Indonesia Perluas Kerja Sama Digital dan KEK di GDTE Hangzhou

08/10/2026 20:27

CIANJUR.CO - Indonesia memanfaatkan Global Digital Trade Expo (GDTE) ke-5 di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok, untuk memperluas kerja sama perdagangan digital lintas negara. Dalam forum tersebut, Indonesia juga menjajaki perkembangan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI), pengembangan talenta digital, peluang investasi, serta kolaborasi kawasan ekonomi khusus (KEK).

Berdasarkan laporan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Indonesia menjadi Negara Kehormatan dalam GDTE 2025 yang digelar pada 25-29 September 2025. Partisipasi ini diarahkan untuk mengeksplorasi tren teknologi AI sekaligus membuka peluang kerja sama perdagangan digital dengan mitra dari berbagai negara.

Delegasi Indonesia berasal dari Digital Transformation Indonesia (DTI Community). Rombongan tersebut mencakup perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi), Jakarta Smart City (JSC), serta asosiasi Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) dan Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO).

GDTE kali ini mengangkat slogan “Meet the AI Future at GDTE”. Acara dibuka oleh Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang, kemudian dilanjutkan pidato Perdana Menteri Malaysia Dato' Seri Anwar bin Ibrahim dan Ketua Kabinet Menteri Kirgistan Adylbek Kasymaliev. Pameran itu mempertemukan peserta dari 121 negara, menjadikannya ruang bagi delegasi Indonesia untuk membahas berbagai agenda digital dan ekonomi lintas negara.

Kelanjutan kerja sama perdagangan elektronik

Kehadiran Indonesia di Hangzhou merupakan tindak lanjut Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Perdagangan Elektronik yang ditandatangani Kementerian Perdagangan Tiongkok dan Kemenko Perekonomian di Jakarta pada 8 September 2023. Langkah tersebut juga berkaitan dengan peran Indonesia sebagai salah satu pendiri World AI Collaboration Organization (WAICO).

Baca juga: Furnitur dan Kriya Bersertifikat Siap Tampil di TEI ke-41

Kerja sama yang dikaitkan dengan WAICO mencakup penguatan kolaborasi internasional di bidang AI dan investasi terkait teknologi tersebut. Nilai investasi diperkirakan mencapai USD8 miliar hingga USD12 miliar selama periode 2026-2030. Angka itu merupakan perkiraan nilai investasi untuk periode tersebut sebagaimana disebut dalam laporan, bukan pernyataan bahwa seluruh investasi telah terealisasi.

Selain itu, kedua pihak telah menyepakati kerja sama antarpemerintah dalam pengembangan talenta dan ekonomi digital. Bidang yang disebut secara khusus mencakup pelatihan bagi institusi pemerintahan, penggunaan kecerdasan artifisial yang bersifat open source, serta berbagi praktik terbaik. Rangkaian bidang tersebut menjadi bagian dari pembahasan untuk memperkuat kapasitas dan pertukaran pengetahuan di sektor digital.

Indonesia juga mengundang perusahaan teknologi dari Hangzhou untuk membangun pusat data di Indonesia. Menurut laporan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, undangan tersebut disambut baik karena sejalan dengan rencana ekspansi global perusahaan-perusahaan itu. Dengan demikian, pembahasan dalam forum tidak hanya mencakup pengembangan talenta dan pemanfaatan AI, tetapi juga peluang pembangunan infrastruktur digital.

Lima usulan kerja sama KEK di kawasan BRICS

Agenda mengenai kawasan ekonomi khusus dibahas dalam BRICS Special Economic Zones Hangzhou Dialogue. Deputi Ali, yang juga menjabat Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), menyampaikan apresiasi atas berdirinya China Center for Cooperation on Special Economic Zones in BRICS Countries setahun sebelumnya.

Dalam dialog itu diajukan lima usulan untuk mendukung kemajuan KEK di kawasan BRICS. Usulan pertama adalah BRICS SEZ Green and Digital Investment Corridor. Berikutnya, program tahunan pertukaran regulasi dan pengetahuan, platform fasilitasi investasi, serta jejaring pengembangan talenta dan kapasitas. Usulan kelima berupa penguatan kerja sama sektor keuangan, termasuk konektivitas pembayaran digital bersama.

Baca juga: Pemerintah Gandeng Dunia Usaha untuk Kejar Pertumbuhan Ekonomi 6% pada 2027

Masih dalam kesempatan tersebut, diumumkan perjanjian kerja sama antara Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) dan Hangzhou Economic and Technological Development Area (HEDA). Pengumuman itu menjadi salah satu bentuk hubungan antarkawasan yang disampaikan dalam rangkaian dialog KEK di Hangzhou.

Di sesi Silk Road E-commerce Day, Indonesia mengajak Tiongkok mengembangkan empat inisiatif. Pertama, proyek percontohan berbasis platform untuk menarik investasi AI. Kedua, alokasi pelatihan bagi 5.000 talenta AI Indonesia. Ketiga, proyek percontohan inovasi AI di sebuah KEK. Keempat, kemitraan kawasan kembar antara KEK Qiantang dan KEK Digital Serpong.

Delapan MoU dan perkiraan investasi sekitar USD400 juta

Sebelum GDTE, China Indonesia Industrial Development Exchange Conference (Business Matching) telah berlangsung pada 23 September 2026. Pertemuan itu menghasilkan delapan MoU kerja sama, dengan perkiraan nilai investasi yang diperoleh sekitar USD400 juta.

Lima MoU pertama mencakup sejumlah bidang. Kesepakatan-kesepakatan tersebut berkaitan dengan energi baru, konstruksi pendukung, konstruksi bangunan pendukung, dan rekayasa lingkungan; pelatihan wirausaha Asia Tenggara di Tiongkok; serta penghubungan industri, konsultasi, dan pertukaran bisnis lintas batas. Dua bidang lain yang dicakup adalah peralatan cerdas dan layanan keuangan bagi perusahaan Tiongkok yang berinvestasi di Indonesia.

Baca juga: Pemerintah Siapkan Ekosistem Jelang Wajib Halal 18 Oktober 2026

Tiga MoU sisanya memuat rencana pembentukan usaha patungan atau joint venture. Rencana pertama berfokus pada infrastruktur digital tepercaya berbasis blockchain dan komputasi privat. Rencana kedua mencakup pengembangan data tepercaya, video cerdas, dan konektivitas generasi mendatang.

Rencana usaha patungan ketiga meliputi konektivitas digital, komunikasi, dan infrastruktur digital. Cakupannya antara lain menara telekomunikasi, jaringan nirkabel, layanan infrastruktur bersama, konektivitas perusahaan, komunikasi satelit, dan pusat data. Dengan rincian itu, delapan MoU tersebut mencakup bidang usaha dan infrastruktur yang beragam, mulai dari energi dan pelatihan hingga konektivitas digital.

Deputi Bidang Koordinasi Perdagangan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian Ali Murtopo Simbolon hadir mewakili Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto. Keterangan kementerian menyebut pameran itu menampilkan kepemimpinan Indonesia dalam ekonomi digital serta inovasi Indonesia di bidang teknologi, e-commerce, dan praktik perdagangan berkelanjutan.

Sejumlah pejabat Tiongkok juga hadir dalam rangkaian GDTE ke-5. Mereka adalah Wakil Menteri Perdagangan Tiongkok Yan Dong, Wakil Gubernur Zhejiang Hu Wei, Direktur Biro Ekonomi dan Informasi Hangzhou Wang Yuejian, serta Sekretaris Komite Partai Kota Hangzhou Liu Fei.