Lidah Buaya Gunungkidul Dikembangkan Bersama Petani, Bidik Pasar Ekspor

19/10/2026 17:33

CIANJUR.CO - Di tengah bentang karst Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, lidah buaya tumbuh di antara tanah berbatu dan paparan terik matahari. Tanaman ini dikembangkan sebagai komoditas yang dapat tumbuh saat kemarau sekaligus memiliki nilai ekonomi. Pengembangannya kemudian menjadi usaha yang menghubungkan petani lokal, pengolahan produk, dan peluang pemanfaatan lidah buaya untuk beragam kebutuhan.

Berdasarkan laporan Kementerian Perdagangan RI, gagasan budidaya tersebut berangkat dari kepedulian terhadap masyarakat setempat yang kerap kesulitan mendapatkan pemasukan memadai ketika musim kemarau panjang. Pendiri PT Mount Vera Sejati, Alan Efendhi, melakukan riset mandiri untuk mencari tanaman yang tangguh menghadapi kondisi tersebut dan tetap bernilai ekonomi. “Lidah buaya jadi jawaban yang potensial untuk dieksplorasi lebih lanjut,” kata Alan.

PT Mount Vera Sejati mulai melangkah di Gunungkidul sejak 2014. Melalui jenama Rasane Vera, perusahaan mengolah lidah buaya menjadi berbagai bentuk, dari isian minuman dan mangkuk camilan hingga bahan bagi rantai produksi industri obat dan kecantikan. Dengan demikian, pemanfaatannya tidak berhenti pada hasil panen, tetapi juga mencakup pengolahan untuk konsumen dan kebutuhan pelaku usaha.

Pengembangan itu dijalankan melalui kemitraan dengan lebih dari 125 petani kecil di lahan sekitar dua hektare. Para petani memanen pelepah lidah buaya segar yang menjadi bahan untuk proses berikutnya. Kemitraan tersebut menghubungkan sumber daya pertanian perdesaan dengan kegiatan produksi Rasane Vera, sekaligus melibatkan warga setempat dalam rantai nilai usaha.

Baca juga: Kemenko PMK Dorong Sistem Kesehatan Berorientasi Pencegahan

Keterlibatan masyarakat tidak hanya berlangsung di kebun. Rasane Vera juga membentuk kelompok perempuan tani dan memberikan pelatihan agar mereka dapat mengolah lidah buaya menjadi produk bernilai tambah. Salah satu hasil yang dibuat kelompok tersebut adalah dodol lidah buaya. Produk buatan mereka kemudian diserap untuk dijual di Aloe Land, kawasan agrowisata di bawah naungan PT Mount Vera Sejati.

Alan menjelaskan, kegiatan itu membuka ruang bagi perempuan tani untuk berkreasi dengan bahan yang tersedia. Ia menyebut produk yang dibuat warga sebagai hasil yang unik dan inovatif. Bagi perusahaan, penyerapan produk untuk dijual di Aloe Land menjadi bagian dari pola pemberdayaan tersebut: pelatihan pengolahan dilanjutkan dengan pemanfaatan hasil karya kelompok perempuan tani.

Di bagian produksi, pengolahan dimulai dengan pemilahan pelepah secara teliti untuk mendapatkan grade terbaik. Setelah itu, lidah buaya diproses secara higienis dengan perhatian pada standar dan nutrisi tanaman. Rangkaian ini dilengkapi kontrol kualitas serta pengemasan yang aman, agar produk tetap terjaga sebelum sampai kepada konsumen maupun mitra bisnis.

Operasional Rasane Vera juga menerapkan prinsip ekonomi sirkular. Bagian pelepah yang tidak terpakai dalam pengolahan produk dimanfaatkan untuk membuat pupuk organik dan eco-enzyme. Bahan sisa tersebut diolah kembali untuk mengembalikan kebaikan ke tanah tempat lidah buaya tumbuh. Pemanfaatan ini menjadi bagian dari proses produksi, bukan produk utama yang ditawarkan kepada konsumen.

Baca juga: SMA Unggul Garuda TTS Buka Akses Pendidikan Berkualitas bagi Talenta Muda

Rasane Vera menyasar dua segmen pasar, yakni B2C untuk konsumen akhir dan B2B untuk kebutuhan bisnis. Pada segmen B2C, perusahaan menghadirkan produk siap santap, antara lain Nata de Aloe Vera dan Aloe Vera Cube Drink. Alan menyebut produk tersebut penuh serat dan menyehatkan. Produk siap santap itu ditujukan langsung kepada konsumen, berbeda dari bahan baku yang dipasarkan kepada industri.

Untuk segmen B2B, Rasane Vera menawarkan Pure Aloe Vera Slice dan Liquid Gel. Keduanya menjadi bahan baku strategis bagi industri makanan, minuman, kosmetik, hingga farmasi. Ragam produk tersebut memperlihatkan dua bentuk pemanfaatan lidah buaya dalam usaha ini: produk yang dapat dikonsumsi dan bahan yang masih dapat digunakan mitra untuk proses industri lebih lanjut.

Perhatian calon pembeli asing terhadap produk Rasane Vera muncul dalam Trade Expo Indonesia 2026. Salah satu calon buyer asal Swedia menunjukkan ketertarikan untuk membeli produk tersebut. Calon pembeli itu juga meminta potongan lidah buaya dalam ukuran yang lebih kecil. Laporan Kementerian Perdagangan RI menyebut pengalaman tersebut menegaskan fleksibilitas Rasane Vera dalam memenuhi preferensi mitra bisnis.

Baca juga: Dashboard IKAD Didorong Jadi Acuan Pemerataan Pembangunan Daerah

Permintaan ukuran potongan yang berbeda menunjukkan adanya kebutuhan spesifik dari calon buyer dalam penjajakan produk. Namun, informasi yang disampaikan adalah ketertarikan calon pembeli dan permintaan khusus, bukan keterangan bahwa transaksi ekspor dari Swedia telah terlaksana. Fleksibilitas dalam menyesuaikan produk dengan preferensi mitra menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam pengembangan pasar B2B Rasane Vera.

Di antara pencapaian perusahaan, Rasane Vera terpilih sebagai Young Ambassador Agriculture 2023. Laporan tersebut mengaitkan perkembangan usaha dan sederet penghargaan dengan positioning yang strategis, penerapan ekonomi sirkular, pemberdayaan masyarakat, fleksibilitas suplai, serta penguasaan seluk-beluk lidah buaya. Unsur-unsur itu berjalan beriringan dengan kegiatan budidaya, pengolahan, dan penawaran produk untuk dua segmen pasar.

Dengan semangat “Local Strength. Flexible B2B Potential”, Rasane Vera menargetkan ekspor ke Persatuan Emirat Arab (PEA), Jepang, Korea Selatan, dan Inggris. Negara-negara tersebut merupakan tujuan yang dibidik perusahaan, sementara ketertarikan calon buyer Swedia tercatat dalam Trade Expo Indonesia 2026. Target ekspor itu menjadi bagian dari upaya membawa produk lidah buaya Gunungkidul ke pasar internasional melalui ragam produk dan fleksibilitas pasokan.