Batik Ciprat Kinasih Jadi Ruang Berkarya dan Sumber Penghidupan
CIANJUR.CO - Sehelai kain hitam bermotif putih menyerupai biji kopi tergantung pada tiang bambu. Pada kain itu tampak pula lengkung berwarna keemasan yang berdampingan dengan bunga-bunga kecil. Kain lain berwarna cokelat, dihiasi corak putih yang menjalar seperti akar pohon. Ragam pola tersebut lahir dari teknik batik ciprat, yaitu mempercikkan warna ke atas kain hingga membentuk motif yang hasilnya tidak selalu dapat diperkirakan.
Teknik sederhana itu tidak menuntut motif seragam atau kemampuan menggambar garis lurus dan pola rumit. Keunikan batik ciprat justru terletak pada hasil percikan yang berbeda-beda. Di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Batik Kinasih dari CV Kinasih Abyudaya mengembangkan karakter tersebut menjadi ruang berkarya bagi penyandang disabilitas.
Berdasarkan laporan Kementerian Perdagangan RI, karya UMKM tersebut dipamerkan di Paviliun Pilihan Busan dalam Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41. Pameran dagang internasional itu berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten. Kehadiran Batik Kinasih di sana membawa cerita tentang proses membatik bersama, pengembangan usaha, serta upaya memperkenalkan karya para pembuatnya.
Baca juga: S’RASA Catat Transaksi USD 31,14 Juta di TEI ke-41
Pemilik Batik Kinasih, Dwi Mawadati, menjelaskan bahwa kegiatan itu pada mulanya tidak dirancang untuk meraih keuntungan. Sebelum pandemi Covid-19, para penyandang disabilitas berkumpul dan membatik bersama sebagai cara untuk berekspresi. Sebagian pembuatnya merupakan individu dengan sindrom Down, disabilitas intelektual, dan disabilitas mental. Kemampuan mereka berbeda-beda, sehingga pekerjaan dapat dibagi sesuai hal yang bisa dilakukan masing-masing.
Ada yang sanggup mencipratkan warna, tetapi kesulitan melanjutkan tahapan pengerjaan. Sebagian lain senang mewarnai, sementara ada pula yang mampu membantu mencuci kain. Perbedaan itu tidak menjadi alasan untuk meniadakan keterlibatan mereka. Dwi mengatakan setiap orang menjalankan bagian yang dapat dikerjakan dan selalu mendapat pendampingan. “Teman (yang) itu bisa menciprat, hanya menciprat saja. Kalau yang suka mewarnai, hanya mewarnai saja,” kata Dwi.
Setelah produk berhasil dibuat, muncul persoalan yang berbeda: para pembuatnya belum dapat menjual hasil karya mereka sendiri. Menurut Dwi, kondisi itu mendorong pembentukan sebuah perkumpulan yang bertugas menjualkan produk. Tujuannya adalah membantu mereka mencapai kemandirian secara ekonomi dan sosial. Dengan demikian, kegiatan yang sebelumnya menjadi wadah ekspresi mulai memiliki jalur untuk berkembang menjadi kegiatan usaha.
Baca juga: Terve Chocolate Bawa Cita Rasa Nusantara ke Pasar Global
Perlahan, produk Batik Kinasih diterima masyarakat dan pembeli mulai berdatangan. Organisasi Perangkat Daerah di Kabupaten Blitar juga turut mengenakan produk tersebut. Kain yang pada awalnya dibuat sebagai kegiatan untuk menyalurkan emosi kemudian berkembang menjadi sumber penghidupan. Perubahan itu menjadi bagian dari perjalanan usaha yang tetap memberi ruang bagi para pembuat untuk bekerja menurut kemampuan masing-masing.
Batik Kinasih lalu memperluas bentuk produknya. Selain kain, karya batik ciprat dikembangkan menjadi tas, mukena, sajadah, hingga sarung. Ragam produk tersebut menunjukkan bahwa hasil kegiatan membatik tidak hanya hadir sebagai selembar kain, tetapi juga dapat diolah menjadi berbagai barang yang ditawarkan kepada pembeli.
Perkembangan lain terlihat pada sejumlah individu yang didampingi dan mulai mempunyai usaha sendiri. Dwi menyebut tiga orang dengan sindrom Down telah mengembangkan merek batik dengan bantuan keluarga. “Ada tiga teman Down syndrome yang dengan bantuan keluarganya sudah mempunyai jenama sendiri,” ungkap Dwi. Keterangan itu memperlihatkan bahwa sebagian peserta tidak hanya terlibat dalam proses produksi Batik Kinasih, tetapi juga mulai memiliki jenama masing-masing.
Baca juga: Kemenko PMK Perkuat Pendekatan One Health untuk Cegah Rabies di Bali
Kesempatan mengikuti pameran berawal dari sebuah tautan di media sosial yang mengajak Batik Kinasih mengikuti kurasi Product Placement Pilihan Busan. Program tersebut merupakan inisiatif Menteri Perdagangan Budi Santoso untuk membantu promosi produk UMKM. Meski belum mengetahui banyak tentang program itu, Batik Kinasih tetap mencoba mengikuti proses kurasi dengan harapan karya para penyandang disabilitas dari Blitar dapat semakin dikenal.
Keikutsertaan dalam kurasi itu membuka kesempatan untuk memperkenalkan Batik Kinasih melalui Paviliun Product Placement Pilihan Busan pada TEI 2026. Selain berharap produknya dikenal lebih luas, Batik Kinasih ingin partisipasi tersebut menginspirasi lebih banyak orang untuk melihat kemampuan para penyandang disabilitas, bukan semata-mata keterbatasan mereka.