Lima Bulan Disandera di Somalia, Fiki Mutakin Terus Berdoa Bisa Pulang

11/10/2026 19:23

CIANJUR.CO - Suara senjata dan tangan yang terikat pada besi kapal membuat Fiki Mutakin membayangkan dirinya mungkin tidak akan pernah pulang. Dalam situasi penyanderaan di Somalia, awak kapal berusia 25 tahun itu merasa hidupnya bisa berakhir jauh dari keluarga. Ia kemudian berdoa dan menyampaikan permohonan maaf kepada orang-orang terdekat maupun teman sesama sandera.

Kesaksian Fiki disampaikan kepada detikJabar pada Minggu (11/10/2026), setelah ia selamat dari penyanderaan yang berlangsung sekitar lima bulan. Selama berada di kapal yang dibajak, pikirannya berkali-kali tertuju pada rumah dan kemungkinan untuk bertemu kembali dengan keluarga. Namun, ia tidak mengetahui kapan penyanderaan akan berakhir ataupun bagaimana proses pembebasan berjalan.

“Tolonglah maafkan saya,” ujar Fiki saat mengingat doa dan permohonan maaf yang disampaikannya ketika merasa kesempatan bertemu orang-orang terdekat mungkin tidak akan datang lagi. Pada saat itu, ancaman yang ia hadapi membuat harapan untuk pulang terasa semakin jauh.

Ketakutan dan harapan yang berubah

Fiki adalah anak ketujuh dari tujuh bersaudara. Sebelum bekerja di kapal, ia mengenal dunia pelayaran melalui pamannya, kemudian mengambil sertifikat pelaut. Pengalaman tersebut membawanya bekerja di kapal, tetapi ia tidak menyangka akan menghadapi penyanderaan yang membuatnya terpisah dari keluarga selama berbulan-bulan.

Hari demi hari selama ditawan diisi kerinduan dan ketidakpastian. Fiki berulang kali menunggu kabar tentang kemungkinan pembebasan, tetapi tidak tahu bagaimana negosiasi berlangsung. Menurut pengalamannya, keadaan itu membuat harapan yang semula ia jaga perlahan melemah.

Baca juga: Astanaanyar Bandung Jadi Tujuan Berburu Barang Bekas

“Bisa pulang nggak ini, ya?” kenangnya, menggambarkan pertanyaan yang terus muncul selama berada dalam kekuasaan perompak. Pikiran tersebut semakin kuat ketika ia mendengar suara senjata dan membayangkan tidak akan lagi melihat rumah. Saat itu, kepulangan yang sebelumnya ia harapkan terasa sulit dipastikan.

Fiki juga mengingat detik-detik menjelang penyerangan. Para sandera ditempatkan di ruang terbuka dengan tangan terikat, sehingga tidak bisa melarikan diri. Ia memandang keadaan itu sebagai kemungkinan akhir perjalanan hidupnya. Ketika suara tembakan terdengar, bayangan untuk bertemu keluarga terasa seolah menghilang.

“Sudah ikhlas, gitu, Kang,” ujarnya tentang perasaannya menghadapi situasi tersebut. Ia mengatakan saat merasa kematian bisa datang kapan saja dalam keadaan terikat, dirinya tidak lagi memikirkan kepulangan. Doa dan permohonan maaf menjadi bagian dari responsnya ketika tak tahu apa yang akan terjadi berikutnya.

Komunikasi dengan keluarga terhenti

Pada awal penyanderaan, Fiki masih mendapat kesempatan terbatas untuk menelepon keluarga. Dalam percakapan singkat itu, ia berusaha menjaga agar orang tua dan saudara-saudaranya tidak semakin khawatir. Ia tidak menceritakan beratnya keadaan yang sedang dialami dan memilih mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.

“Saya selalu bilang, baik-baik aja saya di sini,” kata Fiki mengenang jawaban yang ia sampaikan saat dapat menghubungi keluarga. Kepada keluarganya di Bogor, ia juga mengatakan masih makan dan minum. Ia meminta mereka mendoakan agar perusahaan segera menemukan jalan untuk membawanya pulang.

Baca juga: Fiki Mutakin Berharap Bisa Bekerja Selama Pemulihan Luka Tembak

Namun, kesempatan berkomunikasi itu kemudian berhenti. Selama menunggu kemungkinan dibebaskan, Fiki tidak lagi mengetahui keadaan keluarga di rumah. Kerinduan pun bercampur dengan kekhawatiran bahwa ia mungkin tidak akan bisa bertemu mereka lagi. Warga Tenjo, Kabupaten Bogor, itu menyebut kesempatan berbicara dengan keluarga sebagai hal yang paling membekas selama ditawan.

Makanan seadanya masih dapat ia terima untuk bertahan hidup. Bagi Fiki, yang terasa sangat berat justru ketidaktahuan mengenai kabar orang-orang di rumah. “Kangen ngobrol sama orang rumah,” ucapnya. Keinginan untuk kembali berbincang dengan keluarga itu membuatnya terus berdoa agar diberi kesempatan melihat orang tua dan berbicara lagi dengan saudara-saudaranya.

Bertemu kembali setelah penyanderaan

Ketika akhirnya bertemu keluarga di Indonesia, Fiki kesulitan berkata-kata. Ia tidak menyangka masih bisa pulang setelah melewati masa ketika harapannya hampir putus. Ia menarik napas panjang dan berulang kali memastikan bahwa orang-orang di hadapannya benar-benar keluarga yang selama ini dirindukan.

“Ini serius kita di Indonesia?” katanya mengingat ucapan pertama kepada keluarga setelah kembali. Pertanyaan itu menggambarkan keterkejutannya karena pertemuan yang sebelumnya terasa mungkin tidak akan terjadi akhirnya benar-benar berlangsung.

Baca juga: Disdikpora Cianjur Sosialisasikan SLF, Sekolah Belum Ada yang Mengantongi

Setelah kembali, Fiki baru mengetahui ada orang-orang yang membantu menenangkan keluarganya selama ia ditawan. Ia mendengar bahwa perwakilan Kementerian Luar Negeri datang dan orang-orang terdekat memberikan pendampingan serta informasi kepada keluarga. Nama Ibu Asri dan Om Gunawan disebutnya sebagai bagian dari mereka yang menjaga komunikasi dengan orang rumah.

Menurut Fiki, perhatian tersebut membantu keluarganya menghadapi ketidakpastian, terutama ketika mereka tidak lagi mendapat kabar langsung darinya. Ia bersyukur keluarganya tidak menjalani masa penantian itu sendirian. Cerita tentang pendampingan yang diterima keluarga membuatnya senang setelah ia kembali dan mengetahui apa yang terjadi selama dirinya berada dalam penyanderaan.

Dari pengalaman itu, Fiki menitipkan pesan agar orang-orang menjaga komunikasi dan hubungan dengan keluarga selagi kesempatan untuk bertemu masih ada. Baginya, kehilangan kesempatan berbicara terasa berbeda ketika seseorang tidak bisa mengetahui kabar orang terdekat dalam waktu panjang. Ia mengingatkan agar hubungan dengan orang tua dan keluarga tidak dianggap biasa.

“Jaga selalu keluarga, ayah dan ibu, selagi mereka masih ada,” kata Fiki. Pesan itu ia sampaikan setelah menjalani masa penyanderaan, ketika kerinduan untuk berbicara dengan keluarga dan doa agar dapat pulang menjadi bagian dari hari-harinya.