Kemendag Dorong Profesional Indonesia Perluas Pasar Jasa
CIANJUR.CO - Kementerian Perdagangan mengajak tenaga profesional Indonesia memanfaatkan perjanjian perdagangan internasional untuk memperluas akses pasar jasa dan meningkatkan daya saing di Australia, Kanada, Jepang, Korea Selatan, serta Swiss. Bidang yang dinilai memiliki potensi mencakup teknologi informasi, keinsinyuran, arsitektur, konsultasi, kesehatan, dan keperawatan.
Ajakan tersebut disampaikan Direktur Perundingan Jasa dan Perdagangan Melalui Sistem Elektronik Kemendag, Mochamad Rizalu Akbar, saat membuka seminar mengenai peluang akses pasar tenaga kerja profesional Indonesia melalui perjanjian dagang dengan kelima negara. Seperti diberitakan Kementerian Perdagangan RI, seminar berlangsung pada Sabtu (17/10), dalam rangkaian Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten.
Rizalu menyebut perjanjian dagang dapat menjadi jalur untuk memperluas ekspor tenaga profesional ke negara mitra. Penguatan tenaga profesional, menurut dia, juga dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan kapasitas dalam jejaring usaha dan akses ke pasar internasional.
“Kami mengajak tenaga profesional untuk memanfaatkan berbagai perjanjian dagang dalam memperluas ekspor tenaga profesional kita ke negara-negara mitra,” ujar Rizalu. Ia menyampaikan bahwa manfaat yang diharapkan tidak hanya berupa terbukanya akses pasar, tetapi juga penguatan kapasitas profesional yang mendukung jejaring usaha.
Peluang penempatan bergantung pada negara tujuan
Direktur Promosi dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Perlindungan Pekerja Indonesia, Sri Mulyani, menjelaskan bahwa kesempatan penempatan tenaga kerja Indonesia di lima negara tersebut berbeda-beda. Peluangnya bergantung pada kebutuhan tenaga kerja dan mekanisme penempatan yang berlaku di masing-masing negara tujuan.
Baca juga: Mendag Budi Santoso Tekankan Peran Perwadag untuk Tingkatkan Ekspor
Salah satu contoh yang disampaikan Mulyani adalah skema kerja sama antarpemerintah atau government to government (G-to-G) dengan Jepang. Skema itu membuka peluang lebih besar bagi penempatan tenaga perawat dan perawat untuk lanjut usia. Calon pekerja migran Indonesia dalam skema tersebut juga mendapat dukungan pelatihan dan sertifikasi.
Mulyani mengatakan pemetaan yang dilakukan mencakup negara mitra, sektor utama pekerja migran Indonesia (PMI), kebutuhan negara tujuan, serta mekanisme perlindungan. Menurutnya, bentuk perlindungan dapat berbeda pada setiap kerja sama ekonomi. Australia, misalnya, memiliki Program Katalis. Sementara itu, Kanada disebut memiliki kebijakan imigrasi yang ramah dan menjadi salah satu negara pelopor dalam menerima imigran.
“Kami mencoba memetakan negara mitra, sektor utama pekerja migran Indonesia (PMI), kebutuhan negara mitra, serta mekanisme pelindungannya,” kata Mulyani. Pemetaan tersebut, sebagaimana ia jelaskan, memperhatikan kebutuhan di negara tujuan sekaligus perlindungan yang terkait dengan kerja sama ekonomi.
Pariwisata dan kesiapan keterampilan
Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA), Hairani Tarigan, menilai sektor pariwisata perlu mendapat perhatian dalam perjanjian perdagangan jasa. Karakter perdagangan jasa di sektor ini, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan pengiriman tenaga profesional untuk bekerja di luar negeri.
Hairani menjelaskan, penempatan tenaga profesional di luar negeri termasuk dalam Moda 4, atau Movement of Natural Persons. Di sisi lain, pariwisata juga berkaitan dengan Moda 2, yaitu Consumption Abroad, ketika layanan diberikan kepada wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia. Ia turut menekankan perlunya tenaga profesional memperkuat kemampuan bahasa asing dan memastikan sertifikasi kompetensinya terpenuhi.
Baca juga: Empat Instansi Daerah Raih IPSKA Award 2026 dari Kemendag
Dari sisi pelatihan, Ketua Tim Pembinaan Penyelenggaraan Pelatihan Vokasi Kementerian Ketenagakerjaan, Gilang Amaldi, menyampaikan bahwa Kemnaker berfokus menyediakan informasi pasar kerja melalui Karir Hub. Kementerian juga menyediakan pelatihan vokasi untuk menjembatani kesenjangan keterampilan antara pencari kerja dan kebutuhan industri, baik di dalam maupun di luar negeri.
“Saat ini, kami memiliki sekitar 5.000 program pelatihan vokasi gratis,” ujar Gilang. Ia menambahkan, Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) swasta dapat memanfaatkan kurikulum dan materi pelatihan yang telah disediakan Kemnaker. Informasi pasar kerja dan pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya menyesuaikan keterampilan pencari kerja dengan kebutuhan industri.
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia, Aprisunadi, menyoroti kebutuhan tenaga keperawatan di berbagai negara yang belum sepenuhnya dapat dipenuhi Indonesia. Jepang menjadi salah satu negara dengan permintaan perawat yang tinggi. Kebutuhan serupa juga terdapat di sejumlah negara Eropa dan Malaysia.
Aprisunadi menyebut keramahan dan kemampuan beradaptasi dengan kebutuhan pasien sebagai nilai lebih perawat Indonesia. Kedua kemampuan itu mendukung pelaksanaan berbagai tugas utama dalam pekerjaan keperawatan. Meski peluang permintaan cukup besar, ia menegaskan bahwa kebutuhan di sejumlah negara tersebut belum sepenuhnya terpenuhi oleh tenaga dari Indonesia.
Baca juga: Talasi Bawa Produk Hasil Bumi Indonesia Menatap Pasar Dunia
Akses pasar dan proses penempatan
Ketua Divisi Amerika Utara Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (APJATI), Sapto Priantomo, mengapresiasi upaya Kemendag membuka akses pasar tenaga profesional melalui perundingan perdagangan internasional. Namun, menurutnya, terbukanya akses perlu disertai penyederhanaan prosedur administrasi di negara tujuan, terutama dalam pengurusan visa dan izin kerja.
Sapto juga menyoroti pentingnya penguatan ekosistem penyiapan tenaga kerja agar Indonesia dapat memenuhi kebutuhan tenaga kerja internasional. Dengan demikian, pembukaan akses melalui perjanjian dagang perlu diikuti kesiapan tenaga kerja dan proses penempatan, termasuk kelancaran administrasi yang menjadi perhatiannya.
Salah satu peserta seminar, Dosen Institut Teknologi Dirgantara Adisutjipto Muhammad Jalu Purnomo, mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan Kemendag. Ia menilai informasi seminar bermanfaat bagi perguruan tinggi untuk mengidentifikasi kesenjangan antara kompetensi lulusan dan permintaan pasar kerja internasional. Informasi tersebut juga dapat membantu kampus mempersiapkan alumni agar memiliki keterampilan sesuai kebutuhan negara tujuan.
“Dari seminar ini, kita bisa mengetahui permintaan dari luar negeri. Dari kesenjangan permintaan dengan ketersediaan ini, kami bisa mempersiapkan alumni dengan lebih baik,” ujar Jalu. Ia menyampaikan bahwa pemahaman mengenai permintaan luar negeri dapat menjadi bahan bagi perguruan tinggi dalam menyiapkan lulusan.