ketinggian 1,3 meter. Situasi tersebut membuat pemindahan diperlukan untuk mencegah buaya lepas dari kandang ketika air terus naik.
Baca juga: Dispertan Garut Siapkan 2.500 Kilogram Benih Padi untuk 100 Hektare Sawah
Nuea Thong kemudian dibawa ke tempat penampungan sementara di wilayah yang lebih aman. Lokasi tersebut berjarak 20 kilometer dari kuil. Pemindahan itu secara khusus dilakukan untuk mencegah buaya tersebut lepas ke Sungai Prachin Buri. Dengan demikian, upaya evakuasi mencakup pengamanan hewan selama proses pengangkatan sekaligus pemindahannya dari kandang yang terdampak air.
Untuk menekan risiko selama keadaan darurat, pemerintah Thailand menginstruksikan penutupan sekolah dan meminta warga bekerja dari rumah atau WFH. Dampak kebijakan itu terlihat pada pusat-pusat keramaian dan transportasi publik di Bangkok yang terpantau lebih lengang dari biasanya. Di tengah banjir yang meluas, warga menghadapi genangan sekaligus diminta bersiaga terhadap predator yang kehilangan habitatnya.





