Furnitur dan Kriya Bersertifikat Siap Tampil di TEI ke-41

08/10/2026 20:23

CIANJUR.CO - Persiapan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 memasuki tahap akhir menjelang penyelenggaraan pada 14–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten. Salah satu fokus pameran tahun ini adalah kembalinya furnitur, dekorasi, dan kriya ke panggung utama. Sebanyak 35 ekshibitor akan menampilkan produk mereka di Hall 9 melalui kolaborasi dengan Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI).

Berdasarkan laporan Kementerian Perdagangan RI pada Kamis, 8 Oktober 2026, produk furnitur dan kriya ditempatkan sebagai bagian penting dari penyelenggaraan TEI. Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, mengatakan pameran kembali memberikan ruang bagi produk unggulan tersebut untuk menjangkau pasar global.

“Furnitur dan kriya adalah bagian penting dari perjalanan TEI,” ujar Puntodewi di Jakarta. Ia menjelaskan, industri furnitur dan kerajinan Indonesia memiliki basis bahan baku lokal yang kuat, menyerap banyak tenaga kerja, serta menghasilkan nilai tambah tinggi. Kesiapan eksportir dalam mengikuti aturan ketelusuran atau traceability dan regulasi internasional juga menjadi penanda daya saing produk Indonesia.

Para peserta Hall 9 telah mengantongi sertifikasi Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) dan Forest Stewardship Council (FSC). Menurut Puntodewi, sertifikasi tersebut menjadi bekal untuk memasuki pasar dengan ketentuan ketat, termasuk Uni Eropa yang memiliki aturan terkait deforestasi. Dengan demikian, aspek kepatuhan terhadap persyaratan pasar turut menjadi bagian dari kesiapan produk yang dipamerkan, selain desain dan bahan bakunya.

Baca juga: Pemerintah Gandeng Dunia Usaha untuk Kejar Pertumbuhan Ekonomi 6% pada 2027

Keunggulan yang ditawarkan mencakup penggunaan kayu bersertifikasi, desain hijau, serta tampilan yang memiliki kekhasan. Bahan serat alam seperti rotan yang cepat tumbuh, eceng gondok, dan bambu juga akan hadir sebagai pilihan yang menjawab permintaan dunia terhadap produk ramah lingkungan. Bahan-bahan tersebut digunakan bersama karakter desain yang mengangkat kekayaan kriya Indonesia.

Anyaman dan ukiran Nusantara dipadukan dengan desain natural-modern. Perpaduan itu menghasilkan karakter minimalis yang tetap fungsional dan memiliki nilai artistik. Produk dibuat melalui keterampilan tangan para perajin, sehingga memiliki ciri yang sulit ditiru oleh produksi massal. Proses produksinya juga memberdayakan perajin lokal dan mengacu pada prinsip perdagangan yang adil atau fair trade.

Selama lima hari pameran, para peserta Hall 9 dijadwalkan bertemu langsung dengan calon pembeli melalui penjajakan bisnis atau business matching. Kegiatan itu difasilitasi penuh oleh Kementerian Perdagangan. Pertemuan langsung tersebut diharapkan memudahkan pembahasan kebutuhan khusus pembeli, termasuk kustomisasi produk dan penawaran harga yang kompetitif.

Di area yang sama, Direktorat Pengembangan Ekspor Produk Manufaktur menyiapkan paviliun seluas 216 meter persegi. Paviliun tersebut akan menampilkan 18 perusahaan ekspor yang telah melalui proses kurasi. Pengunjung Hall 9 juga dapat melihat simulasi tata ruang berupa mock-up interior dan eksterior siap pakai, serta menyaksikan demonstrasi pembuatan kriya secara langsung oleh artisan lokal.

Baca juga: Pemerintah Siapkan Ekosistem Jelang Wajib Halal 18 Oktober 2026

Pembeli yang diundang ke Hall 9 berasal dari sejumlah pasar utama, yakni Amerika Serikat, Jerman, Belanda, Prancis, Jepang, dan Australia. Selain itu, ada buyer dari kawasan Timur Tengah, India, Afrika, dan ASEAN. Kelompok pembeli yang dituju mencakup importir besar, peritel global, desainer interior, serta kontraktor untuk proyek perhotelan dan properti.

Furnitur dan kriya bukan satu-satunya produk yang ditampilkan dalam rangkaian pameran. Hall 8 TEI ke-41 akan menghadirkan produk fesyen dan kerajinan tangan dari berbagai pemangku kepentingan, antara lain Pertamina, Pelindo, Kementerian Ekonomi Kreatif, Bank Indonesia, serta Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI).

Keikutsertaan di Hall 8 juga mencakup Pemerintah Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Kota Surakarta. Kementerian Perdagangan menyiapkan sejumlah paviliun tematik di area itu, yaitu Indonesia Design Development Center (IDDC), Paviliun Tekstil, dan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas). Penataan Hall 8 dan Hall 9 menghadirkan ragam produk serta peserta dari berbagai pihak dalam TEI ke-41.

Baca juga: Wamenko Dradjad Prioritaskan Peran Swasta dan Pemberdayaan Ekonomi

Puntodewi menyebut TEI sebagai etalase untuk menunjukkan kesiapan produk Indonesia memenuhi standar global. Ia mengatakan Indonesia ingin dikenal sebagai mitra global tepercaya dan pusat produk berkelanjutan yang memiliki keahlian khas, bernilai tinggi, serta ramah lingkungan. Pernyataan tersebut sejalan dengan penekanan pameran pada sertifikasi, penggunaan bahan, dan keterampilan yang ditampilkan peserta.

Kinerja ekspor turut memberi gambaran mengenai sektor furnitur. Pada tahun berjalan 2026, ekspor furnitur nasional tercatat mencapai USD 1,20 miliar, dengan surplus neraca perdagangan sebesar USD 576,32 juta. Furnitur kayu berkontribusi sebesar 68,1 persen terhadap pangsa ekspor, sementara furnitur logam menunjukkan tren positif dan menjadi peluang diversifikasi.

Di luar pasar yang telah dikenal, sejumlah tujuan nontradisional mulai menunjukkan potensi. Ekspor furnitur ke Yunani melonjak 279,4 persen, sedangkan ekspor ke Prancis tumbuh 8,1 persen. Kementerian Perdagangan juga menyebut kondisi global saat ini mendorong buyer mancanegara aktif mencari pemasok alternatif dari Indonesia. Angka dan perkembangan tersebut menjadi latar bagi partisipasi pelaku furnitur dalam TEI ke-41, yang mempertemukan perusahaan dengan pembeli dari berbagai pasar.