S’RASA Catat Transaksi USD 31,14 Juta di TEI ke-41
CIANJUR.CO - Program Rasa Rempah Indonesia (S’RASA) membukukan total nilai sekitar USD 31,14 juta atau setara Rp560,61 miliar dalam Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41. Capaian tersebut terdiri atas potensi transaksi melalui nota kesepahaman serta nilai kontak dagang dan penjualan ritel di Paviliun S’RASA.
Berdasarkan laporan Kementerian Perdagangan RI, potensi transaksi mencapai USD 30,2 juta melalui penandatanganan 14 nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU). Kesepakatan itu melibatkan produsen bumbu Indonesia dan importir dari Belanda, Australia, Amerika Serikat, Inggris, serta Jepang. Sementara itu, kontak dagang dan penjualan ritel di paviliun menghasilkan nilai USD 944,85 ribu.
TEI ke-41 berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten. Dalam pameran tersebut, Paviliun S’RASA menjadi ruang promosi produk pangan, bumbu, dan rempah sekaligus mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan calon mitra bisnis dari berbagai negara.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengapresiasi capaian program tersebut. Ia menilai promosi kuliner dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan produk pangan, bumbu, dan rempah Indonesia, sekaligus membuka kesempatan kerja sama bisnis dengan mitra internasional.
“Promosi kuliner Indonesia harus mampu membuka peluang bisnis bagi produsen di dalam negeri,” ujar Mendag Busan. Ia mengatakan S’RASA juga mendorong restoran Indonesia di luar negeri agar terus menggunakan produk dari Indonesia. Dengan demikian, restoran tidak hanya mengenalkan cita rasa Nusantara, tetapi turut mendukung peningkatan ekspor dan perluasan pasar produk nasional.
Baca juga: Terve Chocolate Bawa Cita Rasa Nusantara ke Pasar Global
Pertemukan pelaku usaha dengan calon mitra dari 20 negara
Selama pameran, Paviliun S’RASA mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan calon mitra dari 20 negara. Negara-negara tersebut adalah Amerika Serikat, Australia, Bangladesh, Belanda, Hungaria, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Korea Selatan, Kuwait, Malaysia, Nigeria, Pakistan, Papua Nugini, Qatar, Tiongkok, Singapura, dan Turki.
Promosi di paviliun juga dilakukan melalui forum bisnis dan demonstrasi memasak. Sejumlah koki yang terlibat yaitu Chef Norman Ismail, Chef Sisca Christo, Chef Vindex Tengker, dan Chef Ragil Wibowo. Demo masak menyajikan beragam hidangan yang menggunakan produk pangan, bumbu, serta rempah Indonesia.
Produk yang ditampilkan antara lain Miyago dari DBFoods, Kecap Bango, gula aren Mahorahora, EnakEco, dan Subanabana. Kegiatan promosi tersebut mendapat dukungan dari Koperasi Wanita Ikaboga, Rinnai Indonesia, Garuda Indonesia, dan Bamboe Indonesia.
Salah satu peserta, Mahorahora, menyebut fasilitasi Kementerian Perdagangan melalui Paviliun S’RASA membantu perusahaan menjalin kerja sama dengan Inter Aromat BV dari Belanda. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan MoU dan menjadi langkah bagi Mahorahora untuk memperluas jangkauan ekspor produk gula aren berkualitas tinggi ke pasar global.
Baca juga: Kemenko PMK Perkuat Pendekatan One Health untuk Cegah Rabies di Bali
Head of Sales B2B & Export Mahorahora Ryan Syahrizal menyampaikan apresiasi atas fasilitasi tersebut. “Penandatanganan MoU dengan Inter Aromat BV dari Belanda menjadi langkah penting Mahorahora dalam memperluas jangkauan produk gula aren berkualitas tinggi ke pasar global,” katanya. Ia menyebut program S’RASA sebagai jembatan bagi pelaku usaha lokal untuk bertransformasi dan menembus pasar internasional.
Promosi kuliner diarahkan untuk mendukung ekspor
S’RASA merupakan kampanye gastrodiplomasi untuk memperkenalkan kuliner Indonesia dan memperluas pemasaran produk pangan nasional. Pelaksanaannya menggabungkan kerja Kementerian Perdagangan dengan Kementerian Luar Negeri, Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, serta Kementerian Pariwisata.
Sinergi lintas kementerian itu diarahkan untuk memperkuat keterhubungan produk pangan, restoran Indonesia di luar negeri, dan promosi identitas budaya Indonesia. Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi menjelaskan, S’RASA menghubungkan promosi kuliner Nusantara dengan pengembangan ekspor melalui penguatan jejaring restoran Indonesia di luar negeri.
Program tersebut juga mendorong penggunaan produk pangan, bumbu, dan rempah Indonesia dalam industri kuliner mancanegara. Menurut Puntodewi, langkah itu ditujukan untuk membangun kebutuhan pasar yang berkelanjutan bagi produsen nasional. Ketertarikan calon pembeli, lanjutnya, perlu diikuti komunikasi bisnis, pengiriman sampel, penawaran harga, serta pemenuhan persyaratan produk di negara tujuan.
Baca juga: Karhutla: 295 Ribu Kasus ISPA, Pembelajaran 7,9 Juta Siswa Terdampak
“Kami berharap, upaya tersebut dapat mendorong kesepakatan awal dengan buyer untuk menjadi transaksi ekspor yang berkelanjutan ke negara-negara tujuan ekspor,” ujar Puntodewi. Pernyataan itu menekankan bahwa pertemuan di pameran merupakan bagian awal dari proses bisnis yang perlu ditindaklanjuti agar peluang dapat berkembang menjadi transaksi ekspor.
Sebagai tindak lanjut program untuk 2026, Direktorat Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag akan membawa S’RASA ke Japan International Food & Beverage Expo (JFEX) 2026 di Tokyo, Jepang, pada 11–14 November 2026. Partisipasi ini diarahkan untuk mempertemukan produsen Indonesia dengan calon pembeli dan pelaku industri hotel, restoran, dan kafe (horeka) di Jepang.
Puntodewi menjelaskan, keikutsertaan tersebut akan digunakan untuk menjajaki pemanfaatan produk pangan, bumbu, dan rempah Indonesia dalam operasional bisnis kuliner setempat. Kemendag akan mendorong penjajakan bisnis serta peluang penggunaan produk Indonesia untuk memenuhi kebutuhan industri kuliner Jepang. “Melalui pendekatan ini, promosi S’RASA diharapkan tidak hanya memperluas pengenalan produk, tetapi juga membangun hubungan dagang yang dapat mendukung kesinambungan pasokan bagi pelaku usaha kuliner,” imbuhnya.