Kemendag Dorong Ekspor Berkelanjutan Indonesia ke Pasar Inggris

15/10/2026 19:17

CIANJUR.CO - Hubungan Indonesia dan Inggris terus berkembang, dengan komitmen kedua negara untuk memperkuat kerja sama strategis di sejumlah sektor prioritas, termasuk perdagangan. Pemerintah menilai kemitraan tersebut dapat membuka ruang lebih besar bagi produk Indonesia di pasar Inggris, terutama jika pelaku usaha mampu memenuhi tuntutan daya saing dan keberlanjutan.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Fajarini Puntodewi, menyampaikan hal itu dalam diskusi panel bertajuk Beyond Compliance: Making Sustainability Indonesia’s Competitive Edge in the UK Market. Kegiatan tersebut berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (15/10). Berdasarkan laporan Kementerian Perdagangan RI, diskusi digelar pada 15 Oktober 2026.

Puntodewi menyebut Inggris sebagai mitra dagang yang penting dan strategis bagi Indonesia. Namun, porsi Indonesia dalam keseluruhan impor Inggris masih kecil. Kondisi itu, menurutnya, sekaligus menunjukkan masih terbukanya peluang untuk memperluas ekspor ke negara tersebut.

Salah satu landasan penguatan hubungan ekonomi kedua negara adalah Indonesia-United Kingdom Economic Growth Partnership (EGP), yang ditandatangani pada Januari 2026. Puntodewi mengatakan kemitraan ini mencerminkan komitmen bersama untuk memperkuat perdagangan, investasi, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan. Ia menegaskan, kerja sama tersebut diarahkan agar hubungan dagang tidak hanya memberi hasil komersial, tetapi juga berlangsung secara inklusif.

Baca juga: Pariwisata Indonesia Tumbuh 5,71 Persen, Investasi Naik 16,64 Persen

Tantangan bagi eksportir akan bertambah seiring perubahan skema perdagangan yang berlaku bagi Indonesia. Mulai Januari 2027, Indonesia beralih dari skema UK Developing Countries Trading Scheme ke UK Global Tariff. Dalam lingkungan perdagangan global yang makin kompetitif, perubahan itu membuat pelaku ekspor perlu semakin mengandalkan mutu produk, inovasi, keandalan, serta praktik berkelanjutan.

Keberlanjutan, kata Puntodewi, kini menjadi salah satu persyaratan pasar. Meski demikian, hal tersebut juga bisa menjadi keunggulan kompetitif bagi produk Indonesia. Ia melihat Indonesia memiliki landasan untuk mengembangkan peluang itu melalui beragam produk dan sektor yang berpotensi memenuhi kebutuhan pasar.

Potensi yang disebut mencakup produk pertanian berkelanjutan, kayu, furnitur, tekstil, fesyen, serta industri kreatif. Pengembangan potensi tersebut berkaitan dengan kesiapan usaha untuk memenuhi standar pasar sekaligus menjaga kualitas dan keandalan pasokan. Karena itu, perubahan tuntutan pasar tidak hanya dipandang sebagai tantangan, tetapi juga peluang untuk memperkuat posisi produk Indonesia.

Baca juga: Wamendag: Swedia Berperan Penting dalam Kemitraan Ekonomi Indonesia-Eropa

Kementerian Perdagangan menyatakan berkomitmen membantu pelaku usaha mengubah tantangan menjadi peluang. Namun, Puntodewi menekankan bahwa upaya pemerintah saja tidak cukup. Penguatan ekspor memerlukan kolaborasi antara pemerintah, pelaku bisnis, pembeli internasional, dan produsen, dengan peran yang saling mendukung.

Pemerintah, menurut Puntodewi, perlu memberikan panduan yang jelas serta memfasilitasi akses terhadap teknologi dan sertifikasi. Pelaku bisnis diharapkan berinvestasi dalam inovasi, pengadaan yang bertanggung jawab, dan rantai pasok yang transparan. Adapun pembeli internasional perlu mendukung pemasok melalui persyaratan yang jelas, pertukaran pengetahuan, serta kemitraan yang adil.

Ia menyebut pendekatan tersebut sebagai semangat kemitraan ekonomi Indonesia dengan Inggris: membangun hubungan perdagangan yang sukses secara komersial sekaligus berkelanjutan dan inklusif. Dengan tanggung jawab yang dibagi di antara para pihak, peningkatan akses pasar dapat berjalan seiring dengan pemenuhan standar yang dibutuhkan.

Baca juga: Sugiono Tinjau Cek Kesehatan Gratis bagi Siswa SMP Negeri 202 Jakarta

Diskusi panel itu juga diikuti Business Development Waste for Change, Maria Theresa. Ia mengatakan kegiatan tersebut memberinya pengetahuan baru untuk menjajaki pasar ekspor dan memperkenalkan produk-produk daur ulang perusahaan ke pasar internasional.

Maria Theresa menuturkan, melalui kegiatan itu ia dapat mempelajari cara dan spesifikasi standar yang harus dipenuhi untuk melakukan ekspor. Ia juga berkesempatan belajar langsung dari pihak-pihak yang lebih dahulu menjalankan kegiatan ekspor. Pengalaman tersebut, menurutnya, memberi pemahaman mengenai persyaratan yang perlu diperhatikan saat memasuki pasar luar negeri.