Ketika Diri Autentik Menjadi Kostum Baru
CIANJUR.CO - Berhenti berpura-pura tidak selalu membuat seseorang langsung merasa lega. Setelah pulang dan menutup pintu, mungkin ada harapan bahwa topeng akan terlepas dan wajah yang lebih jujur muncul. Namun, yang ditemukan justru bisa berupa wajah lain: tampak lebih lunak dan terbuka, tetapi telah lama dibentuk serta diperhatikan sampai sulit diketahui kapan penyusunannya dimulai.
Pengalaman itu menjadi titik awal pembahasan The Vessel mengenai keautentikan di masa kini. Diri sejati sering dibayangkan sebagai sesuatu yang tertimbun di balik penampilan sosial dan bisa ditemukan dengan mengupas lapisan-lapisannya. Tetapi, upaya menunjukkan diri yang mentah pun dapat memiliki gaya yang dikenali. Unggahan tanpa saringan bisa mengikuti estetika tertentu, pengakuan rentan dapat tersusun dengan pola, bahkan kesendirian bisa digambarkan melalui suasana yang khas.
Seperti diberitakan The Vessel, pertanyaannya bukan hanya apakah seseorang tulus atau berpura-pura. Esai itu mempertanyakan kemungkinan bahwa autentisitas yang kini ditawarkan sebagai nilai juga merupakan kostum. Jika seseorang berhenti memainkan peran, termasuk peran sebagai orang yang menolak tampil, apa yang masih tersisa?
Keaslian yang menjadi mata uang
Setiap zaman, menurut tulisan tersebut, memiliki gambaran diri yang dapat dijual kembali kepada masyarakat. Pada era Victoria, gambaran itu berupa kelurusan moral. Pada pertengahan abad ke-20, yang ditawarkan adalah aspirasi dan perangkat rumah tangga. Dalam satu dekade terakhir, daya tariknya lebih halus: diri yang autentik, tidak dipoles, berantakan, dan terasa nyata.
Ketika autentisitas menjadi nilai yang dihargai, ia juga dapat berfungsi sebagai mata uang. Sesuatu yang terlihat tidak dipoles mungkin sebenarnya telah disiapkan dengan cermat. Keterangan yang tampak spontan bisa menjadi objek yang rapi, sementara pengakuan yang diunggah pukul 11 malam mungkin telah disusun sejak Selasa. Bahkan orang yang mengatakan tidak sedang tampil dapat membawakan penampilan tentang sikap tidak tampil.
Pasar dalam uraian itu bukan hanya tempat transaksi, melainkan perhatian yang terkumpul dari orang lain. Perhatian tersebut dapat memberi imbalan berupa tanda suka, kontrak, rasa diterima, bahkan cinta. Dengan demikian, keinginan menjadi autentik dapat masuk ke dalam hubungan yang sama dengan bentuk penampilan lain: sesuatu ditunjukkan, disaksikan, lalu memperoleh tanggapan.
The Vessel tidak menggambarkan keadaan tersebut sebagai kegagalan moral. Manusia terbentuk untuk hidup dalam kelompok kecil, tetapi kini dapat disaksikan banyak orang sekaligus. Ketika dilihat dalam skala luas, apa yang ditampilkan sulit sepenuhnya tidak dibentuk. Kamera mengubah cara seseorang tampil di hadapannya; demikian pula kamera internal yang terasa tetap menyala meski tidak ada orang lain yang melihat.
Baca juga: 7 Perbedaan Orang Tegas dan Impulsif Saat Mengambil Keputusan
Topeng, peran, dan tubuh di baliknya
Untuk membedakan topeng dari kebohongan, esai itu menyinggung para antropolog yang mengamati tradisi penggunaan topeng dalam berbagai upacara. Dalam konteks seremonial, topeng tidak selalu dipahami sebagai kepalsuan yang menutupi kebenaran. Ia dapat menjadi ambang tempat sesuatu bergerak melaluinya. Pemakainya untuk sementara dilepaskan dari dirinya agar sesuatu yang lebih tua dapat berbicara.
Kehidupan modern, menurut tulisan tersebut, mempertahankan topeng tetapi melupakan gagasan tentang ambang. Orang mengenakan wajah sebagai pegawai yang baik, pasangan yang baik, warga yang baik, penyembuh yang baik, atau pemberontak yang baik. Peran-peran itu kemudian lebih menyerupai etalase daripada jalan bagi sesuatu untuk melintas. Di belakang etalase, orang diberi tahu, ada diri sejati yang menunggu kesempatan untuk keluar.
Namun, sosok yang disebut diri sejati itu juga bisa merupakan cerita. Jika diperhatikan cukup lama, ia mungkin memiliki pilihan suasana, keluhan yang berulang, serta bentuk tertentu yang disukai ketika disaksikan orang lain. Ia telah mempelajari kejujuran mana yang dihargai dan mana yang dihukum, lalu mengatur kesan mentahnya sendiri.
Hal tersebut tidak menjadikan seseorang penipu. Dalam uraian The Vessel, manusia adalah makhluk sosial yang sejak sebelum mengenal bahasa belajar bahwa agar dicintai, dirinya perlu dapat dipahami. Masalahnya bukan keberadaan kostum, melainkan ketika kostum dianggap sebagai tubuh di baliknya. Setelah itu, kostum berikutnya dapat keliru dianggap sebagai keadaan telanjang yang akhirnya benar-benar autentik.
Jeda ketika identitas lama tak lagi pas
Rasa kehilangan arah dapat muncul di tengah pernikahan, setelah karier yang dibangun selama satu dekade, atau pada hari Rabu yang terasa datar. Tidak selalu ada sesuatu yang secara teknis rusak. Meski begitu, seseorang dapat merasa tak lagi menemukan sosok yang selama ini diyakini berada di pusat kehidupannya.
Budaya sering menyebut pengalaman itu krisis. The Vessel menawarkan kemungkinan lain: orang yang merasa tersesat setelah perubahan besar mungkin sedang mengalami kebingungan yang mendahului sesuatu yang lebih jujur, bukan sedang hancur. Kostum lama tidak lagi pas, sedangkan yang baru belum selesai dijahit. Dalam masa telanjang di antara keduanya, pikiran panik dan meraih bahan apa pun yang paling dekat.
Baca juga: Saat Sulit Tidur, Malam Bisa Menjadi Ruang untuk Mendengarkan Diri
Pada saat seperti itu, pasar dapat menawarkan seperangkat identitas baru. Bentuknya antara lain retret, sertifikasi, pola makan, diagnosis, estetika, atau garis spiritual yang dikemas ulang untuk linimasa. Esai tersebut tidak mengatakan bahwa semua pilihan itu tak berguna; sebagian mungkin memberikan manfaat nyata. Namun, semuanya juga dapat menjadi seragam baru bagi diri yang ingin dianggap tidak sedang tampil.
Pertanyaan yang diajukan bukan identitas apa yang harus segera dipilih. Kemungkinan lainnya ialah bertahan sedikit lebih lama dalam jeda yang tidak nyaman, lalu memperhatikan siapa yang ada di sana ketika belum ada keputusan baru.
Sunyi yang tidak menjadi citra
Keheningan pun dapat berubah menjadi gaya. Minimalisme digital, hidup yang lembut, dan puasa dopamin tidak serta-merta keliru. Namun, sunyi dapat dengan cepat menjadi citra yang dikurasi: jeda dari penampilan yang tetap bisa difoto dan dijual.
Sunyi yang dimaksud dalam esai itu lebih sulit dipamerkan. Ia muncul ketika seseorang berhenti menyusun keterangan dalam pikirannya tentang jalan yang sedang ditempuh. Ia juga dapat hadir saat seseorang menyadari sedang berlatih menjelaskan kesendiriannya kepada orang lain, lalu membiarkan latihan tersebut runtuh. Untuk sesaat, tidak ada yang dikurasi, bahkan sikap menahan diri.
Tulisan The Vessel juga membahas penarikan diri dari kehidupan sosial bukan sebagai strategi, melainkan sebagai proses perlahan untuk melepaskan kebiasaan menjadi sosok yang disukai. Hasilnya tidak harus berupa kostum yang lebih benar. Yang mungkin muncul adalah hubungan lebih tenang dengan kenyataan bahwa tidak ada kostum terakhir, dan keadaan itu bukan tragedi.
Untuk menerangkan ruang peralihan, esai tersebut memakai istilah ekologis edge effect, yakni keadaan di batas dua ekosistem, seperti hutan dan padang rumput atau sungai dan tepiannya. Batas itu digambarkan sebagai bagian lanskap yang paling hidup, dengan lebih banyak spesies, pertukaran, dan cuaca. Diri manusia juga disebut paling hidup pada bagian tepinya: tempat identitas warisan bertemu sesuatu yang belum bernama. Bertahan di sana cukup lama dapat membuat seseorang berhenti bertanya sisi mana yang merupakan diri sejati.
Baca juga: Tujuh Kebiasaan yang Kerap Dimiliki Orang yang Menekan Snooze Berkali-kali
Yang tersisa ketika pertunjukan mereda
Ketika seseorang berhenti memainkan diri yang selalu tampil, lalu berhenti pula memainkan penolakan terhadap penampilan, yang tersisa bukan karakter yang lebih autentik. The Vessel menggambarkannya sebagai sesuatu yang lebih menyerupai sikap atau kualitas perhatian. Misalnya, tubuh yang mendengarkan suasana ruangan sebelum memutuskan masuk, atau tangan yang mengetahui seberapa besar tekanan yang dibutuhkan sebongkah tanah liat.
Yang tersisa juga dapat berupa kemampuan tertawa ketika menyadari bahwa kisah penderitaan yang diceritakan kepada diri sendiri selama 20 tahun memiliki koreografinya sendiri. Seseorang tidak harus membuang semua peran. Wajah profesional dapat membantu menjalani rapat, peran orang tua membantu memastikan anak-anak mendapat makanan, dan sikap teman yang mendengarkan dapat menemani seseorang melewati malam sulit. Semua itu bukan kebohongan, melainkan pakaian yang dikenakan makhluk sosial sesuai keadaan.
Yang dapat dilakukan adalah sesekali menyadari bahwa peran itu sedang dikenakan: merasakan jahitannya dan tubuh di balik jahitan. Jika kostum terasa menyatu dengan kulit, tulisan tersebut mengajak untuk melepaskannya perlahan, tanpa drama. Tujuannya bukan menemukan pakaian terakhir yang membuat seseorang selalu memahami dirinya, melainkan menerima bahwa isi lemari berubah karena ia hidup.
Esai itu juga menyebut sisi fisiologis yang mulai diperhatikan ilmu saraf. Jaringan modus default di otak, yang berkaitan dengan cerita tentang diri sendiri, mereda dalam keadaan takjub, fokus mendalam, upacara, dan duka. Pada saat-saat tersebut, orang sering melaporkan merasa lebih menjadi dirinya, bukan kurang. Gambaran yang diberikan ialah bahwa diri yang sibuk memainkan ceritanya sendiri mungkin menghalangi sesuatu yang lebih sederhana: keberadaan, kesadaran, atau makhluk hidup.
Ajakan yang disampaikan tidak menuntut seseorang membakar seluruh kostumnya. Cukup perhatikan satu penampilan kecil yang dapat dibiarkan tidak dilakukan, tanpa menceritakannya kepada siapa pun—termasuk bagian diri yang ingin dipuji karena berhasil berhenti. Diri autentik, menurut penutup The Vessel, bukan tujuan tersembunyi di balik semua peran. Ia hadir dalam diri yang melakukan penampilan, yang mengamatinya, dan yang sesekali melupakan keduanya dalam momen yang tidak perlu disaksikan orang lain.