UPDATE

Kemendag Gandeng ASEI untuk Perkuat Perlindungan dan Daya Saing Ekspor

15/10/2026 22:15

CIANJUR.CO - Kementerian Perdagangan memperkuat ekosistem ekspor nasional dengan mendorong mitigasi risiko, memperluas akses pembiayaan, menjaga kepastian regulasi, dan membuka peluang ke pasar global. Upaya tersebut disampaikan Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri dalam Indonesia Export Competitiveness Forum (IECF) 2026 di Kabupaten Tangerang, Kamis (15/10).

Berdasarkan laporan Kementerian Perdagangan RI, forum yang diselenggarakan PT Asuransi Asei Indonesia (ASEI) itu menjadi bagian dari rangkaian Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41. Kegiatan berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, pada 15 Oktober 2026. Pembahasan forum menempatkan perlindungan dan dukungan pembiayaan sebagai bagian dari upaya meningkatkan daya saing eksportir.

Wamendag Roro menyebut kolaborasi Kemendag dan ASEI berperan dalam membangun ekosistem ekspor yang tangguh serta berkelanjutan. Kemendag menjalankan peran dengan memperluas akses pasar, memperkuat kapasitas eksportir, dan menyediakan informasi perdagangan. Sementara itu, ASEI menyediakan layanan asuransi dan penjaminan kredit ekspor.

Dukungan ASEI, menurut penjelasan tersebut, membantu pelaku usaha mengelola risiko dalam transaksi internasional. Layanan penjaminan juga mendukung kepercayaan lembaga keuangan untuk menyediakan pembiayaan ekspor. Dengan demikian, kerja sama kedua pihak mencakup tahap pengembangan pasar sekaligus perlindungan transaksi dan dukungan bagi pembiayaannya.

“Keberhasilan ekspor tidak berhenti ketika produk berhasil dikirim ke luar negeri, tetapi juga ketika pembayaran dapat diterima, keberlanjutan usaha terjaga, dan hubungan bisnis dapat terus dikembangkan,” ujar Wamendag Roro. Pernyataan itu menekankan bahwa pengiriman barang bukan satu-satunya ukuran keberhasilan kegiatan ekspor. Kelancaran pembayaran dan keberlanjutan hubungan usaha juga menjadi perhatian.

Baca juga: Pemerintah Siapkan Keamanan Digital Indonesia Hadapi Komputasi Kuantum

Penguatan ekosistem tersebut, menurut Roro, diperlukan untuk menjaga momentum perdagangan Indonesia. Pada Januari–Agustus 2026, nilai ekspor Indonesia tercatat USD 193,64 miliar, tumbuh 4,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari jumlah itu, ekspor nonmigas mencapai USD 185,63 miliar atau meningkat 5,48 persen. Neraca perdagangan pada periode tersebut mencatat surplus USD 7,25 miliar.

Untuk membuka lebih banyak peluang bagi pelaku usaha, Kemendag menjalankan program UMKM BISA EKSPOR. Program ini memfasilitasi pertemuan bisnis antara pelaku usaha Indonesia dan calon pembeli internasional. Sepanjang Januari–Agustus 2026, tercatat 711 kegiatan business matching dengan keterlibatan 1.321 pelaku usaha.

Dari rangkaian kegiatan itu, nilai purchase order yang dihasilkan mencapai USD 67,63 juta. Selain pesanan tersebut, terdapat potensi transaksi melalui nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) sebesar USD 279,36 juta. Kedua angka itu menunjukkan hasil yang berbeda: purchase order merupakan pesanan yang tercatat, sedangkan nilai MoU disebut sebagai potensi transaksi.

Kemendag juga memperkuat layanan Export Center, Inaexport, dan Cek Ekspor untuk meningkatkan kesiapan pelaku usaha memasuki pasar internasional. Pada 2025, sebanyak 4.396 UMKM telah memperoleh fasilitasi melalui Export Center. Layanan-layanan tersebut disebut sebagai bagian dari dukungan Kemendag kepada pelaku usaha, berdampingan dengan kegiatan yang mempertemukan mereka dengan calon pembeli.

Baca juga: Indonesia Perkuat Persiapan Aksesi CPTPP Lewat Koordinasi Lintas K/L

Di sisi akses pasar, Kemendag mengoptimalkan diplomasi perdagangan melalui perjanjian internasional, di antaranya Preferential Trade Agreement (PTA), Free Trade Agreement (FTA), dan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA). Upaya membuka akses itu juga disertai dorongan agar eksportir memenuhi standar dan sertifikasi negara tujuan, memahami karakteristik pasar, serta meningkatkan nilai tambah produk.

Wamendag berharap ASEI terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis dalam mendukung dan melindungi kegiatan ekspor Indonesia. Peran yang diharapkan terutama mencakup perluasan akses perlindungan risiko dan pembiayaan bagi eksportir. Dukungan tersebut berkaitan dengan upaya Kemendag memperluas pasar dan meningkatkan kesiapan pelaku usaha menghadapi kebutuhan perdagangan internasional.

IECF 2026 menghadirkan empat narasumber. Mereka adalah Head of Export Credits and Competition Division OECD Silvia Gavornikova, perwakilan Export Development Canada Sean Emmond, Dewan Pakar BA Center Gusmardi Bustami, serta Analis Perdagangan Ahli Utama pada Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Ari Satria.

Ari menjelaskan bahwa peningkatan daya saing ekspor Indonesia memerlukan dukungan dari beberapa sisi, meliputi mitigasi risiko, informasi pasar, fasilitasi akses pembeli, serta pembiayaan dan asuransi ekspor melalui Export Credit Agency (ECA). Kesiapan eksportir, lanjutnya, juga diperkuat lewat Export Coaching Program (ECP), business matching, dan layanan informasi pasar.

Baca juga: Wamendag Roro Dorong Akses Pembiayaan dan Pasar Global bagi Pengusaha Perempuan

Rangkaian dukungan itu diarahkan agar pelaku usaha lebih siap menghadapi tantangan perdagangan global. “Di tengah meningkatnya risiko dan hambatan perdagangan global, eksportir Indonesia perlu memperkuat kesiapan usaha serta memanfaatkan dukungan mitigasi risiko dan pembiayaan ekspor agar mampu bersaing dan memperluas jangkauan pasar internasional,” ujar Ari.

Ratna, pemilik Genta Tata Boga yang memproduksi Bakers’ Creme sekaligus peserta seminar, turut menyampaikan apresiasi terhadap forum tersebut. Ia menilai kegiatan itu memperluas pemahamannya mengenai peran perusahaan asuransi dalam mendukung proses ekspor, sekaligus membuka peluang bagi UMKM untuk menembus pasar internasional.

Ratna mengatakan, setelah mengikuti kegiatan, ia lebih memahami bahwa perusahaan asuransi tidak hanya memberikan perlindungan, tetapi juga memfasilitasi kebutuhan ekspor dari hulu hingga hilir. Ia juga menyambut peluang kerja sama perdagangan Indonesia dan Kanada. “Semoga makin banyak UMKM yang percaya diri untuk mengekspor produknya ke pasar global,” ujar Ratna.