Apa yang Dilakukan Segelas Wine Pukul 20.00 bagi Penulis
CIANJUR.CO - Ketika malam tiba, anak-anak sudah tidur, pekerjaan rumah selesai, dan surel terakhir dari kantor telah dibalas, sebagian orang akhirnya memperoleh waktu untuk dirinya sendiri. Di meja, laptop menyala dengan dokumen yang mungkin sudah terbuka berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Kursor berkedip di bawah halaman berisi ribuan kata, tetapi halaman itu tetap terasa belum cukup terisi.
Bagi sejumlah perempuan yang menyimpan keinginan menulis novel, pukul 20.00 bisa menjadi awal dari sesi menulis sekaligus perdebatan dengan diri sendiri. Segelas wine kerap hadir sebagai bagian dari suasana itu. Namun, apakah minuman tersebut benar-benar membantu menghasilkan tulisan, atau hanya membuat seseorang merasa lebih mudah memulai? Laporan Geediting mengulas perbedaan antara efek yang mungkin dirasakan dan hal yang benar-benar didukung penelitian.
Suara kritis yang muncul lebih dulu
Dalam gambaran yang diangkat Geediting, hambatan tidak selalu berupa ketiadaan ide. Sering kali, suara kritis dalam pikiran sudah menilai sebuah kalimat ketika kalimat itu bahkan belum selesai ditulis. Baris yang masih setengah jadi dianggap kurang baik, lalu penulis berhenti sebelum sempat mengembangkan gagasan berikutnya. Apa yang terjadi dalam sepuluh menit setelah kritik itu muncul dapat menentukan apakah ada tulisan yang dihasilkan malam itu.
Segelas wine bagi sebagian orang terasa seperti cara untuk meredam suara tersebut, setidaknya cukup agar mereka terus mengetik. Kebiasaan ini dikenal di kalangan penulis sebagai semacam ritual pribadi. Geediting mencatat bahwa peneliti juga pernah menguji apakah ada dasar terukur di balik anggapan itu, alih-alih menganggapnya sekadar cerita yang menenangkan.
Eksperimen tentang pemecahan masalah
Pada 2012, tim yang dipimpin Jennifer Wiley, profesor psikologi di University of Illinois at Chicago, melakukan eksperimen untuk menguji kaitan antara kondisi sedikit mabuk dan pemecahan masalah kreatif. Penelitian Wiley berfokus pada cara kerja pemahaman dan pemecahan masalah. Dalam eksperimen tersebut, 40 laki-laki dibagi menjadi dua kelompok. Separuh peserta meminum vodka cranberry hingga kadar alkohol dalam darah mereka mencapai sekitar 0,075, yang diperkirakan setara dengan efek dua minuman standar pada orang dewasa dengan ukuran tubuh rata-rata. Separuh lainnya tetap sadar.
Baca juga: 7 Kebiasaan yang Membantu Seseorang Mengingat Nama Orang
Semua peserta kemudian mengerjakan teka-teki Remote Associates Test. Dalam tes itu, tiga kata yang tampak tidak berhubungan memiliki satu kata keempat yang dapat mengaitkan ketiganya. Jenis soal tersebut mengandalkan pemikiran asosiatif yang longgar, kemampuan yang juga kerap dibutuhkan saat mengembangkan fiksi. Dengan demikian, eksperimen ini menguji tugas tertentu yang berkaitan dengan asosiasi, bukan kemampuan menulis cerita atau menghasilkan novel.
Kelompok yang sedikit mabuk menyelesaikan 58 persen teka-teki, sedangkan kelompok yang tidak minum menyelesaikan 42 persen. Kelompok pertama juga menjawab lebih cepat: rata-rata sekitar 11,5 detik untuk setiap jawaban, dibandingkan 15,2 detik pada kelompok kontrol. Para peserta yang sedikit mabuk juga menilai bahwa jawaban mereka lebih banyak muncul sebagai wawasan mendadak daripada hasil analisis yang hati-hati.
Namun, Wiley membatasi makna hasil tersebut. Kepada ringkasan penelitian British Psychological Society, ia mengatakan, “We tested what happens when people are tipsy.” Pernyataan itu menegaskan bahwa eksperimen mengamati kondisi ketika orang sedikit mabuk. Temuannya tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa alkohol meningkatkan semua bentuk kreativitas, atau bahwa hasilnya berlaku langsung pada proses menulis fiksi.
Efek yang mungkin terjadi dan batas penelitian
Penjelasan dalam makalah penelitian lebih menekankan kemungkinan alkohol mengendurkan perhatian yang terlalu terpaku, bukan menciptakan ide baru. Saat mengerjakan teka-teki, seseorang bisa terpaku pada hubungan kata yang paling jelas dan sulit beralih meski hubungan itu keliru. Alkohol tampaknya dapat melemahkan fokus sempit seperti itu, sehingga hubungan yang lebih jauh atau kurang menonjol berpeluang muncul ke kesadaran, bukannya tersaring sejak awal.
Baca juga: Relawan Rutin Belajar Membaca Kebutuhan dan Sikap Orang
Gambaran tersebut berdekatan dengan pengalaman penulis yang merasa perlu berhenti menghalangi dirinya sendiri. Jika kritik batin tidak langsung menolak kalimat yang belum rapi, seseorang mungkin lebih mudah meneruskan draf. Akan tetapi, kemampuan untuk membiarkan kalimat kasar tetap berada di halaman berbeda dari kemampuan memperbaikinya menjadi tulisan yang baik.
Jumlah peserta penelitian itu hanya 40 orang dan semuanya laki-laki. Mereka mengerjakan satu jenis teka-teki di laboratorium, bukan menulis halaman fiksi. Anthony Fredericks, profesor emeritus pendidikan yang meninjau penelitian terkait, juga mengingatkan bahwa manfaat alkohol tidak dapat diperluas begitu saja. Ia menulis bahwa alkohol tampaknya tidak meningkatkan kreativitas secara keseluruhan. Kondisi mabuk ringan membantu peserta dalam teka-teki yang menuntut pemecahan konvergen berbasis wawasan, tetapi tidak meningkatkan pemikiran divergen, yakni proses mengembangkan beragam gagasan baru yang juga diperlukan dalam menulis novel.
Karena itu, hasil eksperimen paling jauh mendukung kemungkinan bahwa alkohol ringan mengurangi penyensoran diri dalam tugas tertentu. Klaim bahwa wine membuat seseorang menjadi pencerita yang lebih baik melampaui bukti yang tersedia. Penelitian tersebut juga tidak menunjukkan bahwa alkohol membantu menyusun plot, membangun struktur, atau menjalani proses revisi. Draf awal dan penyuntingan merupakan pekerjaan berbeda; mengurangi keraguan saat mulai menulis belum berarti menghasilkan naskah yang lebih matang.
Ritual menulis tidak harus memakai wine
Geediting juga menggambarkan cara lain yang dapat membantu seseorang menjauh sejenak dari suara editor di dalam kepala. Orang yang tidak minum dapat berjalan kaki sebelum duduk menulis untuk mengurangi kegelisahan yang berubah menjadi kritik diri. Sebagian orang memilih musik, sedangkan yang lain menulis pada jam yang sama setiap hari sampai kegiatan itu terasa sebagai kebiasaan, bukan keputusan yang harus dinegosiasikan berulang kali.
Baca juga: Keheningan Bukan Kekosongan: Belajar Mendengar Kembali
Ritual sederhana juga dapat menjadi penanda waktu menulis: duduk di kursi tertentu, menggunakan cangkir tertentu, atau menyalakan lampu tertentu. Dalam uraian tersebut, kesamaan berbagai cara itu bukan pada benda atau aktivitasnya, melainkan pada isyarat yang memberi jarak dari penilaian diri. Jeda itu memungkinkan kalimat yang belum sempurna hadir lebih dahulu sebelum dinilai.
Geediting turut menyampaikan catatan bahwa apabila segelas wine tidak lagi berfungsi sebagai isyarat untuk memulai, melainkan terasa sebagai satu-satunya cara untuk menulis, hal itu patut dibicarakan dengan dokter atau terapis dan tidak perlu diatasi sendirian di meja kerja.
Dengan demikian, wine pukul 20.00 dalam gambaran tersebut lebih tepat dipahami sebagai isyarat kecil yang berulang, bukan sumber kata-kata baru atau jaminan kualitas tulisan. Minuman itu mungkin terasa memberi ruang bagi penulis untuk mendekati halaman tanpa segera menghakimi setiap kalimat. Namun, ruang yang sama dapat dicari melalui jalan kaki, musik, lampu, atau kebiasaan yang konsisten. Kata-kata yang muncul sesudahnya mungkin memang sudah ada; ritual hanya membantu penulis menjangkaunya sebelum kritik diri menghentikan proses.