Terve Chocolate Bawa Cita Rasa Nusantara ke Pasar Global
CIANJUR.CO - Cokelat batang umumnya dikenal melalui rasa manis, tetapi Terve Chocolate menghadirkan pilihan dengan karakter rempah dan pangan Nusantara. Produk CV Mimpi Masa Kecil Anak Indonesia itu menawarkan varian rasa seperti daun kelor, kunyit, tempe, hingga rendang. Perpaduan cokelat dan rempah tersebut dibawa untuk menarik perhatian konsumen sekaligus memperkenalkan cita rasa Indonesia ke pasar global.
Inovasi itu tampil dalam Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 yang berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten. Berdasarkan laporan Kementerian Perdagangan RI pada 20 Oktober 2026, Terve Chocolate mengikuti pameran tersebut melalui Paviliun Archipelago of Cacao dengan fasilitasi kementerian. Kehadiran di pameran menjadi kesempatan untuk bertemu konsumen dan calon pembeli, sekaligus mengedukasi pengunjung mengenai cokelat fermentasi.
Gagasan menghadirkan rasa khas Indonesia berawal dari pengalaman mengikuti pameran di luar negeri. Abay, perwakilan Terve Chocolate, mengatakan pihaknya melihat tempe dan rendang telah dikenal di pasar internasional. Pengamatan itu mendorong perusahaan mengembangkan rasa yang mengangkat bahan dan masakan Nusantara, bukan sekadar mengikuti cita rasa cokelat yang sudah umum.
“Ide rasa Nusantara muncul saat Terve Chocolate mengikuti berbagai pameran di luar negeri,” ungkap Abay. Dari gagasan tersebut, perusahaan membuat varian dark chocolate 65 persen dengan rasa crispy tempe spicy dan rendang padang spicy. Karakter pedas dan gurih dari inspirasi kuliner itu dipadukan dengan cokelat, sehingga produk yang diperkenalkan memiliki identitas rasa tersendiri.
Baca juga: Kemenko PMK Perkuat Pendekatan One Health untuk Cegah Rabies di Bali
Di samping inovasi rasa, Terve Chocolate menerapkan pendekatan bean-to-bar. Biji kakao diolah oleh perusahaan sejak tahap awal hingga menjadi cokelat siap santap. Bahan baku yang digunakan telah difermentasi, sehingga karakter kakao dari masing-masing daerah dapat tampil lebih kuat. Biji dari Jembrana, Aceh, dan Cilacap, misalnya, memiliki nuansa berbeda, dari cita rasa buah-buahan dan karamel hingga karakter earthy dan nutty.
Perbedaan karakter asal kakao itu menjadi bagian dari cara perusahaan memperkenalkan cokelat kepada konsumen. Untuk pembeli dewasa, Terve Chocolate menggunakan pendekatan seperti kopi, dengan konsep single origin, house blend, dan fancy chocolate. Sementara itu, produk untuk anak-anak dikenalkan melalui cokelat susu yang tetap mengandung dark chocolate. Menurut Abay, pembagian pendekatan tersebut ditujukan agar produk dapat dikenal oleh masyarakat dari segmen konsumen yang berbeda dan cokelat Indonesia bisa dinikmati secara sehat.
Usaha Terve Chocolate juga mencakup proses di hulu, bukan hanya pengembangan dan penjualan produk jadi. Perusahaan bermitra dengan petani di 14 lokasi dan melakukan pendampingan sejak perawatan tanaman sampai proses fermentasi biji. Pendampingan itu berkaitan dengan upaya meningkatkan pemahaman petani mengenai pengolahan kakao, terutama fermentasi.
Baca juga: Karhutla: 295 Ribu Kasus ISPA, Pembelajaran 7,9 Juta Siswa Terdampak
Abay menyebut masih banyak petani yang belum memahami proses fermentasi dan belum menyadari bahwa biji yang difermentasi dapat dihargai lebih tinggi. Karena itu, Terve Chocolate terlibat dalam rantai produksi dari hulu hingga hilir. “Oleh karena itu, Terve bergerak di hulu dan hilir agar kakao petani dapat dibeli dengan harga terbaik dan mengenal asal-usul kakaonya,” kata Abay.
Pencarian potensi kakao dari beragam daerah juga membawa perusahaan ke Aceh, wilayah yang selama ini lebih identik dengan kopi. Salah satu hasilnya adalah cokelat Aceh produksi Terve Chocolate yang meraih medali perak dalam ajang Cacao of Excellence di Amsterdam, Belanda, pada 2026. Penghargaan tersebut menjadi capaian bagi produk kakao daerah yang dikembangkan perusahaan.
Terve Chocolate telah mengekspor produknya ke Jepang dan Jerman. Sejumlah calon pembeli lain masih menjajaki pasar, sehingga perusahaan juga membuka peluang untuk memperluas jangkauan penjualan. Dalam menjalankan usaha, Abay menyatakan perusahaan mengusung pemanfaatan kekayaan alam secara tepat, kebersamaan dengan petani, perhatian terhadap proses pengolahan, serta keberanian untuk terus bereksperimen.
Baca juga: Kemendag Dorong Ekspor Produk Hijau Lewat Forum Bisnis TEI ke-41
Partisipasi dalam TEI ke-41 menghubungkan upaya tersebut dengan pengenalan produk kepada pengunjung dan calon buyer. Di Paviliun Archipelago of Cacao, Terve Chocolate tidak hanya menampilkan varian rasa, tetapi juga menjelaskan cokelat fermentasi dan cerita di balik asal kakao. Bagi perusahaan, cokelat menjadi cara untuk menyampaikan kekayaan bahan Indonesia sekaligus menunjukkan proses yang melibatkan petani.
“Bagi kami, sebatang cokelat membawa cerita yang lebih panjang daripada sekadar rasa manis,” ujar Abay. Ia mengatakan semangat “mimpi masa kecil” menjadi dorongan agar cokelat Indonesia dikenal dunia dan usaha tersebut tumbuh bersama para petani.