TechCrunch Founder Summit 2026 Hadirkan Pendiri Toast hingga Investor Bessemer
CIANJUR.CO - Membangun perusahaan rintisan berarti mengambil keputusan ketika jawaban atas berbagai persoalan belum sepenuhnya tersedia. Kapan bisnis sebaiknya diperbesar? Bagaimana pendiri mengetahui bahwa produknya benar-benar sesuai dengan kebutuhan pasar? Apa yang diperlukan untuk mendapatkan pelanggan korporasi, membentuk tim yang tepat, dan menyampaikan pitch yang membuat investor bersedia melanjutkan pembicaraan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian dari agenda TechCrunch Founder Summit 2026, yang akan berlangsung pada 4 November di SoWa Power Station, Boston. Menurut laporan TechCrunch AI, acara sehari penuh ini mempertemukan pendiri, investor, dan pelaku operasional perusahaan yang menghadapi persoalan itu dari sudut pandang berbeda.
Summit diselenggarakan TechCrunch bersama Fidelity Private Shares. Pembahasannya tidak hanya mengenai penggalangan dana dan kecerdasan buatan (AI), tetapi juga mencakup pencarian pelanggan, pembentukan tim, penyempurnaan pitch, kepemimpinan pendiri, serta cara mengembangkan perusahaan di dalam maupun di luar pusat-pusat startup tradisional.
Salah satu pembicara yang membawa pengalaman membangun perusahaan dari Boston adalah Steve Fredette, presiden, salah satu pendiri, sekaligus direktur Toast. Ia akan tampil di Impact Stage dalam sesi “Building a Company That Keeps Reinventing Itself”.
Perjalanan Toast akan dibahas sebagai contoh bagaimana perusahaan dapat mengenali persoalan pelanggan, menemukan product-market fit, meraih pelanggan, kemudian tumbuh dari startup Boston menjadi perusahaan publik. Namun, mencapai skala besar bukan berarti pekerjaan pengembangan perusahaan selesai.
Dalam sesi tersebut, Fredette akan membahas upaya menjaga perusahaan tetap berkembang ketika harapan pelanggan, teknologi, dan kondisi pasar berubah. Pada saat yang sama, perusahaan perlu terus terhubung dengan kebutuhan yang menjadi dasar lahirnya bisnis. Dengan begitu, kisah Toast tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan, tetapi juga tentang kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan fokus awal.
Baca juga: inDrive Siapkan Uji Coba Robotaxi di Astana pada 2027
Persoalan waktu untuk bertumbuh juga menjadi tema tersendiri. Kent Bennett, partner di Bessemer Venture Partners, akan memimpin sesi “Finding Product Market Fit Before You Scale”. Fokusnya adalah membantu pendiri menilai pertanyaan mendasar: apakah pelanggan benar-benar menunjukkan bahwa perusahaan sudah siap berkembang?
Peserta diajak menimbang sinyal yang perlu diperhatikan sebelum menambah jumlah karyawan, menaikkan pengeluaran, atau mempercepat upaya pemasaran dan penjualan. Materi ini menjadi penyeimbang bagi budaya startup yang kerap mendorong perusahaan bergerak semakin cepat. Dalam kondisi tertentu, langkah yang lebih tepat adalah memastikan fondasi bisnis sudah cukup kuat sebelum memperbesar operasi.
Rudina Seseri, pendiri dan managing partner Glasswing Ventures, akan mengangkat dilema serupa melalui sesi “When to Scale and When to Hit the Brakes”. Ia akan membahas cara membedakan keadaan yang membutuhkan percepatan dari situasi ketika menahan laju dapat melindungi bisnis.
Pendiri perusahaan terus membuat pilihan antara mengejar pertumbuhan dan menjaga disiplin. Karena itu, mengetahui kapan tidak perlu memperbesar bisnis dapat sama pentingnya dengan menentukan kapan harus bergerak penuh. Sesi Seseri menempatkan keputusan tersebut sebagai bagian dari pengelolaan perusahaan, bukan sekadar persoalan kecepatan ekspansi.
Perubahan teknologi juga masuk dalam agenda. Lior Div, CEO sekaligus salah satu pendiri 7AI, akan membawakan “Built for AI From Day One”. Sesi ini menyoroti perbedaan antara menambahkan AI ke proses yang telah berjalan dan membangun perusahaan dengan AI sebagai bagian dari rancangan sejak awal.
Bagi pendiri yang merintis bisnis dalam lingkungan teknologi saat ini, pembahasan tersebut membuka ruang untuk melihat AI lebih jauh daripada sekadar fitur produk. Teknologi itu juga dapat memengaruhi arsitektur dan model operasi perusahaan secara keseluruhan. Materi ini menjadi bagian dari fokus summit pada implikasi AI terhadap produk, kegiatan operasional, dan tim.
Baca juga: Agen AI di Pulau Virtual Menciptakan Permainan dan Belajar
Agenda Boston juga menekankan bahwa ekosistem startup tidak hanya berada di Silicon Valley. Chase Garbarino, CEO dan salah satu pendiri HqO, akan mengisi Impact Stage dalam sesi “The Boston Founder Playbook”. Ia akan membahas arti membangun dan mengembangkan perusahaan dari Boston.
Sudut pandang tersebut dinilai relevan bagi pendiri di New England dan ekosistem East Coast yang lebih luas, terutama mengenai talenta, pelanggan, modal, serta komunitas di luar Bay Area. Bersama pengalaman Fredette di Toast, sesi Garbarino membentuk benang merah lokal dalam acara ini: perusahaan ambisius dapat dibangun di Boston, dan para pendirinya tidak harus meniru Silicon Valley.
Selain strategi membangun perusahaan, summit akan membahas cara menyampaikan gagasan kepada investor. Dave Balter, venture partner di True Ventures sekaligus CEO Edisyl, akan memimpin “Your Pitch Has to Earn the Next Conversation”. Pokok bahasannya adalah bahwa pitch tidak harus langsung menutup kesepakatan; yang penting, penyampaian itu membuat pihak lain ingin melanjutkan percakapan.
Bagi pendiri yang terbiasa menjelaskan perusahaan setiap hari, sesi tersebut menggarisbawahi perbedaan antara memahami bisnis sendiri dan mampu mengomunikasikan ceritanya. Keduanya merupakan keterampilan yang berbeda, sehingga cara menyampaikan perusahaan menjadi bagian penting dari persiapan menghadapi investor.
Gagasan tentang pitch kemudian akan diuji secara langsung di Build Stage melalui “So You Think You Can Pitch?”. Para pendiri akan mempresentasikan perusahaan di hadapan panel juri investor. Balter akan bergabung dengan Chirag Shah, partner di Define Ventures, serta Simran Suri, principal di Maveron.
Baca juga: OpenAI Dikabarkan Bidik Pendanaan US$30 Miliar dengan Valuasi US$1,25 Triliun
Format langsung itu memberi peserta kesempatan menyaksikan bagaimana pendiri menyampaikan ide dalam waktu terbatas dan bagaimana investor merespons saat itu juga. Sesi interaktif ini juga memungkinkan peserta belajar dari pitch yang berhasil menarik perhatian maupun presentasi yang masih menyisakan pertanyaan.
Program lainnya mencakup berbagai persoalan yang dihadapi perusahaan rintisan. Hunter Worland dari NEA akan membahas alasan distribusi dapat menjadi keunggulan kompetitif berikutnya bagi startup. Vineet Edupuganti, salah satu pendiri sekaligus CEO Cogent Security, akan mengulas pembangunan tim 10x. Sementara itu, Tina Tosukhowong dari TDK Ventures akan membahas sinyal tersembunyi yang dapat membantu mengidentifikasi perusahaan yang berpotensi menjadi pemimpin kategori.
Fidelity Private Shares juga akan membawa perspektifnya ke dalam diskusi mengenai tren penggalangan dana bersama Kristen Craft, serta hubungan dengan pelanggan korporasi bersama Evan Schnidman. Rangkaian topik itu membuat agenda tidak hanya berpusat pada putaran pendanaan berikutnya atau tren AI terbaru, tetapi juga pada langkah-langkah praktis membangun perusahaan.
TechCrunch Founder Summit 2026 dijadwalkan berlangsung pada 4 November di SoWa Power Station, Boston. Kegiatan sehari penuh tersebut mencakup percakapan dengan pendiri, sesi praktis, roundtable dalam kelompok lebih kecil, presentasi pitch langsung, networking, dan resepsi penutup yang dipersembahkan Fidelity Private Shares.
Materi acara juga menawarkan potongan harga tiket sebesar 25 persen melalui penawaran terbatas. Peserta yang membeli tiket dapat membawa seorang kolega secara gratis melalui program BOGO. Laporan TechCrunch AI menyebutkan bahwa jumlah tempat terbatas dan acara semakin dekat, sehingga penawaran tersebut disampaikan sebagai kesempatan bagi calon peserta untuk mendaftar.