UPDATE

Pameran Virtual Rekam Peran Indonesia dalam Pilar Sosial-Budaya ASEAN 2023

21/10/2026 16:15

CIANJUR.CO - Perjalanan Indonesia saat memegang Keketuaan ASEAN pada 2023 kini dapat ditelusuri melalui sebuah pameran virtual yang disiapkan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). Pameran bertajuk “Merekam Keketuaan ASEAN Indonesia 2023: Perjalanan Pilar Sosial Budaya dan Peran Kemenko PMK” itu mendokumentasikan proses dan capaian Indonesia, terutama dalam Pilar Sosial-Budaya ASEAN.

Berdasarkan laporan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, pameran tersebut mulai ditayangkan pada 29 Juli 2026 melalui situs Jaringan Informasi Kearsipan Nasional (JIKN) milik Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Melalui akses digital itu, masyarakat dapat menelusuri kembali kegiatan, pertemuan, serta kontribusi Kemenko PMK dalam mengoordinasikan kerja sama sosial-budaya di kawasan.

Dokumentasi yang ditampilkan berangkat dari periode Keketuaan Indonesia di ASEAN, yang berlangsung mulai 1 Januari hingga 31 Desember 2023. Pada tahun tersebut, Indonesia mengusung tema “ASEAN Matters: Epicentrum of Growth”. Tema ini mencerminkan komitmen untuk memperkuat relevansi ASEAN di tengah tantangan global sekaligus mendorong Asia Tenggara menjadi pusat pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.

Di dalam Pilar Sosial-Budaya ASEAN atau ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC), Kemenko PMK menjalankan peran strategis dalam mengoordinasikan agenda yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pameran memperlihatkan bahwa pekerjaan tersebut mencakup koordinasi lintas kementerian dan lembaga, pembahasan isu prioritas, serta penyusunan dokumen strategis yang menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan di tingkat ASEAN.

Baca juga: Batik Ciprat Kinasih Jadi Ruang Berkarya dan Sumber Penghidupan

Susunan materi pameran merangkum sejumlah pertemuan dan forum penting selama 2023. Rangkaian yang ditampilkan meliputi Senior Officials Committee on ASCC (SOCA) Retreat, Sidang SOCA ke-34 dan ke-35, ASCC Knowledge Forum, serta Sidang Dewan Menteri ASCC ke-29 dan ke-30. Pameran juga memuat berbagai kegiatan kerja sama lain yang berlangsung dalam periode Keketuaan Indonesia.

Rangkaian itu menunjukkan proses koordinasi dan kolaborasi yang melibatkan kementerian, lembaga, serta berbagai pemangku kepentingan. Dengan menampilkan pertemuan dan kegiatan tersebut, arsip pameran memberi gambaran tentang bagaimana agenda sosial-budaya dibahas dan dikerjakan bersama untuk memperkuat kerja sama di kawasan, bukan hanya mencatat hasil akhirnya.

Isu yang tercakup dalam perjalanan tersebut beragam. Di antaranya penguatan arsitektur kesehatan, pembangunan perdesaan, perlindungan pekerja migran, pelestarian lingkungan hidup, kesiapsiagaan bencana, kesetaraan gender, dan pembangunan keluarga. Pameran juga mencatat perhatian terhadap pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan, sejalan dengan tema Keketuaan ASEAN Indonesia 2023.

Baca juga: S’RASA Catat Transaksi USD 31,14 Juta di TEI ke-41

Salah satu capaian yang disorot adalah Sidang Dewan Menteri ASCC ke-30 pada 29 Agustus 2023. Sidang tersebut dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Dalam pertemuan itu dihasilkan lima dokumen keluaran utama, yang selanjutnya diadopsi pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-43 di Jakarta pada 5 September 2023.

Selain lima dokumen yang diadopsi dalam KTT tersebut, terdapat 21 dokumen lainnya yang dinotasi oleh para pemimpin ASEAN. Rangkaian angka dan tahapan itu memperlihatkan hubungan antara pembahasan di tingkat Dewan Menteri ASCC dengan proses pada KTT ASEAN ke-43. Pameran menempatkan hasil tersebut sebagai bagian dari rekam jejak diplomasi sosial-budaya Indonesia selama memegang keketuaan.

Dokumentasi kegiatan yang dihimpun tidak hanya menjadi catatan sejarah penyelenggaraan Keketuaan ASEAN Indonesia 2023. Materi itu juga menyediakan informasi mengenai proses diplomasi, koordinasi kebijakan, dan kontribusi Indonesia dalam pembangunan sosial-budaya regional. Dengan demikian, pengunjung dapat melihat keterkaitan antara agenda yang dibahas, pihak-pihak yang terlibat, dan dokumen yang dihasilkan.

Baca juga: Terve Chocolate Bawa Cita Rasa Nusantara ke Pasar Global

Penayangan melalui JIKN ANRI sekaligus memperluas akses publik terhadap informasi kearsipan. Arsip digital tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan masyarakat, akademisi, peneliti, serta generasi muda untuk memahami perjalanan kerja sama ASEAN dan peran Indonesia dalam mendorong kesejahteraan masyarakat kawasan.

Penyajian secara digital juga ditujukan untuk menjaga agar rekam jejak Keketuaan ASEAN Indonesia 2023 tetap tersedia dan mudah diakses. Dokumentasi yang terkumpul diharapkan memberi manfaat berkelanjutan sebagai sumber pengetahuan dan pembelajaran, termasuk bagi generasi mendatang yang ingin menelusuri proses kerja sama sosial-budaya ASEAN.