Tujuh Kebiasaan yang Kerap Dimiliki Orang yang Menekan Snooze Berkali-kali

08/10/2026 10:50

CIANJUR.CO - Alarm berbunyi saat kamar masih gelap. Seseorang mematikannya, lalu kembali tidur sebentar. Beberapa menit kemudian, bunyi yang sama kembali terdengar dan siklus itu terulang sampai empat atau lima kali, bahkan hampir satu jam. Bagi yang melakukannya, kebiasaan tersebut mungkin terasa tidak masuk akal, tetapi tidak jarang tetap terjadi lagi keesokan harinya.

Hack Spirit menguraikan tujuh pola yang kerap menyertai orang yang berulang kali menekan tombol snooze. Gambaran ini tidak berarti semua orang yang menunda alarm memiliki alasan yang sama. Rutinitas pagi mereka bisa berhubungan dengan cara mengatur waktu, kegiatan pada malam sebelumnya, atau keadaan yang membuat seseorang sulit bangun.

Alarm pertama sudah dihitung sebagai waktu tambahan

Pertama, alarm paling awal sering kali bukan waktu bangun yang sungguh-sungguh diharapkan. Alarm itu dipasang sebagai semacam cadangan oleh orang yang sudah memperkirakan dirinya akan menekan snooze. Seseorang yang harus berangkat pukul 07.20, misalnya, bisa memasang alarm pukul 06.15. Jarak waktunya sengaja dibuat untuk menampung beberapa kali tidur tambahan.

Karena sudah memperhitungkan kebiasaan tersebut, rangkaian alarm itu lebih menyerupai negosiasi terjadwal dengan diri sendiri daripada kegagalan untuk bangun. Orang yang melakukannya pun belum tentu terlambat. Mereka mungkin merasa terburu-buru atau tampak muram di perjalanan, tetapi tetap tiba sesuai waktu karena sistem pagi yang disusun sejak awal sudah memasukkan waktu snooze.

Setiap penundaan dibayar dengan mengurangi kegiatan lain

Kedua, waktu ekstra di tempat tidur biasanya diambil dari bagian lain dalam rutinitas. Dalam keadaan setengah sadar, orang tersebut membuat perhitungan praktis: mandi bisa dilewati agar memperoleh tambahan 12 menit, menata rambut dapat ditunda sampai besok, kopi dibeli di stasiun alih-alih dibuat di rumah, atau pakaian yang sudah bersih langsung dikenakan supaya tidak perlu memilih.

Baca juga: Delapan Ciri Orang yang Lebih Nyaman Bekerja dengan Musik

Setiap putaran snooze mengubah rencana pagi. Sarapan biasanya menjadi hal pertama yang dilepas, disusul kegiatan menyetrika. Pada alarm keempat, rencana mungkin sudah dirombak beberapa kali dan bagian-bagiannya makin sedikit. Itu tetap sebuah perhitungan, tetapi dilakukan ketika seseorang belum cukup terjaga untuk menghitung dengan baik.

Waktu malam yang terasa milik sendiri bisa memendekkan tidur

Ketiga, pagi hari dapat dipengaruhi oleh apa yang terjadi pada malam sebelumnya. Bagi sebagian orang, malam adalah satu-satunya waktu yang tidak sedang dipakai orang lain. Anak-anak sudah tidur, surel berhenti masuk, dan rumah akhirnya tenang setelah aktivitas sejak pagi.

Karena waktu tenang itu terasa berharga, seseorang bisa memperpanjangnya dengan menonton satu episode lagi, menggulir layar selama 20 menit yang akhirnya menjadi 80 menit, atau membaca buku yang belum sempat disentuh sepanjang minggu. Dalam gambaran Hack Spirit, pilihan tersebut bukan semata-mata antara tidur dan hiburan. Orang itu mungkin merasa sedang memilih antara tidur dan satu-satunya bagian hari yang benar-benar menjadi miliknya, meski dampaknya bisa terasa ketika alarm berbunyi pukul 06.15.

Situasi penting dapat membuat seseorang bangun tepat waktu

Keempat, orang yang sulit bangun untuk rutinitas biasa dapat terlihat berbeda saat menghadapi peristiwa penting. Menjelang penerbangan, misalnya, mereka bisa bangun pukul 04.00, sudah mandi dan berkemas, lalu berdiri di dekat pintu 20 menit sebelum waktunya. Hal serupa dapat terjadi pada hari operasi, hari pertama bekerja di tempat baru, atau pagi ketika mereka harus mengantar seseorang ke rumah sakit.

Baca juga: Rumah Tanpa Dekorasi Liburan Belum Tentu Tak Peduli

Perbedaan itu tidak otomatis membuktikan bahwa orang tersebut sebenarnya mampu bangun seperti itu setiap hari. Rasa mendesak dan antisipasi terhadap peristiwa tertentu dapat mengubah pengalaman seseorang terhadap pagi. Bagi sebagian orang, kontras tersebut mungkin berkaitan dengan motivasi atau keengganan menghadapi hari. Namun, kesulitan bangun yang terus-menerus juga dapat melibatkan kurang tidur, efek obat, kerja bergilir, kesehatan mental, atau gangguan tidur. Perbedaan antara hari biasa dan hari penting saja tidak cukup untuk menentukan penyebab yang berlaku.

Terburu-buru, tetapi terlatih bergerak cepat

Kelima, setelah kesempatan menunda alarm habis dan batas waktu benar-benar dekat, orang yang sering snooze bisa bergerak dengan sangat cepat. Pakaian sudah disiapkan atau setidaknya ditentukan dalam pikiran, waktu mandi diperhitungkan, lalu kunci dan tas diambil sebelum berangkat.

Orang yang tinggal serumah dengan seseorang yang rutin menekan snooze mungkin mengenali perubahan mendadak ini: lama tidak ada kegiatan, lalu tiba-tiba orang itu mengerjakan beberapa hal sekaligus di lorong. Bertahun-tahun menghadapi waktu pagi yang sempit dapat membuat mereka cekatan dalam rutinitas tersebut. Hack Spirit menyebutnya bukan cara ideal untuk membangun keterampilan, tetapi kebiasaan yang berulang dapat membuat seseorang terampil melakukannya.

Tanpa tuntutan kerja, bangun pagi bisa terasa mudah

Keenam, sebagian orang yang berkali-kali menunda alarm pada hari kerja ternyata dapat bangun dengan baik pada hari Sabtu. Tanpa alarm dan tanpa negosiasi, mereka mungkin terjaga pukul 08.00, merasa nyaman, membuat kopi, lalu membaca. Ada pula yang bangun lebih awal daripada pada hari kerja meskipun biasanya harus menghadapi beberapa alarm.

Baca juga: Apa yang Dilakukan Segelas Wine Pukul 20.00 bagi Penulis

Yang berubah, dalam uraian Hack Spirit, adalah adanya izin untuk menjalani pagi tanpa tujuan yang menunggu. Karena tidak harus pergi ke suatu tempat, tidak ada tuntutan yang perlu ditolak. Bagi sebagian orang, rutinitas snooze mungkin juga menjadi bentuk protes kecil terhadap perasaan dipanggil untuk memenuhi sesuatu yang tidak dipilih sendiri, lima hari seminggu, pada waktu yang ditentukan orang lain. Namun, jumlah dan mutu tidur tetap dapat menjadi bagian dari persoalan.

Kebiasaan ini sering disertai kritik terhadap diri sendiri

Ketujuh, ketika kebiasaan tersebut dibicarakan, orang yang melakukannya bisa segera merendahkan diri: menyebutnya kebiasaan buruk, mengaku tidak disiplin, atau mengatakan bahwa mereka memang selalu seperti itu. Mereka juga mungkin sudah mencoba sebagian saran agar bangun lebih awal, seperti meletakkan alarm jauh dari tempat tidur, menaruh ponsel di dapur, atau memaksa diri duduk tegak begitu alarm pertama berbunyi.

Menurut gambaran Hack Spirit, yang tertinggal bukan hanya rasa lelah, melainkan perasaan kecil bahwa seseorang sudah kehilangan sesuatu sebelum hari dimulai. Perasaan itu dapat dialami orang yang dalam banyak hal tetap mampu mengelola hidupnya. Banyak orang yang sering snooze bukan pemalas; mereka bisa saja termasuk orang yang mengerjakan beban setara tiga pekerjaan sebelum pukul 16.00.

Memahami hal itu dapat membantu orang serumah agar tidak langsung memandang kebiasaan snooze sebagai kekurangan karakter. Bagi yang mengalaminya, pertanyaan yang berguna antara lain apa yang terjadi sekitar pukul 23.00 pada malam sebelumnya dan apakah tidur yang diperoleh sudah cukup serta berkualitas. National Heart, Lung, and Blood Institute merekomendasikan agar orang yang rutin bangun tanpa merasa segar atau mengantuk pada siang hari membicarakannya dengan dokter.