UPDATE

Talasi Bawa Produk Hasil Bumi Indonesia Menatap Pasar Dunia

18/10/2026 21:47

CIANJUR.CO - Rosela, kacang mete Sumba, madu dari kawasan hutan, hingga vanila Pulau Alor menjadi bagian dari kekayaan hasil bumi yang dikembangkan Talasi. Perusahaan ini membawa produk dari berbagai daerah di Indonesia ke pasar bernilai tinggi dengan menonjolkan kemurnian bahan, informasi asal-usul, dan perhatian terhadap keberlanjutan. Upaya tersebut turut diperkenalkan dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026.

Seperti diberitakan Kementerian Perdagangan RI pada 18 Oktober 2026, perjalanan Talasi bermula dari kunjungan Alisjahbana Haliman ke Pulau Sumba pada 2017. Ketertarikannya terhadap pesona dan potensi alam pulau itu melahirkan gagasan untuk memberi nilai tambah pada hasil bumi di tempat bahan baku tumbuh dan dipanen. Dari gagasan tersebut, Talasi kemudian berkembang dengan membawa produk lokal Indonesia ke pasar bernilai tinggi, sambil mempertahankan perhatian pada kelestarian bumi dan kesejahteraan petani.

Talasi menggunakan filosofi “Finest Things From The Origin” dalam mengembangkan produknya. Perusahaan ini mengelola bahan dari 18 daerah asal dan menawarkan lebih dari 65 produk pilihan. Salah satu hal yang ditekankan adalah keterbukaan informasi sepanjang rantai pasok, sehingga konsumen dapat mengetahui bahan yang digunakan serta asal bahan baku sebelum produk sampai ke tangan mereka.

Manajer operasional Talasi, Ricky Aditya, mengatakan perusahaan berkomitmen memberikan informasi yang jujur dan akurat. Prinsip itu, menurut dia, diwujudkan melalui pelabelan yang jelas atau truthful labeling. Informasi pada produk mencakup daftar bahan murni tanpa aditif buatan, rincian asal bahan baku, serta kepatuhan terhadap standar sertifikasi internasional yang ramah lingkungan.

Baca juga: TEI ke-41 Catat Potensi Transaksi USD 22,94 Miliar

Produk dari berbagai daerah

Salah satu produk yang ditawarkan adalah kacang mete Watu. Produk ini dibuat dari 100 persen kacang mete panggang alami asal Sumba, tanpa pengawet buatan. Kacang mete tersebut disebut kaya antioksidan, vitamin, dan mineral penting. Talasi menampilkan asal bahan serta komposisi produk sebagai bagian dari keterbukaan yang mereka dorong kepada konsumen.

Produk lainnya adalah madu murni yang berasal dari 11 wilayah konservasi dan kawasan nasional di Indonesia. Daerah asalnya meliputi Seulawah Agam di Aceh; Bukit Tigapuluh dan Riau; Kapuas Hulu dan Bonti di Kalimantan Barat; Bangka; Ujung Kulon; Merapi; Luwu; serta Alor dan Rote di Nusa Tenggara Timur. Untuk memeriksa keasliannya, madu Talasi diuji secara ketat menggunakan penganalisis isotop karbon. Hasil pengujian itu digunakan untuk memastikan madu tersebut 100 persen murni, tanpa tambahan gula atau pewarna.

Talasi juga menghadirkan Teh Herbal Watu, yang memadukan kelopak rosela merah delima dengan daun kelor pilihan dari Sumba. Kedua bahan itu diolah secara alami menjadi minuman herbal. Selain itu, ada ekstrak vanila murni non-alkohol dari Pulau Alor, yang dapat memberikan aroma harum dan rasa alami pada berbagai sajian kuliner.

Baca juga: Ruma Papua Kenalkan 12 Varian Kombucha, Raih UKM Pangan Award 2026

Pengembangan produk tersebut berjalan berdampingan dengan kerja sama di tingkat produksi. Talasi bermitra dengan lebih dari 200 petani lokal dan mengelola kawasan estate utama di Sumba. Perusahaan menyatakan kemitraan itu ditujukan untuk membantu memastikan pendapatan petani lebih stabil. Bagi Talasi, kegiatan usaha tidak hanya berkaitan dengan jual beli, tetapi juga upaya menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat di sekitar daerah produksi.

Ricky menjelaskan, dukungan kepada petani tidak berhenti pada pembelian hasil panen. Talasi juga memberikan pendampingan dan pelatihan mengenai praktik pertanian berkelanjutan. Upaya tersebut ditujukan untuk menekan jejak karbon, sementara sebagian hasil penjualan disisihkan sebagai kontribusi sosial bagi masyarakat. Dengan demikian, keterlibatan Talasi mencakup proses produksi sekaligus dukungan terhadap lingkungan dan komunitas setempat.

Masyarakat dan wisatawan juga dapat melihat langsung perjalanan produk di Weetabula Estate, Sumba. Ricky menyebut pengunjung dapat menyentuh dan merasakan bahan maupun produk, serta menyaksikan prosesnya dari alam hingga menjadi barang siap konsumsi. Kunjungan itu memberi kesempatan untuk melihat asal-usul produk yang juga menjadi bagian dari informasi yang disampaikan Talasi kepada konsumen.

Baca juga: Kemendag Perkuat Daya Saing Kelapa dan Lada Lewat Kerja Sama Global

Peluang kerja sama di TEI 2026

Selama mengikuti TEI 2026, Talasi berfokus menjalin jejaring dengan para pengunjung dan menjajaki peluang kerja sama antarbisnis atau B2B, kolaborasi jenama, serta ekspansi ke luar negeri. Ricky mengatakan pengunjung stan menunjukkan apresiasi terhadap produk Talasi dan konsep truthful labeling yang diterapkan perusahaan.

Dalam kesempatan itu, Talasi juga mendapat perhatian dari pengunjung luar negeri. Ricky menyampaikan bahwa seorang pengunjung dari Bangladesh tampak tertarik pada produk-produk mereka. Sejumlah tamu dari Jepang turut memberikan apresiasi terhadap kacang mete Talasi, baik dari sisi rasa maupun cerita di balik produk tersebut. Ketertarikan itu menjadi bagian dari interaksi Talasi dengan pengunjung selama pameran, ketika perusahaan berupaya membuka peluang hubungan usaha dan kolaborasi.

Kementerian Perdagangan mengapresiasi dan mendukung langkah pelaku usaha yang mengedepankan keberlanjutan, transparansi, serta pemberdayaan masyarakat di sekitar basis produksi. Inisiatif Talasi dinilai sejalan dengan visi untuk memajukan perdagangan nasional yang memiliki nilai tambah tinggi dan daya saing global. Melalui perpaduan kualitas produk dan kearifan lokal, Talasi membawa hasil bumi dari sejumlah daerah Indonesia untuk menjangkau pasar yang lebih luas.