Pariwisata Indonesia Tumbuh 5,71 Persen, Investasi Naik 16,64 Persen
CIANJUR.CO - Sektor pariwisata Indonesia menunjukkan kinerja yang tetap tangguh di tengah tekanan industri global. Pemerintah menilai sektor ini berperan strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, dan memperluas manfaat pembangunan bagi masyarakat. Penguatan konektivitas, daya saing, serta ketahanan kebijakan menjadi perhatian untuk menjaga momentum tersebut dan memperbesar peluang usaha maupun investasi.
Berdasarkan laporan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, sejumlah indikator ekonomi dan pariwisata pada 2026 memperlihatkan perkembangan positif. Pada semester I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen, tertinggi di antara negara-negara G20. Inflasi September tercatat terkendali sebesar 3,28 persen, sedangkan investasi meningkat 7,2 persen menjadi Rp1.010,6 triliun. Lebih dari separuh investasi tersebut terealisasi di luar Jawa.
Pertumbuhan ekonomi yang bertahan di atas 5 persen selama lima kuartal berturut-turut disebut mencerminkan ketahanan permintaan domestik dan keberlanjutan investasi. Dua kondisi itu dinilai menjadi penopang pengembangan pariwisata, termasuk perjalanan masyarakat serta pembangunan sarana dan layanan yang dibutuhkan sektor tersebut.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Dradjad Hari Wibowo menyampaikan bahwa stabilitas ekonomi berkaitan langsung dengan aktivitas pariwisata. Ia menyampaikan hal itu saat membacakan keynote speech Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto dalam Jakarta Wonderful Indonesia Tourism Fair (WITF) 2026 di Jakarta, Kamis (15/10).
“Bagi sektor pariwisata, stabilitas ekonomi sangat penting,” ujar Dradjad. Menurut dia, daya beli masyarakat yang lebih kuat mendorong perjalanan domestik, sedangkan investasi menopang pembangunan infrastruktur, akomodasi, dan peningkatan layanan pariwisata.
Baca juga: Wamendag: Swedia Berperan Penting dalam Kemitraan Ekonomi Indonesia-Eropa
Ketahanan itu terlihat dari perbandingan dengan kinerja kawasan lain. Pada semester I 2026, kunjungan wisatawan internasional secara global hanya tumbuh 0,4 persen. Timur Tengah mencatat penurunan 22 persen dan Asia Tenggara mengalami kontraksi 1 persen. Pada periode yang sama, Indonesia membukukan pertumbuhan kunjungan sebesar 5,71 persen.
Secara kumulatif, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia selama Januari hingga Agustus 2026 mencapai 10,58 juta kunjungan. Angka tersebut meningkat 5,38 persen dibandingkan periode serupa tahun sebelumnya dan mendekati 99 persen dari tingkat kunjungan pada periode yang sama sebelum pandemi. Capaian itu menandakan pemulihan pariwisata berlanjut dan mendekati tonggak penting.
Peran sektor ini juga tercermin dari kontribusi terhadap ekonomi domestik, devisa, dan lapangan kerja. Sepanjang 2025, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 1,2 miliar perjalanan. Pariwisata menghasilkan devisa sebesar USD18,28 miliar serta mendukung 25,91 juta lapangan kerja. Kontribusi langsung sektor tersebut terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 3,97 persen, dengan nilai investasi Rp73,55 triliun.
Perkembangan pada 2026 melanjutkan momentum itu. Hingga Agustus, perjalanan wisatawan nusantara tercatat 842,15 juta perjalanan, naik 4,29 persen. Devisa pariwisata pada semester I 2026 mencapai USD8,43 miliar. Sementara itu, investasi sektor pariwisata tumbuh 16,64 persen, atau lebih dari dua kali laju pertumbuhan investasi nasional.
Baca juga: Sugiono Tinjau Cek Kesehatan Gratis bagi Siswa SMP Negeri 202 Jakarta
Pemerintah mengaitkan capaian tersebut dengan peluang pariwisata untuk mendorong penciptaan kerja, pembangunan daerah, dan pertumbuhan yang inklusif. Sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, pariwisata ditempatkan sebagai salah satu penggerak strategis pertumbuhan ekonomi. Pada 2026, sektor ini ditargetkan menarik 16–17,6 juta kunjungan wisatawan mancanegara dan menyumbang 4,5–4,7 persen terhadap PDB.
Untuk mencapai sasaran itu, kebijakan perlu mendorong permintaan sekaligus meningkatkan kualitas pariwisata. Pemerintah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun, yang mencakup diskon transportasi dan insentif perpajakan guna mendorong perjalanan wisata domestik. Dukungan tersebut diarahkan untuk membuat perjalanan lebih terjangkau sekaligus memperkuat konektivitas.
Langkah lain yang disiapkan meliputi keringanan PPh bagi 552.000 pekerja sektor perhotelan dan pengembangan keterampilan bagi 400.000 tenaga kerja pariwisata setiap tahun. Pemerintah juga mendorong perluasan akses visa dan konektivitas udara. Rangkaian dukungan itu ditujukan untuk memperbaiki keterjangkauan dan aksesibilitas, sekaligus menjaga peningkatan kualitas layanan.
Dradjad juga menekankan perlunya inovasi dan efisiensi usaha. “Pemerintah akan mengembangkan ekosistem yang mendorong pelaku usaha pariwisata untuk menghasilkan desain produk kreatif dengan harga yang kompetitif,” katanya. Pengembangan produk tersebut dipandang penting agar kekayaan alam dan budaya Indonesia dapat ditawarkan melalui pengalaman wisata yang kreatif dan mampu menjangkau pasar lebih luas.
Baca juga: Kemenko PMK Dorong Penguatan Kapasitas BPBD se-Indonesia
Salah satu pendekatan yang didorong ialah penyelenggaraan acara yang menggabungkan pariwisata dengan olahraga, musik, dan industri kreatif. Selain itu, pemerintah ingin memperkuat industri Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE), antara lain dengan menarik lebih banyak acara bisnis internasional dan menghubungkan penyelenggara acara dengan pelaku usaha lokal.
Upaya memperluas produk dan pasar tersebut membutuhkan kolaborasi pemerintah dengan industri. Kerja sama diperlukan agar potensi destinasi dapat diterjemahkan menjadi peluang usaha, investasi, dan lapangan kerja yang lebih luas. Dalam pernyataan penutupnya, Dradjad menyebut visi pariwisata mencakup penciptaan pekerjaan berkualitas, pemberdayaan masyarakat lokal, penarikan investasi berkelanjutan, serta penguatan daya saing Indonesia di tingkat global.
Hadir dalam WITF 2026 antara lain Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, Ketua Umum GIPI Hariyadi Sukamdani, Ketua Steering Committee WITF Budi Tirtawisata, Asperkeu Setda Provinsi DKI Jakarta Suharini Eliawati, dan Ketua IHLC Sapta Nirwandar.