Pemerintah Gandeng Dunia Usaha untuk Kejar Pertumbuhan Ekonomi 6% pada 2027

08/10/2026 20:21

CIANJUR.CO - Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6% pada 2027, sebagai tahapan menuju sasaran pertumbuhan 8% dalam jangka menengah. Untuk mengejar target tersebut, kolaborasi dengan dunia usaha, investor, perbankan, akademisi, media, dan pemangku kepentingan lainnya dinilai perlu diperkuat, bersamaan dengan percepatan investasi, peningkatan produktivitas, dan penguatan ekspor bernilai tambah.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Drajad Hari Wibowo menyampaikan hal itu saat membuka Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Kamis (8/10). Berdasarkan laporan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, pemerintah juga menempatkan tata kelola dan kepatuhan sebagai unsur penting untuk membangun iklim usaha yang sehat dan memberi kepastian kepada pelaku usaha.

Drajad mengatakan Presiden berupaya menegakkan kepatuhan dan tata kelola yang baik. Menurut dia, kedua hal tersebut menjadi aspek krusial bagi dunia usaha dalam mendukung kemajuan Indonesia. Penguatan tata kelola itu berjalan seiring dengan upaya pemerintah mengajak sektor swasta menjadi mitra strategis untuk mencapai pertumbuhan, pemerataan, dan stabilitas ekonomi.

Kepastian usaha dan ketahanan ekonomi

Salah satu langkah untuk memperkuat kepastian berusaha dilakukan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025. Kebijakan tersebut memperkuat service level agreement (SLA) dalam proses perizinan dan menerapkan mekanisme fiktif positif. Pemerintah juga memperkuat Satgas P3MPPE, yang menyediakan kanal layanan selama 24 jam dan tujuh hari dalam sepekan.

Baca juga: Pemerintah Siapkan Ekosistem Jelang Wajib Halal 18 Oktober 2026

Upaya perbaikan tata kelola dan pelayanan tersebut berlangsung di tengah ketidakpastian global yang masih perlu diantisipasi. Prospek ekonomi dunia pada 2027 diperkirakan tetap baik, tetapi pemerintah mencermati risiko geopolitik, energi dan biaya, perdagangan dan investasi, serta ruang fiskal. Kebijakan, menurut laporan itu, diarahkan untuk menjaga ketahanan fundamental ekonomi sekaligus membuka ruang bagi pertumbuhan yang lebih kuat.

Sejumlah indikator menunjukkan kondisi ekonomi Indonesia tetap positif. Pertumbuhan ekonomi mencapai 5,45% pada semester I 2026, sedangkan realisasi investasi tercatat Rp1.010,6 triliun. Pada kuartal II 2026, investasi tumbuh 7,1% secara tahunan atau year-on-year (yoy). Sebanyak 50,1% investasi berada di luar Jawa, sementara investasi hilirisasi mencapai Rp152,7 triliun, tumbuh 5,7% yoy.

Investasi, industri, dan tenaga kerja

Pengembangan investasi diarahkan ke sektor bernilai tambah tinggi, antara lain melalui hilirisasi, industri padat karya, dan pembangunan kawasan industri. Hingga 30 Juni 2026, sebanyak 25 kawasan industri mencatat investasi kumulatif Rp368 triliun dan menyerap lebih dari 283 ribu tenaga kerja. Dari jumlah tersebut, 18 kawasan industri berlokasi di luar Jawa.

Pemerintah juga memandang industri tekstil dan produk tekstil (TPT) tetap memiliki prospek dan menjadi bagian dari pengembangan industri padat karya. Sektor tersebut menyerap sekitar 4 juta tenaga kerja dan memiliki nilai ekspor sekitar USD12 miliar. Selain mengembangkan sektor industrinya, pemerintah menyebut peningkatan kualitas dan kesiapan tenaga kerja terus dilakukan melalui program magang nasional serta pengembangan pendidikan vokasi.

Baca juga: Wamenko Dradjad Prioritaskan Peran Swasta dan Pemberdayaan Ekonomi

Dalam arah kebijakan tersebut, investasi diharapkan tidak hanya mendorong angka pertumbuhan, tetapi juga mendukung penciptaan lapangan kerja, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan penguatan industri nasional. Drajad menegaskan pemerintah tidak dapat bekerja sendiri untuk mencapai tujuan itu. Ia mengajak pelaku usaha, investor, perbankan, akademisi, media, dan seluruh pemangku kepentingan membangun optimisme serta kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia.

Memperluas akses dan sumber pertumbuhan

Selain mengandalkan sumber pertumbuhan domestik, Indonesia berupaya memperkuat integrasi dengan perekonomian global. Kerja sama dan forum yang disebut mencakup G20, ASEAN, RCEP, aksesi OECD, CPTPP, IEU-CEPA, serta CEPA Indonesia-Kanada. Langkah tersebut ditujukan untuk memperluas akses pasar dan investasi, sekaligus mendukung transformasi teknologi.

Pengembangan artificial intelligence, pusat data atau data center, semikonduktor, dan ekonomi digital turut diarahkan menjadi sumber pertumbuhan baru. Dengan demikian, agenda kerja sama ekonomi global dan pengembangan teknologi berjalan berdampingan dengan penguatan investasi di dalam negeri, termasuk hilirisasi dan industri yang menyerap banyak tenaga kerja.

Baca juga: Kemendag Fasilitasi 38 Pelaku IP Kreatif di JFC 2026, Potensi Transaksi Rp3,51 Miliar

Untuk mencapai target pertumbuhan 6% pada 2027 dan bergerak menuju 8% dalam jangka menengah, pemerintah menyatakan investasi perlu tumbuh lebih cepat daripada ekonomi. Percepatan tersebut juga perlu disertai produktivitas yang meningkat dan ekspor bernilai tambah yang lebih kuat. Pemerintah menekankan bahwa pertumbuhan harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penguatan ekonomi rakyat.

“Tumbuh lebih tinggi, sejahtera lebih cepat, menuju 8%,” menjadi semangat yang disampaikan dalam upaya menjaga momentum pertumbuhan. Drajad menyatakan pemerintah ingin memastikan investasi yang masuk menghasilkan pertumbuhan sekaligus membuka pekerjaan, meningkatkan kualitas SDM, dan memperkuat industri nasional.

Investor Daily Summit 2026 turut dihadiri Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Pengembangan Usaha BUMN Kemenko Perekonomian Ferry Irawan, Executive Chairman B Universe Enggartiasto Lukita, Direktur Utama B Universe Rio Abdurachman, serta para pelaku usaha.