Pemulihan Desa Adat Sade Pascakebakaran, 40 Rumah Adat Sudah Beratap
CIANJUR.CO - Pemulihan Desa Adat Sade di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), terus berlangsung setelah kebakaran yang terjadi pada akhir Agustus 2026. Hingga 9 Oktober 2026, sebanyak 40 dari total 75 rumah adat telah dibangun kembali dan sudah terpasang atap. Sejumlah fasilitas umum juga mulai dikerjakan, sementara aktivitas ekonomi warga berangsur menggeliat.
Berdasarkan laporan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, masa tanggap darurat bencana di desa tersebut telah berakhir pada 20 September 2026. Pemerintah kini mendorong percepatan pemulihan dengan mengoordinasikan kebutuhan pembangunan kembali, penyaluran bantuan, serta pemulihan kegiatan masyarakat. Upaya itu diarahkan agar proses rekonstruksi dan dukungan bagi warga dapat berjalan dengan pembagian peran yang jelas.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengunjungi Desa Adat Sade pada Jumat, 9 Oktober. Ia didampingi Asisten Deputi Pengembangan Pariwisata Herfan Brilianto dan Kepala Biro Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus pada Sekretariat Dewan Nasional KEK, Bambang Wijanarko. Dalam kunjungan kerja itu, mereka membahas aspek teknis pemulihan bersama Pemerintah Provinsi NTB, yang diwakili Asisten Daerah Lalu Moh. Fauzal beserta jajaran pemerintah provinsi.
Baca juga: Pabrik HSG Material di KEK Kendal Diresmikan, Investasi Rp710 Miliar
Pembahasan tersebut mencakup koordinasi antarpihak agar pembangunan kembali dapat dilaksanakan dengan baik. Susiwijono menyatakan Kemenko Perekonomian mengoordinasikan kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, BUMN, serta mitra lain. Koordinasi itu ditujukan untuk memastikan kebutuhan pendanaan, kesesuaian desain, jadwal penyelesaian, dan pembagian peran masing-masing pihak.
Selain pengaturan pelaksanaan pembangunan, mekanisme untuk menyalurkan bantuan donatur juga telah disiapkan. Pilihannya mencakup rekening penampungan maupun rekening khusus bagi setiap kepala keluarga yang terdampak. Dengan mekanisme tersebut, hasil donasi yang terkumpul dapat segera disalurkan kepada penerima. Laporan itu tidak merinci jumlah donasi ataupun nilai bantuan yang tersedia.
Baca juga: Kemenko PMK Dorong Keadilan Iklim dan GEDSI dalam Penanggulangan Bencana di Aceh
Dari sisi rekonstruksi, desain pembangunan kembali diinisiasi oleh InJourney Tourism Development Corporation (ITDC), dengan bantuan Universitas Mataram dan komunitas adat. Desain tersebut telah diselesaikan dan akan diterapkan dengan pendampingan teknis dari Kementerian Pekerjaan Umum serta Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman. Dengan demikian, perencanaan yang telah dibuat menjadi dasar untuk melanjutkan pembangunan di lokasi terdampak.
Susiwijono menjelaskan bahwa fokus penanganan saat ini meliputi pembangunan kembali rumah adat dan fasilitas umum, penyediaan infrastruktur utilitas dan keselamatan, serta pemulihan ekonomi masyarakat. Pelaksanaan pemulihan itu tetap diarahkan untuk menjaga karakter budaya Sade. Di antara pekerjaan fasilitas yang telah dimulai adalah pembangunan masjid, museum, bale bengong, dan toilet umum.
Baca juga: Kemenko PMK Dorong Keluarga Inklusif untuk Penuhi Hak Lansia dan Disabilitas
Perkembangan pembangunan rumah adat yang tercatat hingga 9 Oktober menunjukkan 40 dari 75 rumah telah dibangun kembali sampai tahap pemasangan atap. Angka tersebut menjadi catatan kemajuan rekonstruksi, sementara fasilitas umum yang disebutkan masih dalam proses pengerjaan. Laporan tidak menyebutkan jadwal penyelesaian seluruh rumah maupun fasilitas tersebut.
Di bidang ekonomi, kegiatan warga disebut mulai menggeliat kembali. Masyarakat telah menerima bantuan bahan baku, modal usaha, dan alat produksi dari Kementerian Pariwisata. Dukungan tersebut diberikan bersamaan dengan proses pembangunan kembali, sehingga pemulihan yang didorong pemerintah mencakup rumah dan fasilitas desa serta aktivitas ekonomi masyarakat, dengan perhatian pada karakter budaya setempat.