Gula Lontar Tarunira Dorong Pendapatan Petani Karangasem di Atas Rp3 Juta
CIANJUR.CO - Potensi pohon lontar di Kubu, Karangasem, Bali, mulai dikembangkan menjadi sumber penghidupan bagi warga desa. Melalui pengolahan nira menjadi gula lontar, Tarunira membangun usaha yang menghubungkan pemanfaatan sumber daya lokal dengan peningkatan pendapatan petani. Di kawasan yang memiliki hamparan lebih dari 1.700 hektare pohon lontar (Borassus flabellifer L.) itu, inisiatif tersebut juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan desa dan mengurangi ketimpangan ekonomi.
Berdasarkan laporan Kementerian Perdagangan RI, selama bertahun-tahun potensi ribuan pohon lontar di Karangasem belum dimanfaatkan secara optimal. Keterbatasan lapangan kerja dan kesenjangan pendapatan sektor pertanian dibandingkan Upah Minimum Regional (UMR) turut mendorong warga desa, termasuk generasi muda, meninggalkan kampung halaman. Tarunira hadir pada 2021 dengan pendekatan wirausaha sosial untuk menjawab tantangan tersebut.
Perusahaan itu merangkul lebih dari 60 petani lontar dan puluhan petani singkong yang tersebar di tiga pelosok desa. Para petani lontar tidak hanya menyadap nira, tetapi juga terlibat dalam rantai nilai produk olahan. Pekerjaan menyadap dilakukan dengan memanjat pohon setinggi 20 hingga 30 meter untuk memperoleh nira segar, yang kemudian menjadi bahan baku gula lontar.
Perubahan pada pengolahan hasil tersebut beriringan dengan kenaikan pendapatan warga yang terlibat. Sebelum pengembangan usaha, penghasilan masyarakat lokal berkisar Rp800.000 hingga Rp1.000.000 per bulan. Kini, pendapatan mereka dapat mencapai lebih dari Rp3.000.000 per bulan. Kenaikan itu menjadi salah satu hasil nyata dari upaya mengubah potensi alam setempat menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Baca juga: Kemenko PMK Perkuat PHBS dan Kolaborasi Cegah Zoonosis
Founder PT Inovasi Tani Tarunira, I Komang Sukarma, mengatakan pengembangan lontar tidak hanya ditujukan untuk memopulerkan produk gula. Menurut dia, nilai ekonomi dan lingkungan pohon lontar dapat dimanfaatkan sekaligus untuk membantu mengatasi kemiskinan. Ia menyebut gula yang dikembangkan memiliki indeks glikemik sangat rendah.
Tarunira juga menerapkan prinsip Circular Agriculture dan Green Chemistry dalam proses produksinya. Perusahaan menyatakan produksi gula lontar tersebut efisien energi dengan jejak karbon sekitar 0,37 kgCO2e/kg, lebih rendah dibandingkan gula tebu konvensional. Sisa proses produksi tidak hanya dibuang, tetapi diolah kembali menjadi bio-briket dan pupuk organik cair. Biochar juga dimanfaatkan untuk pengolahan air limbah.
Komang menjelaskan bahwa pendekatan tersebut mencerminkan fokus 3P perusahaan, yakni planet, people, and profit. Dalam keterangan yang diberitakan Kementerian Perdagangan RI, ia menyebut upaya itu mencakup menjaga kelestarian alam, meningkatkan kesejahteraan petani desa, serta membangun usaha yang tangguh. Prinsip tersebut diterapkan bersamaan dengan pengembangan produk dan pengelolaan sisa produksinya.
Baca juga: Kemendag Perkuat Strategi Ekspor Baja ke Uni Eropa dan Inggris
Produk utama Tarunira adalah gula lontar organik rendah indeks glikemik yang dibuat dari olahan nira. Produk itu telah diuji di laboratorium Institut Pertanian Bogor. Tarunira menyebut proses pembuatannya berbasis riset dan mengikuti standar higiene yang ketat. Gula tersebut memiliki aroma harum khas, cita rasa fruity-creamy, kandungan antioksidan tinggi, serta diklaim ramah bagi penderita diabetes.
Produk Tarunira kini tersedia di lebih dari 170 toko dan jaringan supermarket, antara lain Ranch Market, Hypermart, dan Sesa. Perusahaan juga telah memasuki segmen B2B. Kehadiran di berbagai saluran itu menjadi bagian dari pasar domestik yang telah dijangkau, sementara Tarunira mulai mempersiapkan pengembangan pasar berikutnya.
Menurut laporan tersebut, potensi pasar gula lontar global mencapai 2,7 juta ton. Dalam rencana jangka panjang untuk dua dekade ke depan, Tarunira menargetkan pemberdayaan 1.000 warga desa dan pengoptimalan 10.000 pohon lontar secara berkelanjutan. Perusahaan juga menyiapkan perluasan jangkauan ke pasar ekspor mancanegara.
Baca juga: Indonesia-Rusia Bahas Perdagangan, Investasi, dan Kerja Sama Industri
Keikutsertaan Tarunira dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 menjadi salah satu langkah untuk mendukung rencana itu. Chief Production Officer Tarunira, Kadek Juli Ardani, mengatakan keikutsertaan tersebut merupakan yang pertama bagi perusahaan. Fokus mereka di pameran adalah menjajaki peluang ekspor sekaligus memetakan respons pengunjung mancanegara terhadap produk gula lontar.
Juli menyebut harapan ekspor bukan semata-mata mengejar keuntungan, melainkan juga memperluas dampak usaha ke luar Bali. Tarunira telah menjalin jejaring dengan petani di Rote dan datang untuk memberikan pembekalan kepada masyarakat di sana. Namun, menurut Juli, pohon lontar di Bali masih cukup untuk memenuhi permintaan dalam negeri. Perluasan produksi melalui peluang ekspor diharapkan dapat membantu menyerap hasil alam Rote.
Tarunira secara khusus menantikan peluang pasar di Jepang, Eropa, dan Australia. Juli menjelaskan bahwa jika peluang ekspor terbuka, perusahaan dapat meningkatkan produksi sekaligus memanfaatkan hasil alam dari Rote. Untuk saat ini, produk tersebut diperkenalkan kepada pengunjung TEI 2026 melalui booth 3A-72, sebagai bagian dari upaya perusahaan menjajaki perdagangan internasional.