CIANJUR.CO – Pemerintah Kota Bandung memperluas akses literasi digital dengan menghadirkan program Membaca Cerdas (MACA) di lebih dari 100 titik. Perpustakaan digital tersebut dapat dibuka melalui pemindaian kode QR yang dipasang di berbagai ruang publik, sehingga masyarakat bisa menjangkau bahan bacaan di sejumlah lokasi.
Berdasarkan laporan ANTARA Jabar, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus) Kota Bandung Kenny Dewi mengatakan, penyebaran kode QR dilakukan untuk mendekatkan layanan bacaan kepada masyarakat. Program ini juga diarahkan untuk meningkatkan kegemaran membaca, sekaligus menyesuaikan layanan perpustakaan dengan perkembangan teknologi digital.
Sejumlah tempat yang telah menjadi lokasi pemasangan antara lain posyandu, hotel, pusat perbelanjaan atau mal, serta ruang publik lainnya. Kenny menyebut beberapa hotel sudah ikut menyediakan akses tersebut. Dengan demikian, layanan MACA tidak hanya ditempatkan di satu jenis fasilitas, melainkan didistribusikan ke berbagai tempat yang dapat dijangkau masyarakat.
Baca juga: Konveksi Lapas Jelekong Catat Omzet Lebih dari Rp1 Miliar
“Sekarang kita distribusikan ke berbagai tempat di ruang publik, termasuk di dalamnya ada posyandu, hotel sudah ada beberapa, mal, dan beberapa tempat lainnya,” kata Kenny di Bandung, Senin.
Melalui kode QR, pengunjung di lokasi-lokasi itu dapat mengakses koleksi perpustakaan digital. Cara tersebut menjadi bentuk layanan yang menghubungkan bahan bacaan dengan penggunaan perangkat digital yang sudah akrab dalam keseharian masyarakat. Pemerintah Kota Bandung, melalui Disarpus, menghadirkan MACA sebagai salah satu upaya agar perpustakaan tetap dapat diakses di tengah perubahan kebiasaan tersebut.
Saat ini, MACA menyediakan sekitar 357 judul buku elektronik dengan jumlah sekitar 1.800 eksemplar. Koleksinya mencakup beragam kategori, mulai dari cerita anak, fiksi, nonfiksi, sejarah, dan sastra. Ada pula buku tentang cara bertanam serta berbagai pengetahuan lainnya. Ragam tersebut membuat bahan bacaan yang tersedia tidak terbatas pada satu kelompok pembaca atau satu tema saja.
Baca juga: Baznas Sumedang Dampingi 50 Petani Kelola 50 Hektare Jagung
Kenny menjelaskan, penyesuaian layanan itu berkaitan dengan kebiasaan masyarakat, termasuk anak-anak yang semakin sering menggunakan gawai. Menurut dia, kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menyediakan perpustakaan digital, tanpa mengabaikan tujuan untuk mendorong minat membaca.
“Kita melihat anak-anak sekarang lebih senang scroll dengan gawai masing-masing. Selain itu, era digitalisasi ini merupakan sesuatu yang memang tidak bisa kita elakkan,” ujarnya.
Dalam keterangan yang diberitakan ANTARA Jabar, Kenny juga menyampaikan bahwa platform MACA diluncurkan sekitar dua bulan sebelum program mulai didistribusikan ke berbagai lokasi. Setelah peluncuran, penyebaran akses dilakukan di antaranya ke posyandu, hotel, pusat perbelanjaan, serta sejumlah ruang publik lainnya. Tahapan itu memperluas tempat masyarakat dapat menemukan layanan tersebut.
Baca juga: Polresta Bandung Siapkan Pengamanan Penuh untuk Tiga Laga Persib di SJH
Disarpus Kota Bandung membuka peluang bagi masyarakat untuk membantu memperluas jangkauan MACA. Kenny berharap warga bersedia menyalin kode QR program itu dan memasangnya di lokasi yang mudah dijangkau. Dengan cara tersebut, akses perpustakaan digital dapat semakin tersebar di Kota Bandung, sejalan dengan distribusi yang telah dilakukan ke lebih dari 100 titik.
Harapan itu disampaikan sebagai bagian dari upaya memperbanyak lokasi yang menyediakan akses menuju koleksi digital MACA. Kode QR menjadi sarana yang digunakan untuk menghubungkan masyarakat dengan buku elektronik, sementara jenis bacaan yang tersedia mencakup cerita anak hingga pengetahuan tentang bertanam. Program ini menempatkan layanan literasi di ruang publik dan memanfaatkan perangkat digital yang digunakan masyarakat.





