Pemerintah Jaga Stabilitas Ekonomi dan Dorong Ekspor Nasional
CIANJUR.CO - Pemerintah menempatkan penjagaan stabilitas ekonomi dan penguatan ekspor sebagai dua fokus menjelang akhir tahun. Evaluasi kondisi perekonomian nasional dilakukan untuk menjaga momentum pertumbuhan, sementara upaya mendorong ekspor diarahkan agar potensi sektor usaha, termasuk manufaktur, dapat berkontribusi lebih besar terhadap perdagangan internasional.
Berdasarkan keterangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Presiden Prabowo Subianto memanggil tim ekonomi untuk memperbarui perkembangan situasi perekonomian. Pertemuan berlangsung menjelang akhir tahun sekaligus menjadi bagian dari evaluasi dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan hal tersebut dalam keterangan pers di Istana Negara, Jakarta, Senin (19/10).
Airlangga mengatakan, “Hari ini Bapak Presiden memanggil tim ekonomi.” Ia menjelaskan bahwa pembahasan terutama ditujukan untuk memperbarui situasi ekonomi menjelang tutup tahun dan melihat perkembangan selama dua tahun pemerintahan. Dengan demikian, pertemuan itu memadukan pemantauan keadaan terkini dengan evaluasi atas perjalanan pemerintahan.
Baca juga: Bango Dukung S’RASA Buka Peluang Ekspor Bumbu di TEI ke-41
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah indikator utama menjadi bahan pembahasan. Cakupannya meliputi pertumbuhan ekonomi, perkembangan inflasi, kondisi makro sektor perbankan, serta realisasi investasi. Berbagai indikator itu dibahas sebagai bagian dari penilaian terhadap kondisi perekonomian nasional dan langkah yang perlu diperkuat berikutnya.
Menko Airlangga menyampaikan bahwa kondisi ekonomi Indonesia relatif stabil. Namun, pemantauan indikator tetap diperlukan untuk melihat perkembangan makroekonomi dan mempertimbangkan upaya menjaga momentum pertumbuhan ke depan. Evaluasi tersebut menjadi konteks bagi pembahasan kebijakan, termasuk agenda peningkatan kinerja ekspor.
Penguatan ekspor, menurut pembahasan dalam pertemuan, akan didorong melalui berbagai sektor. Manufaktur disebut sebagai salah satu sektor yang berperan dalam upaya tersebut. Pemerintah ingin mengoptimalkan potensi produksi dalam negeri dan memperluas kontribusi sektor-sektor produktif terhadap perdagangan internasional. Dorongan ini diarahkan untuk memperkuat kinerja ekspor nasional sekaligus memperluas pasar bagi produk Indonesia.
Baca juga: Pemerintah Percepat Penandatanganan IEU-CEPA, Target Berlaku Awal 2027
Selain mendorong kapasitas sektor produktif, pemerintah juga akan mengidentifikasi hambatan yang berpotensi mengurangi kinerja ekspor. Kendala-kendala tersebut akan ditangani melalui langkah debottlenecking, yakni upaya mengatasi hambatan yang mengganggu aktivitas ekspor. Pelaksanaannya akan dilakukan melalui Satuan Tugas (Satgas) yang telah menerima penugasan dari Presiden.
Airlangga menegaskan bahwa dorongan ekspor mencakup seluruh sektor, termasuk manufaktur. Ia menyatakan, “berbagai hal yang bisa mengurangi ekspor nanti akan kita debottlenecking,” merujuk pada penugasan Presiden melalui Satgas. Dengan mekanisme tersebut, penanganan kendala ekspor diharapkan dapat dilakukan secara lebih terarah, sesuai mandat yang diberikan kepada Satgas.
Langkah penguatan ekspor itu dibahas berdampingan dengan evaluasi indikator makroekonomi. Pemerintah menyatakan akan memperkuat koordinasi lintas sektor, sembari menjaga stabilitas perekonomian. Dalam kerangka tersebut, pemantauan pertumbuhan, inflasi, kondisi perbankan, dan investasi menjadi bagian dari evaluasi, sedangkan identifikasi hambatan menjadi bagian dari upaya memperlancar kinerja ekspor.
Baca juga: Lidah Buaya Gunungkidul Dikembangkan Bersama Petani, Bidik Pasar Ekspor
Pemerintah juga menekankan pentingnya menjaga momentum pertumbuhan hingga akhir tahun. Penguatan ekspor diharapkan berjalan seiring dengan stabilitas ekonomi, bukan menggantikan agenda pemantauan indikator makro. Upaya tersebut diarahkan untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global, dengan mengoptimalkan produksi domestik dan menangani berbagai hambatan yang dapat menekan ekspor.
Dalam keterangan pers di Istana Negara itu turut hadir Menteri Keuangan Suahasil Nazara, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti, dan Ketua OJK Friderica Widyasari Dewi. Kehadiran para pejabat tersebut tercatat dalam agenda penyampaian perkembangan ekonomi dan pembahasan penguatan ekspor yang disampaikan Menko Airlangga.