Rumah Tanpa Dekorasi Liburan Belum Tentu Tak Peduli
CIANJUR.CO - Menjelang akhir musim gugur, suasana di lingkungan tempat tinggal sering memperlihatkan dua macam rumah. Sebagian memasang lampu dan ornamen hingga terlihat dari kejauhan, sedangkan rumah lain tetap berpenampilan seperti hari-hari biasa. Perbedaan itu mudah dibaca sebagai tanda bahwa penghuni rumah yang polos kurang bersemangat menyambut hari raya. Namun, tampilan luar belum tentu menggambarkan seberapa penting perayaan tersebut bagi mereka.
Berdasarkan laporan Geediting, pembeda yang lebih relevan mungkin adalah siapa yang menjadi sasaran dekorasi. Ada orang yang menata rumah untuk dilihat tetangga atau siapa pun yang melintas. Ada pula yang memaknai hari raya lewat kegiatan pribadi di dalam rumah, tanpa merasa perlu menunjukkan suasana itu dari jalan. Karena itu, tidak adanya lampu atau hiasan di depan rumah tidak serta-merta berarti penghuninya bersikap acuh.
Seseorang yang tidak pernah memasang dekorasi, misalnya, tetap bisa membuat kue yang sama setiap tahun, menonton film yang sama, atau menjalankan kebiasaan lain yang bermakna baginya. Tradisi tersebut mungkin hanya diketahui oleh keluarga dan orang-orang terdekat. Dalam situasi seperti itu, dekorasi bukan ukuran perasaan terhadap hari raya, melainkan salah satu cara menyampaikan sesuatu kepada orang lain.
Dekorasi yang menyampaikan pesan kepada orang lewat
Hiasan yang terlihat dari jalan memang dirancang untuk mendapat perhatian dari luar. Manusia salju tiup atau lampu yang dipasang di atap dapat dilihat oleh orang yang berkendara atau berjalan melewati rumah, termasuk mereka yang tidak diundang secara khusus. Ciri tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa pemilik rumah sedang mencari perhatian secara berlebihan. Namun, bentuk dekorasinya menjadikannya pesan yang dapat dibaca oleh orang yang belum mengenal penghuninya.
Baca juga: Apa yang Dilakukan Segelas Wine Pukul 20.00 bagi Penulis
Studi yang diterbitkan dalam Journal of Environmental Psychology meneliti bagaimana orang menilai penghuni rumah berdasarkan tampilan bagian luar. Carol Werner, Sharon Peterson-Lewis, dan Barbara Brown memperlihatkan foto rumah yang sebagian dihias untuk Natal dan sebagian tidak kepada para peserta. Mereka kemudian meminta peserta memperkirakan apakah penghuni rumah itu bersahabat dan mudah bergaul.
Para peneliti melaporkan bahwa “penilai menggunakan dekorasi Natal sebagai petunjuk bahwa para penghuni rumah ramah dan kompak.” Penilaian itu muncul meski peserta belum pernah bertemu dengan orang yang tinggal di rumah dalam foto. Dengan kata lain, rangkaian lampu dapat memengaruhi kesan orang asing tentang kehangatan sebuah rumah tangga, walaupun kesan tersebut hanya didasarkan pada tanda yang terlihat dari luar.
Temuan yang dikutip Geediting juga menyebut dekorasi dapat berfungsi sebagai petunjuk sosial bagi penghuni yang tidak terlalu aktif berinteraksi. Bagi mereka, hiasan yang tampak dari jalan bisa menjadi semacam undangan agar tetangga menyapa. Orang yang melihatnya dapat menangkap kesan bahwa penghuni rumah terbuka untuk berhubungan, meski tidak banyak kesempatan untuk mengetahui hal itu dari interaksi sehari-hari. Dengan demikian, dekorasi luar tidak selalu sekadar pertunjukan bagi orang asing; terkadang ia menyediakan cara sederhana untuk menunjukkan keterbukaan.
Perayaan yang lebih ditujukan kepada penghuni rumah
Rumah yang tidak menampilkan dekorasi ke jalan dapat berangkat dari pertimbangan berbeda, bukan karena penghuninya tidak menyukai hari raya. Dalam penelitian mengenai cara ruang pribadi menyampaikan kepribadian, psikolog Samuel Gosling dan rekan-rekannya membagi benda yang dipajang menjadi dua kelompok. Salah satunya disebut other-directed identity claims, yakni benda yang ditata untuk menyampaikan kepada orang lain bagaimana pemiliknya ingin dipandang. Kelompok lainnya adalah self-directed identity claims, benda yang ditempatkan demi kepentingan pemilik sendiri dan membantu menguatkan pandangan mereka tentang dirinya.
Baca juga: 7 Kebiasaan yang Membantu Seseorang Mengingat Nama Orang
Perbedaan itu dapat digunakan untuk memahami dekorasi musiman. Rumah dengan lampu yang menyelimuti bagian luar atau ornamen halaman menyampaikan sesuatu kepada khalayak, termasuk orang yang sekadar melintas. Sebaliknya, pohon kecil yang menyala di jendela belakang dan hanya terlihat oleh penghuni rumah lebih berorientasi kepada orang-orang di dalamnya. Kedua pilihan itu tidak menunjukkan tingkat kepedulian yang lebih tinggi atau lebih rendah. Yang berbeda adalah orang yang menjadi sasaran suasana tersebut.
Sejumlah rumah yang tampak polos dari trotoar mungkin tetap merayakan hari raya lewat resep keluarga yang diwariskan, kotak ornamen tertentu yang dikeluarkan dengan urutan yang sama setiap tahun, atau malam yang disediakan untuk orang-orang yang sudah mengenal alamat rumah tersebut. Kebiasaan itu tidak perlu diketahui oleh pengendara yang lewat. Jika kegiatan perayaan berlangsung di ruang pribadi dan ditujukan kepada orang yang sudah dekat, tidak ada alasan bahwa semuanya harus tampak dari luar.
Karena itu, membaca teras kosong sebagai tanda apatis dapat mencampuradukkan pilihan tentang siapa yang melihat dengan perasaan seseorang terhadap perayaan. Meski begitu, dekorasi luar juga tidak otomatis berarti kurang tulus. Ada penghuni yang memasang karangan bunga di pintu karena kebiasaan atau harapan sosial, sekaligus menjalankan tradisi pribadi di dalam rumah. Motif publik dan pribadi bisa hadir bersamaan; perbedaannya tidak selalu tegas.
Baca juga: Relawan Rutin Belajar Membaca Kebutuhan dan Sikap Orang
Pengaruh kebiasaan satu lingkungan
Studi lain oleh Barbara Brown dan Carol Werner menelaah hubungan antara dekorasi hari raya dan keterikatan terhadap lingkungan tempat tinggal. Penelitian itu menemukan bahwa kebiasaan menghias rumah dapat menyebar dari satu rumah ke rumah lain di satu blok, bukan muncul secara acak. Setelah sebuah rumah memasang lampu, rumah-rumah di sekitarnya lebih mungkin mengikuti. Pola tersebut paling kuat di jalan buntu, tempat hubungan antarwarga disebut sudah lebih dekat.
Temuan itu memberi gambaran bahwa menghias rumah dapat menjadi cara bergabung dalam kegiatan yang telah berlangsung di lingkungan. Pilihan memasang dekorasi tetap dapat bersifat pribadi, tetapi suasana sosial di sekitar rumah ikut berperan. Sebaliknya, rumah tangga yang lebih berfokus pada tradisi di antara orang-orang yang tinggal di bawah satu atap mungkin tidak merasakan dorongan yang sama untuk mengikuti tampilan bersama di jalan.
Dengan demikian, rumah yang menyala dan rumah yang tampak biasa bisa menanggapi hal berbeda: yang satu ikut menyampaikan sinyal sosial kepada lingkungan, sementara yang lain menjalani perayaan dengan cara yang baru terlihat setelah seseorang masuk ke dalam. Tanpa mengetahui kebiasaan penghuninya, tampilan teras saja tidak cukup untuk memastikan seberapa besar arti hari raya bagi mereka.