TEI 2026, Wamendag Roro Dorong Kemitraan Dagang Seimbang dengan Tiongkok
CIANJUR.CO - Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri mengajak pelaku usaha Tiongkok membangun kemitraan bisnis yang produktif, berorientasi jangka panjang, dan saling menguntungkan dengan Indonesia. Kemitraan tersebut diharapkan turut meningkatkan kinerja ekspor nonmigas sekaligus memangkas defisit perdagangan Indonesia dengan Tiongkok.
Ajakan itu disampaikan Roro ketika memberikan sambutan kunci dalam Forum Bisnis Wilayah Tiongkok, salah satu rangkaian Trade Expo Indonesia (TEI) 2026. Acara berlangsung di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis, 15 Oktober 2026. Berdasarkan laporan Kementerian Perdagangan RI, forum tersebut menjadi ruang bagi pelaku usaha untuk mempertemukan peluang dagang dan menjajaki kerja sama antara kedua negara.
Roro menyebut hubungan perdagangan Indonesia dan Tiongkok telah ditopang fondasi yang kuat. Menurut dia, modal tersebut dapat digunakan untuk membawa hubungan dagang ke tingkat yang lebih tinggi melalui kemitraan yang produktif, inovatif, dan berorientasi masa depan. Kehadiran para pengusaha dalam forum, lanjutnya, menunjukkan kepercayaan terhadap potensi ekonomi Indonesia dan besarnya ruang untuk mengembangkan hubungan perdagangan kedua negara.
Karena itu, forum bisnis tidak semestinya berhenti pada pengenalan produk. Roro berharap pertemuan tersebut menjadi titik awal hubungan usaha yang berkelanjutan dan memberi manfaat bagi kedua pihak. “Kami berharap forum ini tidak hanya menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk, tetapi juga menjadi awal dari kemitraan bisnis yang saling menguntungkan, berkelanjutan, dan mampu memberikan nilai tambah bagi kedua negara,” ujarnya.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Beijing, Djauhari Oratmangun, menempatkan pelaku usaha sebagai ujung tombak keberhasilan diplomasi ekonomi pemerintah. Ia mengatakan hasil diplomasi perlu dirasakan dalam kehidupan masyarakat. Salah satu wujud yang ia soroti adalah penandatanganan nota kesepahaman dalam forum tersebut.
Baca juga: Kemendag-Nestlé Sepakati Dorongan Ekspor Produk Pertanian dari Hulu
Djauhari juga menyoroti kehadiran 900 buyer potensial dari Tiongkok di TEI 2026. Menurutnya, jumlah itu merepresentasikan kerja diplomasi Indonesia yang dijalankan pemerintah bersama kalangan swasta. Ia memproyeksikan sejumlah kerja sama konkret dapat tercipta dalam beberapa hari setelah forum berlangsung. Pernyataan tersebut mengaitkan pertemuan bisnis dengan upaya menghasilkan tindak lanjut, bukan hanya mempertemukan calon pembeli dan penjual.
Dalam kesempatan yang sama, Roro menjelaskan bahwa Indonesia memiliki produk unggulan berdaya saing yang siap memenuhi kebutuhan pasar Tiongkok. Ragam produk yang disebut mencakup hasil pertanian dan pangan olahan, kopi, kakao, rempah-rempah, hasil perikanan, produk manufaktur, serta komoditas bernilai tambah lainnya.
Kerja sama yang didorong pemerintah juga tidak terbatas pada perdagangan komoditas. Roro menyampaikan peluang untuk memperkuat rantai pasok dan menjalin kerja sama industri, termasuk melalui transfer pengetahuan dan peningkatan kapasitas produksi. Pengembangan produk yang disesuaikan dengan tren serta kebutuhan konsumen di Tiongkok juga menjadi bagian dari arah kemitraan tersebut.
Menurut Roro, ukuran hubungan dagang tidak cukup hanya dilihat dari besarnya nilai transaksi. Kemitraan juga perlu membuka peluang usaha, memperluas pasar, meningkatkan nilai tambah produk, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang manfaatnya dirasakan masyarakat kedua negara. “Bagi Indonesia, hubungan perdagangan tidak semata diukur dari besarnya nilai transaksi,” tegasnya, seraya menekankan pentingnya manfaat yang nyata dari kerja sama.
Baca juga: Kemendag Dorong Ekspor Berkelanjutan Indonesia ke Pasar Inggris
TEI 2026 merupakan penyelenggaraan ke-41 dan mengusung tema “The Ultimate Hub for Global Sourcing”. Tema itu mencerminkan komitmen Indonesia untuk memosisikan diri sebagai pusat pengadaan produk internasional yang berkualitas, kompetitif, dan dapat diandalkan.
Roro menjelaskan bahwa TEI dirancang sebagai platform strategis, bukan sekadar pameran produk. Kegiatan ini diarahkan untuk mempertemukan penawaran dan permintaan, membuka akses pasar, serta membantu merealisasikan kesepakatan bisnis konkret. Pemerintah ingin produk Indonesia tidak hanya dikenal oleh buyer Tiongkok, tetapi juga dipercaya dan menjadi pilihan pengadaan jangka panjang perusahaan di negara tersebut.
Melalui forum itu, Roro mengundang para buyer Tiongkok melihat lebih dekat potensi produk Indonesia dan mempertimbangkan Indonesia sebagai mitra strategis dalam pengembangan jaringan usaha. Ajakan tersebut sejalan dengan upaya memperluas kerja sama dari transaksi produk menjadi hubungan usaha yang berkelanjutan.
Salah satu perusahaan yang dijadwalkan mengekspor produk boga bahari kering ke Tiongkok adalah PT Anugrah Laut Indonesia (ALI). Perusahaan yang berdiri pada 2002 itu telah memulai ekspor sejak satu dekade lalu dan secara konsisten menjadikan Tiongkok sebagai pasar utama.
Baca juga: Pariwisata Indonesia Tumbuh 5,71 Persen, Investasi Naik 16,64 Persen
Direktur Utama ALI, Aktaria Hidapratiwi, mengatakan penandatanganan nota kesepahaman dengan buyer Tiongkok dalam TEI kali ini terbantu oleh keberadaan perwakilan perdagangan setempat. Perusahaan, tuturnya, juga kerap menerima informasi dan pendampingan untuk mengikuti pameran di luar negeri. ALI berkomitmen menjaga kualitas agar transaksi yang terjalin dapat berlangsung dalam jangka panjang.
Aktaria menambahkan, kehadiran stan ALI di Hall 2 diharapkan bukan hanya memperkenalkan produknya kepada buyer potensial dari berbagai negara. Perusahaan juga berharap partisipasi tersebut dapat meningkatkan volume ekspor ke sejumlah negara tujuan yang sudah dijangkau sebelumnya, antara lain Kanada dan Mesir.
Menutup sambutannya, Roro menegaskan bahwa kepercayaan menjadi fondasi perdagangan yang kuat. Kepercayaan itu, menurutnya, tumbuh secara konsisten melalui kualitas produk, pemenuhan komitmen, dan pemahaman terhadap kebutuhan mitra. Ia kembali menilai kehadiran pelaku usaha di forum sebagai cerminan kepercayaan pada potensi ekonomi Indonesia serta peluang untuk terus mengembangkan hubungan dagang dengan Tiongkok.