CIANJUR.CO – Startup kecerdasan buatan (AI) kini tidak selalu harus menetapkan satu model sebagai pilihan permanen sejak awal pembangunan produk. Perkembangan model terbuka, kemajuan API model frontier, serta pilihan untuk menyesuaikan model dengan kebutuhan tertentu membuat strategi perusahaan dapat berubah mengikuti jenis pekerjaan dan kebutuhan bisnis.
Seperti diberitakan TechCrunch AI, sejumlah diskusi di TechCrunch Disrupt 2026 akan membahas pilihan tersebut dari beberapa sisi rantai teknologi AI. Topiknya mencakup penggunaan beberapa model sekaligus, keputusan untuk menyewa atau membangun teknologi sendiri, pilihan model terbuka dan proprietary, hingga hubungan antara desain model dan perangkat keras.
Perubahan teknologi itu memberi pendiri startup lebih banyak cara untuk membangun produk. Namun, pilihan yang semakin beragam juga menghadirkan pertanyaan tentang biaya, kinerja, kendali atas teknologi, dan fleksibilitas untuk beralih ketika model yang lebih baik tersedia. Empat sesi dalam acara tersebut dirancang untuk mengulas pertimbangan itu melalui pembahasan aplikasi, model, infrastruktur, dan chip.
Penggunaan beberapa model dalam satu produk
Salah satu sesi, “The Real Tokenmaxxing: How the Best AI Companies Navigate a Multi-Model World”, akan berlangsung di Builder’s Stage. Diskusi ini menghadirkan Mo Jomaa, partner di CapitalG; Vipul Ved Prakash, salah satu pendiri sekaligus CEO Together AI; serta Zuzanna Stamirowska, CEO dan salah satu pendiri Pathway.
Pembahasan berangkat dari pertanyaan apakah perusahaan memang harus memilih satu model saja. Produk AI dapat menggunakan model yang berbeda untuk pekerjaan yang berlainan. Para pembicara akan mengulas alasan perusahaan menerapkan pendekatan multi-model, cara menyeimbangkan biaya, kinerja, dan fleksibilitas, serta situasi ketika model terbuka dapat mengungguli pilihan proprietary.
Bagi pendiri perusahaan, kebebasan menentukan model untuk setiap tugas tidak hanya berkaitan dengan hasil teknis. Keputusan itu juga dapat memengaruhi biaya operasional dan arah pengembangan produk. Kemampuan memanfaatkan model yang lebih baik ketika tersedia pun menjadi bagian dari pertimbangan. Dengan demikian, strategi multi-model membuka ruang untuk menyesuaikan teknologi dengan pekerjaan yang perlu dilakukan, tanpa mengunci seluruh produk pada satu pilihan.
Baca juga: OpenAI Hadirkan Iklan Visual di Hasil Pembuatan Gambar ChatGPT
Menentukan bagian teknologi yang perlu dimiliki
Pertanyaan berikutnya adalah seberapa banyak teknologi AI yang perlu dimiliki atau dibangun sendiri oleh perusahaan. Manos Koukoumidis, CEO sekaligus salah satu pendiri Oumi, akan membahasnya dalam sesi “Which AI Should Your Company Actually Deploy: Rent, Customize, or Build” di Real World AI Stage.
Koukoumidis akan mengulas apakah startup sebaiknya membangun model sendiri, kapan kustomisasi dapat menjadi keunggulan kompetitif, serta bagaimana memilih antara AI terbuka dan proprietary. Sesi tersebut juga akan membahas API frontier, bobot terbuka yang telah disesuaikan, serta kepemilikan AI secara langsung sebagai pilihan yang dapat dinilai perusahaan.
Melalui jajak pendapat audiens, skenario startup, dan kerangka praktis, peserta akan diajak menimbang pilihan arsitektur sesuai kebutuhan. Menurut materi sesi, peserta akan memperoleh tiga prinsip pengambilan keputusan yang dapat dibawa ke pembicaraan arsitektur berikutnya.
Besarnya bagian tumpukan AI yang dibangun sendiri dapat memengaruhi produk sekaligus bisnis di belakangnya. Membangun lebih banyak komponen dapat memberi perusahaan kendali dan peluang diferensiasi yang lebih besar. Di sisi lain, langkah tersebut dapat membutuhkan waktu, tenaga ahli, dan sumber daya lebih banyak daripada menggunakan model yang sudah tersedia. Sesi Oumi akan memberikan kerangka untuk mempertimbangkan seberapa jauh perusahaan perlu mengambil tanggung jawab itu.
Model terbuka, API frontier, dan strategi produk
Perbandingan antara model terbuka dan proprietary tetap menjadi pertimbangan bagi sebagian startup. Nader Khalil, Director of Developer Tech di Nvidia, dan Sydney Sykes, Global Head of VC Partnerships di Nvidia, akan tampil di Builders Stage dalam sesi “Building AI Startups Worth Betting On”.
Baca juga: HackerRank Rilis Pewawancara AI Chakra, Sudah Uji 500.000 Wawancara
Mereka akan membahas pilihan yang dibuat para pendiri saat ini, termasuk pertukaran antara API frontier dan model dengan bobot terbuka. Diskusi juga menyoroti bagaimana keputusan tersebut dapat memengaruhi strategi produk dan diferensiasi jangka panjang.
Pilihan model membawa konsekuensi bisnis karena dapat membentuk biaya, kebutuhan infrastruktur, serta tingkat kendali startup atas produknya. Keputusan itu juga berkaitan dengan ruang bagi perusahaan untuk membangun pembeda yang tidak mudah ditiru pesaing. Karena itu, perbandingan model bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga tentang bagaimana teknologi mendukung posisi produk dan arah perusahaan.
AI dan perangkat keras di baliknya
Arsitektur model bukan satu-satunya faktor yang menentukan kinerja AI. Perangkat keras yang menjalankan teknologi tersebut juga menjadi bagian penting, sementara kemajuan AI mulai memengaruhi cara perangkat keras dirancang.
Anna Goldie, pendiri sekaligus CEO Ricursive Intelligence, dan Azalia Mirhoseini, pendiri sekaligus CTO perusahaan tersebut, akan mengangkat topik itu di Disrupt Stage melalui sesi “When AI Starts Designing Its Own Hardware”. Mereka akan membahas cara AI mengoptimalkan chip dan perangkat keras, hubungan yang semakin dekat antara arsitektur model dan perangkat keras, serta kemungkinan dampak ekosistem AI yang semakin terbuka terhadap infrastruktur.
Bagi startup, keterkaitan AI dengan perangkat keras dapat berpengaruh pada kecepatan kemampuan baru menjangkau pasar. Pengembangan chip yang lebih cepat juga dapat mengubah infrastruktur yang tersedia bagi perusahaan yang membangun generasi produk AI berikutnya. Sesi ini akan menelaah apa yang terjadi ketika AI turut membantu merancang perangkat keras yang menjadi penopangnya.
Baca juga: Safeworld Uji Keamanan Robot AI Lewat Simulasi Manusia Digital
Jadwal dan skala TechCrunch Disrupt 2026
Empat pembahasan tersebut merupakan bagian dari lebih dari 200 sesi yang akan digelar di enam panggung industri, bersama roundtable dan diskusi kelompok kecil. TechCrunch Disrupt 2026 dijadwalkan berlangsung pada 13–15 Oktober di Moscone West, San Francisco.
Lebih dari 10.000 pendiri, investor, operator, dan pemimpin teknologi diperkirakan hadir. Acara itu juga mencantumkan lebih dari 250 pembicara serta 300 startup peserta pameran. Selain sesi panggung, kegiatan pencocokan peserta, penjajakan kesepakatan, dan jejaring informal akan memberi kesempatan untuk bertemu pendiri, investor, calon mitra, serta pelaku lain yang menghadapi pilihan teknologi dan bisnis serupa.
Materi TechCrunch AI menyebut peserta dapat mengamankan tiket dengan potongan hingga 100 dolar AS dan memperoleh tiket kedua dengan diskon 50 persen. Untuk waktu terbatas, orang yang terdampak pemutusan hubungan kerja juga dapat memperoleh Expo+ Pass seharga 75 dolar AS.
Dalam praktiknya, sebuah startup dapat menggunakan API frontier saat ini, menyesuaikan model terbuka pada tahap berikutnya, atau memindahkan beban kerja di antara beberapa model. Fleksibilitas untuk melakukan perubahan itu dapat sama pentingnya dengan menentukan model yang tepat pada saat ini. Rangkaian sesi Disrupt 2026 akan membahas bagaimana para pemimpin AI menimbang pilihan yang membentuk teknologi yang dibangun dan cara membangunnya.





