Desa Wisata Selamanik Ciamis Masuk Enam Besar Destinasi Edutrip Kemenpar

08/10/2026 21:09

CIANJUR.CO - Desa Wisata Selamanik di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, masuk dalam enam desa wisata terpilih yang dipromosikan Kementerian Pariwisata sebagai destinasi wisata edukasi atau edutrip unggulan. Promosi tersebut ditujukan kepada sekolah, dengan tujuan menghubungkan kebutuhan kurikulum pembelajaran dengan pengalaman wisata edukasi yang ditawarkan desa.

Berdasarkan laporan ANTARA Jabar, Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini mengatakan promosi dan pemasaran dilakukan secara langsung kepada para pengambil keputusan di sekolah. Pendekatan itu diharapkan membantu pihak sekolah mengenali produk pembelajaran yang tersedia di desa wisata, sekaligus mempertemukan kebutuhan kurikulum dengan potensi destinasi.

“Melalui promosi dan pemasaran langsung kepada para pengambil keputusan di sekolah, kami berharap tercipta keterhubungan antara kebutuhan kurikulum sekolah dan produk wisata edukasi yang ditawarkan desa wisata,” kata Made dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.

Selain Selamanik, lima desa lain yang masuk daftar promosi Kemenpar adalah Desa Wisata Kreatif Terong di Belitung, Kepulauan Bangka Belitung; Desa Wisata Krebet di Bantul, D.I. Yogyakarta; Desa Wisata Les dan Desa Wisata Sudaji di Buleleng, Bali; serta Desa Wisata Bugisan di Klaten, Jawa Tengah. Dengan demikian, daftar tersebut mencakup enam desa dari sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Selamanik di Ciamis.

Baca juga: Polisi Selidiki Kebakaran Puluhan Kios di Pasar Andir Garut

Pengenalan desa-desa itu diarahkan untuk memperlihatkan bahwa fungsi desa wisata tidak terbatas sebagai tempat rekreasi. Kemenpar ingin memperkenalkan desa wisata sebagai ruang belajar terbuka, tempat siswa dapat mengenal budaya, alam, lingkungan, serta kehidupan masyarakat secara langsung. Pengalaman di lokasi diharapkan melengkapi pembelajaran yang dilakukan di sekolah melalui kegiatan yang bersentuhan dengan kondisi nyata di desa.

Made menilai kesesuaian antara potensi yang dimiliki desa wisata dan kebutuhan kurikulum sekolah menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan daya saing wisata edukasi. Karena itu, pengembangan destinasi tidak hanya berkaitan dengan promosi, tetapi juga dengan kemampuan pengelola menyiapkan pengalaman belajar yang relevan bagi peserta didik.

Kemenpar, menurut informasi yang disampaikan, telah memiliki sejumlah program pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kualitas serta kesiapan desa wisata dalam menerima kunjungan pelajar. Salah satu fokusnya adalah penguatan kurikulum dan pengembangan wisata berbasis pengalaman. Pengelola didorong menyiapkan paket pembelajaran aktif yang dapat dikaitkan dengan mata pelajaran di sekolah.

Bidang pelajaran yang dapat dihubungkan dengan kegiatan di desa wisata antara lain sains, kebudayaan, ilmu sosial, ekologi, hingga kewirausahaan. Dengan rancangan seperti itu, kegiatan kunjungan dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk berekreasi sekaligus belajar dari lingkungan, budaya, aktivitas ekonomi, dan kehidupan masyarakat setempat. Hubungan antara materi sekolah dan kondisi yang dijumpai selama kunjungan menjadi bagian dari konsep edutrip yang dipromosikan.

Baca juga: Pendinginan Kebakaran Pasar Andir Garut Tuntas Pukul 07.00 WIB

Di samping isi pembelajaran, kesiapan destinasi juga mencakup keselamatan peserta. Kemenpar memberi perhatian pada pemenuhan standar keselamatan, termasuk prosedur keselamatan, manajemen risiko, dan kesiapsiagaan yang sesuai dengan kebutuhan rombongan wisata edukasi. Aspek-aspek tersebut menjadi bagian dari upaya agar desa wisata mampu menerima kunjungan pelajar dengan persiapan yang sesuai.

Pengelolaan transaksi turut menjadi perhatian. Kemenpar mendorong skema transaksi yang transparan, antara lain melalui penawaran harga khusus untuk rombongan sekolah. Destinasi juga didorong menyediakan pilihan pembayaran non-tunai. Fasilitas tersebut dimaksudkan untuk memberi kemudahan kepada institusi pendidikan ketika merencanakan perjalanan wisata edukasi, berdampingan dengan penyiapan paket belajar dan standar keselamatan.

“Promosi wisata edukasi dan pemenuhan kualifikasi destinasi merupakan dua pilar utama dalam pengembangan wisata edukasi di desa wisata,” ujar Made. Ia menyatakan, pemenuhan kedua hal tersebut diharapkan membuat desa wisata dapat menjadi mitra pembelajaran yang terpercaya bagi institusi pendidikan. Promosi memperkenalkan pilihan destinasi kepada sekolah, sementara kesiapan dan kualifikasi menjadi bagian dari dukungan terhadap pelaksanaan kunjungan edukatif.

Baca juga: Pemkot Bandung Rancang Sentra Wisata Kuliner di Setiap Kecamatan

Made juga berharap partisipasi dalam kegiatan promosi tersebut memperluas pemanfaatan desa wisata sebagai tujuan wisata edukasi berkelanjutan. Kehadiran wisatawan dari kalangan pelajar diharapkan ikut menciptakan perputaran ekonomi yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat lokal. Ia mengatakan langkah itu sekaligus mendukung kampanye Bangga Berwisata di Indonesia (BBWI) dan mendorong pertumbuhan perjalanan wisatawan nusantara dari segmen pelajar.

Promosi enam desa tersebut berlangsung dalam rangkaian 9th Annual Convention SPK Indonesia 2026, yang diselenggarakan pada 30 September sampai 2 Oktober 2026. Acara itu digelar oleh perkumpulan sekolah yang tergabung dalam Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK) Indonesia. Konvensi tahun ini mengangkat tema “Rooted in Heritage, Empowered by Humanity, Driven by Leadership” dan berlangsung di SIS North East Jakarta (SIS NEJ).

Keikutsertaan dalam kegiatan yang melibatkan perkumpulan sekolah itu memberi ruang bagi desa wisata untuk diperkenalkan kepada institusi pendidikan. Saat ini, tercatat lebih dari 460 sekolah di Indonesia telah terdaftar dalam Perkumpulan Sekolah SPK Indonesia. Jumlah tersebut membuka peluang bagi desa wisata untuk menjangkau segmen wisata edukasi serta membangun kemitraan berkelanjutan dengan institusi pendidikan.