UPDATE

Konsultasi Bisnis TEI 2026 Perluas Akses Pasar Ekspor

17/10/2026 17:59

CIANJUR.CO - Kementerian Perdagangan mendorong pelaku usaha Indonesia memanfaatkan konsultasi bisnis sebagai sarana mendapatkan informasi pasar dan membuka peluang ekspor. Kegiatan bertajuk “Business Counseling with Republic of Indonesia Trade Representatives” tersebut berlangsung dalam rangkaian Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (15/10).

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Fajarini Puntodewi, membuka kegiatan yang mempertemukan pelaku usaha dengan perwakilan perdagangan RI di luar negeri. Berdasarkan laporan Kementerian Perdagangan RI, forum ini menyediakan ruang bagi peserta untuk berkonsultasi mengenai kondisi pasar tujuan sekaligus menjajaki kemungkinan kerja sama bisnis dengan mitra internasional.

Puntodewi menyampaikan bahwa kinerja perdagangan Indonesia hingga Agustus 2026 menunjukkan perkembangan positif. Nilai ekspor pada periode tersebut mencapai USD 193,64 miliar, tumbuh 4,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Neraca perdagangan Indonesia juga mencatat surplus sebesar USD 7,25 miliar.

Capaian itu, menurut Puntodewi, berjalan beriringan dengan kebutuhan untuk terus memperluas pasar produk Indonesia. Ia mengingatkan bahwa peningkatan ekspor tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan nilai perdagangan, tetapi juga dengan besarnya kontribusi Indonesia dalam perdagangan dunia. Saat ini, pangsa ekspor Indonesia di pasar dunia masih berada pada kisaran 1–1,1 persen.

“Peluang untuk meningkatkan kontribusi produk Indonesia di pasar internasional masih sangat besar,” ujar Puntodewi. Karena itu, konsultasi dengan perwakilan perdagangan diharapkan membantu pelaku usaha mengenali ruang pengembangan di negara tujuan, dengan mempertimbangkan potensi produk dan kebutuhan pasar yang hendak dimasuki.

Baca juga: Kemendag dan Dunia Usaha Perkuat Kerja Sama Hadapi Hambatan Ekspor

Perluasan pasar, kata Puntodewi, membutuhkan pemahaman atas karakteristik dan kebutuhan pasar tujuan. Pelaku usaha perlu mempelajari preferensi konsumen dan tren produk, sekaligus memahami saluran distribusi yang digunakan. Regulasi, standar, dan sertifikasi yang berlaku di pasar tujuan juga menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun rencana pengembangan bisnis.

Di samping pemahaman tersebut, pengusaha perlu mengidentifikasi calon pembeli atau buyer potensial. Informasi mengenai calon mitra dapat menjadi bagian dari pertimbangan ketika pelaku usaha menentukan strategi memasuki pasar. Konsultasi memberi kesempatan untuk menyampaikan kebutuhan usaha secara langsung kepada perwakilan RI dan memperoleh masukan yang sesuai dengan kondisi pasar tujuan.

“Melalui konsultasi bisnis, pelaku usaha dapat melakukan konsultasi langsung dengan perwakilan RI di luar negeri untuk memperoleh masukan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pasar tujuan,” kata Puntodewi. Ia berharap hasil diskusi membantu peserta menentukan langkah yang tepat dalam mengembangkan bisnis ekspor, bukan sekadar memperoleh gambaran umum mengenai pasar.

Forum tersebut menghadirkan perwakilan perdagangan Indonesia dari 33 negara. Kehadiran mereka diharapkan memberi pelaku usaha wawasan mengenai dinamika pasar internasional dan mendukung penentuan arah pengembangan ekspor berdasarkan potensi produk masing-masing. Selain perwakilan perdagangan, kegiatan juga dihadiri perwakilan RI dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kyiv yang menangani penyampaian informasi terkait Ukraina, Kirgizstan, dan Kazakhstan, serta KBRI Lima.

Perwakilan KBRI Kyiv dan KBRI Lima diharapkan memperluas akses informasi mengenai peluang pasar dan potensi kerja sama perdagangan di negara akreditasi masing-masing. Puntodewi mengajak pelaku usaha menggunakan kesempatan itu untuk berdiskusi langsung serta menggali masukan yang relevan dengan kebutuhan bisnis. Ia berharap forum dapat menjadi langkah awal bagi peserta untuk mengembangkan kerja sama dan memperluas jangkauan ekspor.

Baca juga: Skrining TB Terintegrasi CKG Digelar untuk Percepat Penemuan Kasus

Puntodewi juga menegaskan bahwa konsultasi perlu diikuti tindakan nyata. Masukan yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk menyempurnakan strategi bisnis, meningkatkan kesiapan produk, dan menjajaki kerja sama dengan mitra di pasar tujuan. Ia berharap hubungan antara pelaku usaha dan perwakilan RI di luar negeri mendukung terbentuknya kemitraan bisnis yang berkelanjutan dan membantu produk Indonesia memperkuat posisinya di pasar global.

Gambaran mengenai dukungan informasi pasar disampaikan Kepala ITPC Santiago, Annisa Fitri Wulandari. Ia mengatakan ITPC Santiago telah menyosialisasikan TEI 2026 melalui kegiatan Trade Connect, yang dihadiri sekitar 20 calon pembeli dari Cili. Kegiatan itu menjadi salah satu upaya memperkenalkan produk Indonesia dan meningkatkan minat pelaku usaha Cili terhadap peluang perdagangan dengan Indonesia.

Dalam mendukung penetrasi pasar, ITPC Santiago menyiapkan informasi mengenai pemanfaatan Indonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement (IC-CEPA). Materi yang disiapkan mencakup peluang tarif bea masuk 0 persen untuk pos tarif tertentu, serta informasi mengenai tren dan preferensi pasar Cili. ITPC Santiago juga berupaya memfasilitasi perluasan pasar ke negara-negara Amerika Latin lainnya.

Annisa turut menyebut tantangan logistik yang masih dihadapi eksportir. Kendala tersebut dapat memperpanjang waktu pengiriman dari sekitar 45 hari menjadi 90 hari. Dalam keterangannya, ia berharap eksportir yang telah berpengalaman maupun yang baru memulai dapat memanfaatkan peluang di pasar Cili.

Baca juga: Gula Lontar Tarunira Dorong Pendapatan Petani Karangasem di Atas Rp3 Juta

“Kami juga siap menjadi jembatan bagi eksportir Indonesia, termasuk UMKM, dalam memasuki pasar Cili dan menghadapi berbagai kendala perdagangan,” ujar Annisa. Peran tersebut berjalan bersama penyediaan informasi tentang kondisi pasar dan peluang pemanfaatan IC-CEPA, sementara tantangan waktu pengiriman tetap menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan eksportir.

Informasi mengenai pasar Amerika Serikat menjadi perhatian Rif Fadka Ridwan, pelaku usaha dari Rumah Tenun Magelang (Rutema) yang mengikuti konsultasi bisnis. Ia menyampaikan bahwa forum tersebut memberinya kesempatan memperoleh keterangan mengenai karakteristik pasar Amerika Serikat, termasuk preferensi desain, kebiasaan konsumen, dan penetapan harga yang sesuai.

Fadka berharap informasi itu dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai minat pasar Amerika terhadap produk kerajinan Rutema. Ia juga ingin mengetahui harga yang sesuai serta memperoleh akses kepada calon buyer, asosiasi, atau perusahaan pemasok hotel yang berpotensi menjadi mitra bisnis. Dengan demikian, konsultasi bagi peserta tidak hanya menyangkut pengenalan pasar, tetapi juga kebutuhan praktis dalam menilai peluang kerja sama.

Pelaksanaan konsultasi bisnis merupakan bagian dari upaya Kementerian Perdagangan memperkuat dukungan bagi pelaku usaha dalam mengembangkan ekspor nasional. Dukungan tersebut dilakukan melalui akses informasi pasar dan fasilitasi penjajakan kerja sama dengan mitra internasional. Puntodewi berharap diskusi dan tindak lanjut antara pelaku usaha serta perwakilan RI di luar negeri dapat membuka jalan bagi kemitraan yang berkelanjutan.