Fiki Mutakin Berharap Bisa Bekerja Selama Pemulihan Luka Tembak

11/10/2026 19:19

CIANJUR.CO - Fiki Mutakin belum bisa berjalan setelah mengalami luka tembak di kaki dalam peristiwa pembajakan kapal di Somalia. Awak kapal berusia 25 tahun itu kini menjalani perawatan di RS Polri dan berharap memperoleh pekerjaan yang dapat dilakukan dengan kondisi tubuhnya saat ini.

Harapan tersebut ia sampaikan saat berbicara dengan detikJabar pada Minggu (11/10/2026), setelah bertemu kembali dengan keluarga di Indonesia. Fiki belum mengetahui kapan dapat meninggalkan rumah sakit karena masih membutuhkan tindakan medis lanjutan. Di tengah proses perawatan, ia ingin tetap memiliki penghasilan untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Ini ya bantuan untuk kerjaan aja gitu kan,” ujar Fiki. Ia tidak menyebut jenis pekerjaan tertentu, tetapi berharap ada kegiatan yang bisa dijalani meskipun pergerakannya masih terbatas. Luka di kaki membuatnya belum dapat berjalan, sehingga ia belum bisa kembali bekerja seperti sebelumnya.

Fiki pulang setelah sekitar lima bulan disandera perompak di Somalia. Kepulangan itu menjadi awal untuk kembali menjalani kehidupan bersama keluarga, sekaligus menghadapi pemulihan dari luka yang dialaminya. Ia berharap dapat menemukan pekerjaan yang sesuai sampai kondisi tubuhnya memungkinkan untuk bergerak normal.

Baca juga: Disdikpora Cianjur Sosialisasikan SLF, Sekolah Belum Ada yang Mengantongi

“Kerja tapi dengan keterbatasan, enggak bisa jalan gitu kan,” katanya. Bagi Fiki, kebutuhan bekerja berkaitan dengan penghasilan yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari. Ia mengatakan hidup harus terus dijalani, sehingga keinginan mencari nafkah berjalan berdampingan dengan upaya memulihkan kesehatan.

Di rumah sakit, Fiki mendapat informasi bahwa kemungkinan ada operasi ulang. Sebelumnya, ia telah menerima penanganan dalam keadaan darurat ketika berada di Somalia. Pemeriksaan lanjutan di Indonesia menunjukkan bahwa kakinya masih membutuhkan tindakan lebih lanjut.

“Karena harus tindakan lebih lanjut lagi kang,” ucapnya. Fiki mengaku belum memahami istilah yang disampaikan kepadanya, sehingga belum dapat menjelaskan secara terperinci tindakan medis yang mungkin dijalani. Informasi mengenai operasi ulang itu masih ia terima dalam proses perawatan dan belum disertai penjelasan dari dokter yang dapat ia uraikan.

Sambil menunggu perkembangan penanganan, ia berharap kondisi kakinya membaik hingga bisa berjalan normal. Fiki juga ingin dapat kembali menjalankan pekerjaan, tetapi menempatkan pemulihan sebagai hal yang perlu dilalui sebelum menentukan langkah selanjutnya. Ia berharap bisa berjalan dan berlari lagi setelah rangkaian penanganan medis selesai.

Baca juga: Polres Cianjur Gencarkan Razia, Dua Pemuda Bawa 700 Butir Obat Diamankan

Pengalaman disandera dan terkena tembakan tidak membuat Fiki langsung menutup kemungkinan untuk kembali menjadi pelaut. Ia mengatakan masih tertarik pada dunia pelayaran dan memandang pekerjaan di laut sebagai salah satu jalan untuk mencari rezeki bagi keluarga. Namun, rencana melaut lagi bergantung pada kesembuhan dan kemampuan tubuhnya.

“Kalau untuk kapok, tidak kang,” kata Fiki. Salah satu hal yang menarik baginya dari pekerjaan sebagai pelaut adalah kesempatan bertemu orang asing dan mengenal orang dari negara lain. Ketertarikan itu sudah muncul sebelum ia bekerja di kapal, melalui obrolan dengan seorang om yang bekerja di laut.

Percakapan dengan omnya mendorong Fiki menyiapkan diri untuk bekerja di kapal. Ia mengambil sertifikat dan melengkapi dokumen pelaut sebelum memperoleh kesempatan bekerja. Fiki menegaskan bahwa ia tidak berasal dari akademi pelayaran, melainkan berlatar pendidikan sekolah umum.

“Bukan dari akademi,” ujarnya. Persiapan untuk masuk ke pekerjaan tersebut, menurut Fiki, dilakukan melalui pengurusan sertifikat dan dokumen. Ia kemudian memulai pengalaman berlayar di dalam negeri dengan kapal kargo, sebelum bekerja di kapal tanker untuk perjalanan internasional.

Baca juga: Monumen Titik Nol Kurang Terawat, Pemekaran Cianjur Selatan Belum Jelas

Perjalanan pertamanya ke luar Indonesia menjadi pengalaman ketika pembajakan terjadi dan ia harus melewati penyanderaan selama berbulan-bulan. Sebelum itu, catatan kerjanya mencakup sepuluh bulan di kapal pertama dan satu tahun tiga bulan di kapal berikutnya. Dengan pengalaman tersebut, ia masih tergolong pelaut yang relatif baru ketika menghadapi pembajakan dalam pelayaran internasional pertamanya.

Fiki merupakan anak ketujuh dari tujuh bersaudara. Ia menyebut pekerjaan di laut sebagai jalan mencari rezeki, sehingga peluang kembali melaut tetap terbuka setelah kesehatannya pulih. Meski demikian, ia belum dapat memastikan kapan akan menerima pekerjaan di kapal lagi dan masih harus menunggu kondisi kakinya membaik.

Untuk sementara, ia berharap ada pekerjaan yang dapat dilakukan dengan keterbatasan gerak selama pemulihan. Kesempatan berlayar kembali masih menjadi kemungkinan yang menarik baginya, tetapi harus menunggu sampai ia sembuh dan mampu berjalan kembali. Di antara perawatan serta rencana untuk suatu saat kembali melaut, Fiki berupaya mencari pekerjaan yang sesuai dengan keadaan tubuhnya sekarang.